Kamis, 10 Maret 2022

Rasa Tanpa Banyak Kata

Seorang gadis bermata cembung dan lingkaran hitam dibawahnya, duduk diam mengawasi jalanan dengan sorot mata tajam penuh kemarahan. Hidungnya kembang kempis menahan tangis. Dadanya berdebar kencang, entah efek kurang tidur atau terpacu rasa kesal yang luar biasa. Hapenya terus berdering. Masih dari sebuah nama yang terus memanggil. Lalu dimatikannya dan dimasukkan ke dalam kantung celana.


Dalam diam, dia menyebut berjuta kata sumpah serapah. Cukup dalam hati. Rasanya semua ajaran untuk bersabar dan selalu penuh kasih sudah menguap keluar dari otaknya. Turut pergi bersama semua rumus yang mati matian ia hafalkan semalam suntuk. Bahkan ia relakan bangun di awal pagi demi ujian ini. Nyatanya tetap saja yang namanya ujian terasa sukar. Kini perutnya sudah menjerit karena lupa diisi dari kemarin. Dan nama yang terus memanggil di hapenya masih saja belum bisa mengerti situasi. Semakin membuat frustasi.


Tiba tiba sebuah motor melintas. Kaca helm terbuka. Wajah yang familiar menyapa tanpa kata. Tanpa suara. Seolah sudah memiliki ikatan batin sebelumnya, pria itu tau apa yang harus dilakukannya. Dengan pandangan beribu arti, ia menyodorkan sebuah bungkusan kecil. Gadis itu bergeming, tak mau menatap. Bagaikan menahan bendungan yang hampir jebol, pertahanannya mulai goyah. Berkaca kaca. Perlahan mendekat, si gadis berbisik,


"Jangan membuatku menangis di tempat umum."


"Menangislah. Disini kita orang asing. Tak saling mengenal. Sesaat mereka akan melihat. Mengingat. Sesaat. lalu lupa."


Pandangan gadis masih menerawang menelanjangi jalanan. Sang pria, sebaliknya, memandang lingkaran hitam di mata gadisnya. Perlahan, sang pria menyodorkan bungkusan itu ke tangan si gadis dan berkata,


"Makanlah. Lalu tuntaskan masalah. Aku tau kau takkan bisa berpikir jernih jika perutmu perih."


"Ini bukan hanya soal urusan perut!"


"Lalu?"


Diam. Tak ada kata. Mata sang pria masih bicara. Mata si gadis tetap berkaca kaca. Bungkusan itu masih rapi, belum terbuka. Sang pria kembali menyodorkannya. Bukankah mereka sudah cukup dewasa untuk bisa makan tanpa perlu diminta.


Bunguksan itu terbuka. Si gadis melahapnya. Satu persatu hilang kedalam mulut. Bibirnya tak lagi mengerucut.


"Terimakasih makanannya", kata si gadis pelan.


"Akhirnya kau bisa juga bicara"


"Sudalah. Aku sudah baik baik saja. Lalu apa masalahmu hingga mendatangiku."


"Masalahku ya hanya kau ini, gadis!"


"Eitz, kenapa kau jadi bernada tinggi?"


"Karna kau ini menyebalkan sekali!" Sang pria kini mulai gemas mengacak rambutnya sendiri.


Si gadis merajuk, "Aku memang menyebalkan. Siapa suruh kau menyimpan perasaan. Terimalah keadaan!"


Kembali diam. Tulang rahang mengeras. Tangan terkepal. Sang pria menatap berang. Kali ini si gadis yang tersenyum tenang.


"Sudahlah. Aku tau aku memang menyebalkan. Maafkan kala aku ingin selalu menang."


"Ya benar. Aku memang tak bisa terima keadaan."


"Wajar saja. Jika aku jadi kau, aku pasti takkan bisa terima kenyataan. Kau menyayangiku setulus hati, tapi aku membuangmu saat aku bertemu lainnya."


"Tidak seharusnya aku mengeluh. Sudahlah."


"Ada film yang berkata, rasa sayang ini seperti kuku. Meskipun kau memotongnya berkali kali, tapi tetap akan terus tumbuh."


Pria itu terdiam. Menerawang. Menghembuskan nafas berat dan berusaha menerima keadaan. Gadis memang sungguh menyebalkan, tapi ia juga yang mampu membuatnya bertahan. Tetap tenang.


"Jika rasa sayangmu seperti kuku, maka kasihku ini seperti rambutan.


Aku memberimu kasih semanis rambutan, gadis. Kau memakan buahnya. Kau nikmati manisnya. Tapi kau buang bijinya. Buanglah. Tak apa. Semakin kau semai biji itu ke tanah, maka ia akan tumbuh dengan sendirinya. Semakin lama semakin besar. Hingga ia kembali rindang dan berbuah. Semakin banyak buah yang akan ku berikan padamu nantinya."


Si gadis terdiam. Sang pria terdiam.


"Gadis, rasa sayangmu bolehlah hanya seujung kuku yang terus tumbuh walaupun kupotong. Namun kasihku akan terus berbuah walaupun kau buang."


Siang itu dua siluet manusia terlihat saing mengahadap. Mereka kembali terdiam. Bicara tanpa kata. Tanpa suara.  Mereka tau takkan bisa bersatu. Apa yang bisa di harapkan sebuah amin dari dua iman?


Sorot mata yang berang kembali tenang. Lalu senyuman mulai mengembang. Sebab hanya itu satu-satunya yang bisa diberikan.


Jember, 11 Maret 2014

UPT Bahasa, selepas tes TOEFL.

*Postingan pertamakali di terbitkan di notes facebook