Minggu, 19 September 2021

Manners Matters

Saya tinggal di sebuah gang sempit dekat pasar induk. Ini daerah kumuh, sebenarnya. Kalian akan bisa melihat anak-anak kecil berlarian dengan bekas ingus dan baju kumal. Beberapa diantaranya tidak memakai sandal, termasuk anak saya. Tidak pernah sebelumnya saya bayangkan akan tinggal ditempat yang seperti ini. Namun setelah lima tahun beradaptasi, ternyata jadi anak kampung itu menyenangkan, dengan segala karakter tetangga yang menyebalkan.


Di facebook, saya seringkali bercerita tentang salah satu tetangga yang sangat menyebalkan. Tapi untuk kali ini, saya tidak mau menulis tentang dia. Saya ingin menulis tentang tetangga lainnya. Sebut saja dia Mbak Hindun.


Mbak Hindun usianya lebih tua 3 tahun daripada saya. Sedangkan adik perempuannya, kita sebut saja Mbak Siti, lebih tua setahun daripada saya. Uniknya, meski sekandung, wajah dan perawakan mereka sangat amat berbeda. Seperti di cerita dongeng masa kecil, adik selalu lebih rupawan dari kakak. Dan begitulah adanya. Mbak Hindun bertubuh dempal dengan kulit hitam, sedangkam Mbak Siti langsing mungil berkulit kuning.


Baik mbak siti maupun mbak hindun, sama2 aktif di posyandu. Mereka seringkali menjawab pertanyaan dari bidan puskesmas dengan benar. Mbak hindun kemudian di daulat menjadi kader posyandu, tapi dia menolak. Rupanya dia akan pindah ke perumahan. Tidak lagi menjadi orang kampung.


Ada sesuatu yang mengganjal tentang mbak hindun. Menurut saya orang ini baik, tapi tidak tulus. Dia tidak mau repot2 membantu orang jika tidak diberi upah. Dan lagi, terkadang saya tidak bisa memahami jalan pikiran mbak hindun. Contohnya seperti ini...


Mbak hindun punya anak perempuan. Umurnya 2tahun lebih tua dari anak saya. Anak mbak Hindun, sebut saja namanya Gisel, suka sekali meminta-minta. Dia akan terang-terangan meminta makanan kawannya. Jika tidak diberi, dia akan memaksa. Seperti preman pasar. Padahal mbak Hindun dan suaminya adalah orang-orang pesantren. Terkadang, daripada berebut, saya akan memberi Gisel makanan, jajan, atau apalah yang dia minta. Tapi seperti kucing, rupanya sekali diberi anak itu akan datang dan meminta-minta lagi.


Saya sempat bertanya pada Gisel, mengapa dia suka sekali meminta pada orang lain? Apakah ibunya tidak mengajari bahwa meminta-minta itu tidak baik?


Gisel menjawab, "aku sudah minta sama mama, tapi nggak pernah dikasih. Ya sudah aku minta sama yang lain. Kata mama, kalo dikasih ya nggak papa, diterima aja."


Sepertinya Gisel masih belum memahami perbedaan meminta dan diberi.


Pernah suatu hari budhe suami saya membelikan jajan untuk cucunya. Gisel ada disana dan juga meminta. Budhe tegas menolak Gisel. Dia lalu berkata pada saya,


"Kalau anak itu minta-minta, jangan dikasih. Bukannya kita kejam, tapi biar tidak jadi kebiasaan. Asal kamu tau, si Hindun itu aneh. Aku lihat sendiri, anaknya nangis minta dibelikan jajan, si Hindun melarang. Alasannya nanti batuk. Karena nggak tega, aku belikan anak si Hindun. Eh, si Hindun diam saja. Malah bilang ke anakny, 'kalo dikasih nggak papa'. Loh, kok malah jadi kebiasaan gini!"


Akhirnya setelah tau dengan mata kepala sendiri, saya bisa menyimpulkan bahwa mbak Hindun adalah orang yang pelit. Selain dia tidak akan membantu jika tidak diberi upah, dia juga membiarkan anaknya meminta-minta selama tidak membuatnya keluar uang. Hal ini mungkin di latari perekonomian mbak Hindun yang sangat terbatas. Suaminya hanya bekerja serabutan dan mbak Hindun jualan tela-tela. Ditambah anak perempuannya itu sangat suka makan.


Ada pula kejadian lucu. Waktu itu saya beli tela-tela di mbak hindun sebanyak 3 bungkus. Satu untuk saya, satu untuk ave dan satu untuk byana. Kemudian, Gisel datang dan meminta tela-tela. Saya beri sepotong. Kemudian ia meminta lagi dan lagi, hingga porsi byana habis. Setelah gisel menghabiskan tela-tela byana, ia kemudian hendak meminta punya ave. Tapi ave pelit, sehingga tidak diberinya si Gisel. 


"Mamamu kan jual tela-tela? Kok masih minta punya orang?" Saya bertanya saat itu.


Gisel bilang, "kata mama itu buat dijual. Aku nggak boleh minta terus."


Sungguh sangat disayangkan, anak penjual tela-tela justru tidak bisa menikmati buatan ibunya.


Nah, cukup intermezzonya. Terlalu panjang sepertinya. Masuk ke inti cerita.


Jadi ceritanya, sejak pandemi 2020 saya berjualan es wawan. Saya jual 2000an. Karena harga reseller 1500. Bisa lebih murah dengan minimal pembelian 50 biji. Es wawan saya selalu laris manis. Gisel tidak pernah beli, tapi ia selalu meminta punya kawannya. Dipotong jadi dua. Hal itu kemudian sampai ke telinga mbak Hindun.


"Put, kamu jual es wawan, ya?" Tanya mbak Hindun.


"Iya, mbak, kenapa? Mau beli?"


"Enggak. Kamu kulak dimana?"


Wadidaw. Bagi saya itu pertanyaan yang tidak sopan.


"Kulak di Gebang, mbak" jawab saya berbohong.


"Aku mau jualan juga, ah. Aku jual di perumahan sama di tempat ngaji." 


Saya tersenyum malas. Kenapa nggak beli di saya aja sih, mbak?


Seminggu kemudian, mbak Hindun kembali menghubungi saya. Ia berkata tidak dapat menemukan tempat berjualan es wawan. Hari itu saya lagi baik hati. Akhirnya saya berikan nomor hape orang tempat saya kulakan. Pemiliknya juga orang pesantren, kenal baik dengan suami mbak Hindun. Tapi istrinya juga sepertinya sama pelitnya dengan mbak Hindun. Itu sebab saya lebih suka kulakan ketika sang istri lagi keluar. Sebab lelaki lebih mudah dihadapi. Tak jarang saya diberi bonusan.


Waktu itu saya pikir, barang bisa ditiru tapi tidak dengan rejeki. Jika mbak Hindun mau jualan, silahkan saja. Asal jangan di kampung. Kan dia punya pasar di pengajian, pesnatren dan perumahan. Rupanya, mbak Hindun menerobos teritori. Saya melihat anak-anak kecil berlarian memegang es wawan. Ketika saya tanya, mereka jawab dapat es di Tante Siti, adik mbak Hindun.


Saya diam saja. Malah sengaja posting es wawan terus menerus di medsos. Dengan harga 2000 rupiah. Penjualan online tembus 80 es per hari. Tapi karena stok tidak selalu ada, penjualan saya tersendat. Dan akhirnya beralih jualan yg lain. Ambil es wawan hanya ketika barang ready banyak.


Hari ini, mood saya sedang tidak begitu bagus. Saya melihat mbak Hindun datang membawa es wawan.


"Abis kulak, mbak?" Tanya saya iseng.


"Iya, kulak di tempat yang kamu kasih tau." Jawabnya.


"Mau dijual di kampung sini, mbak?"


Mbak Hindung gelagapan. Salah tingkah. Ia menjawab dengan terbata-bata.


"Eng...enggak kok. Aku jual di perumahan sama di pesantren. Tapi... Anu... Ini... Patungan sama Siti dan istrinya kakakku. Soalnya kan harus beli banyak."


Saya membuat isyarat ber-ooh.


"Ini loh aku barusan nambah dikit, nitip di kulkasnya Siti. Aku jual 1500an."


Oh lagi. Jadi selain mengambil pasar, ia juga menurunkan harga. Baiklah.


Sata membuat ekspresi wajah tidak suka. Dan mbak Hindun makin gelagapan. Merasa ke-gap karena melanggar batas teritori. 


"Aku jualan disini dua ribuan mbak." Jawab saya tegas. Sekaligus penanda agar mbak Hindun tidak melanggar lagi. Ia terlihat gelagapan lalu pamit undur diri.


Masuk rumah, saya tertawa. Saya bahkan sudah berhenti jualan. Saya membeli es wawan saat ini bukan untuk dijual, tapi untuk bonus bagi orang2 yang membeli ms glow yang saya jual. Saya tau ini hal yang jahat untuk menegaskan pada mbak Hindun agar tidak berjualan di pasar saya. Hanya saja saya sedang ingin iseng, apalagi melihat ekspresi salah tingkahnya.


Seandainya mbak Hindun tidak begitu pelit membiarkan anaknya jadi bermental pengemis dan tidak selancang itu meminta info tempat kulakan, serta tidak menjualnya di kampung tempat saya tinggal, mungkin saya akan dengan senang hati berbagi pelanggan dengannya.


Manners really matters.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar