Saya mau membuat resensi buku. Hal yang tidak pernah lagi saya lakukan sejak lulus SMA. Tidak pula ketika kuliah. Nilai bahasa saya C dan tidak saya ulang. Gitu kok kepedean mau masuk sastra.
Buku ini sendiri diterbitkan oleh Mizan dan dibuka Pre Order tepat saat hari kemerdekaan Indonesia. Entah apa pasal. Tapi dari ilmu cocoklogi, mungkin makna yang terdapat dibaliknya adalah : Cika mengajarkan kita untuk mencintai dengan Merdeka.
Pada saat PO, kita disuguhi 4 pilihan paket. Paket 1 berisi buku dengan tanda tangan asli saja. Paket 2 berisi buku bertanda tangan asli dengan bonus poster Ancika dan surat Dilan dari Kuba. Paket ke 3 berisi buku bertanda tangan asli dengan bonus kumpulan surat dari Dilan yang hanya bisa dipesan lewat Tokopedia. Dan paket ke 4 berisi buku bertanda tangan asli dengan bonus kumpulan puisi Dilan untuk Cika yang hanya bisa dipesan lewat Shopee.
Saya memilih paket ke 3 tepat pada 17 Agustus 2021 pukul 9 pagi setelah usai melaksanakan upacara pengibaran bendera di tebing di daerah Sanen Rejo bersama rombongan Vespa dan Mahasiswa Pecinta Alama D3 Fak Ekonomi Universitas Jember.
Baiklah, cukup mukaddimahnya. Inilah buku yang akan saya tulis resensinya.
ANCIKA : DIA YANG BERSAMAKU 1995
Seperti yang kita tahu, novel Dilan laris manis di pasaran beberapa tahun lalu hingga keseluruh novelnya di filmkan. Bahkan ada versi extended. Dan untuk spoiler, saya nyatakan bahwa sepertinya ini adalah seri terakhir dari novel Dilan. Kemungkinan besar tidak ada kelanjutan dari sudut pandang lain lagi.
Sebelum saya lanjutkan, bagi anda yang tidak suka spoiler baiknya melewati postingan ini. Kembali ke beranda. Atau lebih bagus lagi, kembali ke kenyataan bahwa PPKM masih saja diperpanjang cicilannya.
Ancika lebih muda dari Dilan. Mungkin seumur Disa, adik Dilan. Di tahun 1995 dia sudah kelas 3 SMA. Karakter Cika sendiri berbanding terbalik dengan Milea Adnan Husein. Sama2 cantik dan punya banyak penggemar, tapi beda style dan terutama : POLA PIKIR.
Bila Lia digambarkan sebagai sosok yang lovable, feminim, ramah, lembut, dan berambut panjang, maka Cika adalah sosok yang introvert, irit bicara, tegas, pemikir, memiliki harga diri tinggi dan berambut pendek. Pemikirannya cukup dalam dan panjang, terutama untuk anak seusianya. Menariknya, dia tidak tertarik pacaran dan tidak mudah menangis.
Ada satu bagian yang saya suka ketika Dilan pada akhirnya menyatakan perasaan pada Cika. Cewek itu minta waktu untuk berpikir. Bukan karena tidak suka pada Dilan. Justru karena ia merasa amat suka, ia jadi berpikir bagaimana nanti jika mereka putus dan keadaan jadi tidak lagi menyenangkan?
Sesuatu yang tak pernah terpikir oleh Lia, bukan?
Tapi buku ini bukan untuk membandingkan lebih baik mana antara Milea atau Ancika. Bundahara turut berperan penting pada sebuah bab di buku ini. Tentang pesan2 yang ia sampaikan pada Dilan dan Cika. Bahwa masa lalu adalah bagian dari sejarah. Setiap orang berhak untuk tidak menghapusnya. Namun jangan sampai terjebak dalam pusarannya.
Begitupun kata mama Ancika yang ternyata berteman akrab dengan bunda sebelum pensiun, bahwa "Jika dia memang baik untukmu, dia tidak akan jadi mantan". Meski yang dibicarakan Mama Cika saat itu adalah untuk kerabatnya, bukan untuk Lia, tapi cukup relevan.
Dalam buku ini juga ceritanya tidak sedetail novel pertama : Dilan 1990 & 1991. Dialognya tidak banyak. Kebanyakan hanya narasi dari ingatan-ingatan Ancika (yang sebetulnya tidak ingin banyak bicara).
Sosok Cika yang introvert benar2 hanya menceritakan yang seperlunya diceritakan. Untung saja endingnya manis. Cika berpendapat waktu yang akan mengubah segalanya jadi lebih baik. Dan terbukti bahwa sosok Dilan mengalami banyak perubahan ke arah positif. Pun begitu dengan kawan-kawan Cika dan Dilan. Mereka mempertahankan kawan-kawan mereka hingga akhir. Bahkan Anhar pun berdamai dengan Dilan dan juga mengenal Cika.
Selain Anhar, masih ada Burhan dan Remi Moore yang muncul di cerita ini. Juga ada Lia. Mereka akhirnya bertemu dan keadaan tidak jadi panas, meski Cika bisa membaca raut wajah Lia yang masih menyimpan rasa untuk Dilan meski sudah bersuami dan memiliki anak. Tapi Cika tidak peduli, itu urusan Lia.
Dilan masih jadi sosok menyenangkan di buku ini, meski cara pendekatannya berbeda. Tentu saja, sebab Cika dan Lia pun berbeda karatkternya. Dilan yang sudah mahasiswa dan berkesempatan sekolah di Kuba bertemu Fidel Castro juga jadi sosok yang lebih tenang, tidak gegabah dan turut berperan serta dalam reformasi 98. Tapi bagaimanapun, Dilan tetap tidak jauh2 dari urusan bersama polisi.
Jika anda berharap kisah cinta menye-menye, anda akan kecewa. Sebab Ancika tidak menye2. Cika bahkan menyebut Dilan dengan panggilan sayang : Bajingan.
Dan jika anda masih belum bisa move on dari Milea, mungkin anda akan bisa memahami mengapa akhirnya Cika lah yang mendampingi Dilan hingga akhir. Sebab, Cika tidak mengekang. Mereka tumbuh dan berkembang. Apa adanya. Cika bahkan menyatakan bahwa tahun 98 adalah tahun dengan perekonomian tersulit bagi keluarganya. Tapi tidak mengapa, kan masih ada Dilan.
Tentang kecantikan Ancika, sepertinya tidak kalah dari Milea. Jika Milea punya Beni, Nandan, Kang Adi, Yugo dan pak guru sebagai fans nya, Cika juga punya. Ada Bono yang arogan macam Beni, Bagas si anak baik seperti Nandan, Yadit karyawan parlente seperti kang Adi, dan Rusyam si guru bimbel genit. Juga ada kakak tingkat ospek yang mundur setelah tau Cika pacar Dilan.
Senang rasanya tidak ada drama permusuhan di buku ini. Sebaliknya, semua berakhir dengan perdamaian. Dan saya harap, pesan dari Ancika juga bisa membawa kedamaian di hatimu.
Sekian.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar