Minggu, 28 April 2024

Farewell My Brother

Mas Piton sudah meninggal. 


Hal ini cukup menggoncang hati saya ketika berusaha terhubung kembali dengannya. Sepele. Karena drama korea Marry My Husband. Pemeran Jo Ji Hyuk tinggi sekali. Mengingatkan saya pada mas Piton. Saat itulah saya kembali membuka profil facebooknya dan melihat postingan terakhirnya berhenti di bulan November tahun 2020. Tentang ganja. 


Berusaha menghubunginya kembali, saya membuka inbox. Membaca chat lama dengannya. Membuat saya malu sendiri. Setiap kata-kata dari mas Piton selalu mengandung kebaikan. Tapi di tahun-tahun itu, saya hanyalah seorang gadis alay dan labil. Tidak bisa mencerna petuah-petuahnya. 


Pesan yang paling sering ia sampaikan adalah, fokuslah menyelesaikan kuliah. Jangan sampai urusan kuliah hancur hanya karena mengejar cinta. Bahkan meski orang yang kamu cinta tidak menghargaimu, masih ada orang lain yang peduli padamu dan menganggap kamu berharga. 


Tahun-tahun berganti. Saya melanjutkan hidup, menemukan cinta baru, menyelesaikan study, bekerja, menikah, menjadi ibu, dan menjadi fulltime housewife hingga detik saya menuliskan blog ini. Di chat saya dan mas piton pun masih terekam jejak digitalnya. Ia terus menanyakan kabar, yang seringnya tidak saya balas. Sudah jadi orang sibuk, katanya. Lalu kemudian percakapan berakhir di tahun 2015. Saya tidak membalas pesannya karena sibuk bekerja dan dia tidak mengirimkan pesan lagi karena tidak mau mengganggu kehidupan saya. 


Membaca chat lama, membuat saya mengingat kembali tentang mas Piton. Kami pertama bertemu di stasiun wonokoromo dalam perjalanan menuju Pantai Pangi, Blitar Selatan sekitar tahun 2006 atau 2007. Tiga jam lamanya saya terjebak berdiri di bordes belakang bersama pria setinggi 190cm. Dia berjaga dibelakang saya. Memastikan saya tidak terjungkal diantara penumpang yang penuh sesak. 


Usai kereta agak lengang, ia mencari tempat untuk saya duduk. Saya kelaparan. Dia membelikan saya keripik yang dijual pedagang asongan di kereta untuk mengganjal perut. Tidak hanya untuk saya. Semuanya ia bagi. Hingga kereta kami tiba dan sampailah kami di pantai Pangi. 


Mas piton tidak ikut tidur di dalam tenda. Berbekal sleeping bag yang menutup hingga bawah hidung, ia tidur di luar. Beralas matras, beratap langit malam penuh bintang. Katanya, ia ngorok, makanya takut mengganggu tidur orang lain. 


Ia tidak mau ikut saat kami susur gua. Baginya, lebih baik mati jatuh dari tebing tapi bisa melihat matahari, daripada mati di dalam gua yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun. Ternyata memang caving itu sulit. Beberapa medan harus ditempuh dengan jalan jongkok. Pasti sulit untuk pria dengan kaki panjang sepertinya. 


Di malam harinya, mas piton sempat membuatkan secangkir milo hangat khusus buatku. Ombak pantai di hadapanku. Langit malam penuh bintang diatasku. Pasir putih lembut dibawahku. Api unggun disampingku. Dan mas Piton memainkan gitar sambil menyanyikan lagu terlalu manis dari Slank di belakangku. Itu lagu slank pertama yang aku tau. 


Sepulang dari Pangi, kami masih beberapa kali berkomunikasi via sms. Aku yang saat itu masih SMA, sering terbangun tengah malam akibat mimpi buruk. Takut di kamar sendirian. Menelfon mas piton adalah solusi. sebab ia nocturnal, terjaga di malam hari dan tidur di siang hari. Ia selalu ada untuk meredakan rasa takut. 


Tapi kemudian mas piton menghilang. Dan hidup terus berlanjut. Tanpa terasa aku lulus SMA dan lanjut jadi mahasiswa di kota rantau. Jatuh cinta pada pria yang salah dan berkali kali patah hati. 


Seperti jailangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar, mas piton tiba-tiba muncul lewat facebook. Kami bertukar kabar via chat. Disitu pula aku menumpahkan segala curhat kegalauanku. Dia, seperti biasa, selalu tenang menghadapiku yang meledak karena rasa takut. Jika waktu SMA aku takut tidur sendiri, maka ketakutanku kali ini adalah aku takut ditinggal sendiri. 


Hingga di pertengahan 2011, kami berjodoh untuk bertemu kembali. Aku sempat menuliskan kemarahanku di sosial media. sebab ibu tidak mengizinkanku camping ke dlundung bersama adik sepupuku. Dan begitulah, mas piton mengajakku bertemu di SMA ku dulu lalu berlanjut ke sebuah tempat bernama Lembah Madu. 


Jika di chat facebook aku lebih banyak bercerita, maka saat kembali bertemu dengan mas piton, aku lebih banyak mendengar ia bercerita. Tentang pernikahannya yang gagal. Tentang perjalanan hidupnya yang kini merantau ke ibukota. Tentang kesukaannya pada komputer dan rencana usaha servis laptop yang dirintisnya bersama teman-temannya. 


Ada beberapa kalimat yang sepertinya menjadi jargon hidupnya. Enjoy The Moment. Monolog Kopi Hitam. Dan yang paling konyol, Mending Loro Ati Timbang Loro Silit. Alias lebih baik menjomblo daripada jadi homo. Haha. 


Dalam perjalanan menuju lembah madu. Ia bilang ini adalah tempat rahasianya. Tak banyak orang yang tau. Lokasinya berada tepat diatas air terjun kakek bodo. Dari titik itu, kita bahkan bisa melihat para wisatawan yang sedang bermain air dibawah kita. Air yang melintasi cerukan bening sedalam 2 meter. Cerukan yang sangat indah. Merayu untuk diselami, namun berbahaya karena jika terseret arusnya maka kita akan terjatuh dari atas air terjun. 


Keindahan memang menghipnotis dan tanpa sadar bisa menyeret kita dalam bahaya. 


Aku sempat kehilangan kontak motor. Namun ajaibnya, seorang pria datang membantu kami menyalakan motor tanpa kunci dan tidak meminta bayaran sepeserpun. Pria itu bilang, ini karena mas piton orang baik. Entah kebaikan apa yang sudah dilakukan mas piton hingga tuhan mengirim malaikatnya untuk membantu kami. Gratis. 


Itu terakhir kalinya kami bertemu. Setelah itu kami hanya bertukar kabar lewat chat facebook dan lama-lama kembali menghilang. Terutama karena aku yang sok sibuk. 


Pada bulan februari 2024, ketika aku berusaha menghubunginya lagi, instingku bergerak untuk mencari tau keadaannya sebab postingannya berhenti di bulan november 2020. Kupikir pada akhirnya dia menikah, punya anak, dan fokus pada keluarga hingga meninggalkan sosial medianya. Tapi sebuah postingan yang bahkan tidak muncul di wall facebooknya membuatku shock. 


Mas piton sudah meninggal. 26 november 2020. 5 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 35. Dalam keadaan syahid akibat virus covid yang mewabah. 


Aku tidak bisa merasakan hal lain selain sesak. Saking sesaknya, air mataku bahkan tidak menemukan jalan untuk keluar. Ia terbendung dalam hati. semakin lama semakin sesak. Dan aku tidak tau harus berbagi rasa sakit ini dengan siapa. Aku harus bercerita dengan siapa. 


Kucoba menghubungi beberapa kawan pecinta alam dari SMA ku. Mereka sudah lupa dengan mas piton. Karena kenangan mereka hanya sebatas pergi ke pantai dengan teman senior yang tingginya 190cm. Kucoba menghubungi seniorku, dan dia bilang kabar itu sudah cukup lama. Sudah lewat 1000 harinya. Seolah kematian mas piton sudah menjadi hal biasa untuknya. Bukan salah seniorku, tentu saja. Ia sudah melanjutkan hidup. Hanya aku saja yang bodoh karena baru tau. 


Rasa sesak penuh sesal itu kubuat untuk mencari tau informasi dari kerabatnya yang bisa ku akses. Tersambung. Kerabatnya memberi informasi tentang tempat dimana mas piton dimakamkan. Rupanya TPU dekat rumahnya. 


Februari menuju april. Hampir dua bulan aku menahan rasa sesak. Untunglah semesta masih mempertemukan kami. Ditemani suamiku, aku mencari nisannya diantara ribuan nisan lain. Kubersihkan kuburnya. Kutaburkan bunga. Kukirim alfatihah tiap hari sebanyak 7x. Entah akan sampai atau tidak, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuknya. Untuk menebus rasa bersalah atas waktu yang hilang. 


Mas piton masih belum menikah. Ia sempat gagal lagi untuk yang kesekian kali. Tapi toh ia tetap menjalani hidup seperti apa adanya. Tetap menebar kebaikan dalam tiap kata-katanya. Tetap menyesap rokok dan kopi hitam. Tetap enjoy the moment. Hingga waktunya tiba. 


Farewell, mas piton. Kini kau telah berkelana hingga ke puncak keabadian. Semoga menemukan bidadarimu disana. We'll be missing you. Always. 


Al fatihah... 








Kamis, 10 Maret 2022

Rasa Tanpa Banyak Kata

Seorang gadis bermata cembung dan lingkaran hitam dibawahnya, duduk diam mengawasi jalanan dengan sorot mata tajam penuh kemarahan. Hidungnya kembang kempis menahan tangis. Dadanya berdebar kencang, entah efek kurang tidur atau terpacu rasa kesal yang luar biasa. Hapenya terus berdering. Masih dari sebuah nama yang terus memanggil. Lalu dimatikannya dan dimasukkan ke dalam kantung celana.


Dalam diam, dia menyebut berjuta kata sumpah serapah. Cukup dalam hati. Rasanya semua ajaran untuk bersabar dan selalu penuh kasih sudah menguap keluar dari otaknya. Turut pergi bersama semua rumus yang mati matian ia hafalkan semalam suntuk. Bahkan ia relakan bangun di awal pagi demi ujian ini. Nyatanya tetap saja yang namanya ujian terasa sukar. Kini perutnya sudah menjerit karena lupa diisi dari kemarin. Dan nama yang terus memanggil di hapenya masih saja belum bisa mengerti situasi. Semakin membuat frustasi.


Tiba tiba sebuah motor melintas. Kaca helm terbuka. Wajah yang familiar menyapa tanpa kata. Tanpa suara. Seolah sudah memiliki ikatan batin sebelumnya, pria itu tau apa yang harus dilakukannya. Dengan pandangan beribu arti, ia menyodorkan sebuah bungkusan kecil. Gadis itu bergeming, tak mau menatap. Bagaikan menahan bendungan yang hampir jebol, pertahanannya mulai goyah. Berkaca kaca. Perlahan mendekat, si gadis berbisik,


"Jangan membuatku menangis di tempat umum."


"Menangislah. Disini kita orang asing. Tak saling mengenal. Sesaat mereka akan melihat. Mengingat. Sesaat. lalu lupa."


Pandangan gadis masih menerawang menelanjangi jalanan. Sang pria, sebaliknya, memandang lingkaran hitam di mata gadisnya. Perlahan, sang pria menyodorkan bungkusan itu ke tangan si gadis dan berkata,


"Makanlah. Lalu tuntaskan masalah. Aku tau kau takkan bisa berpikir jernih jika perutmu perih."


"Ini bukan hanya soal urusan perut!"


"Lalu?"


Diam. Tak ada kata. Mata sang pria masih bicara. Mata si gadis tetap berkaca kaca. Bungkusan itu masih rapi, belum terbuka. Sang pria kembali menyodorkannya. Bukankah mereka sudah cukup dewasa untuk bisa makan tanpa perlu diminta.


Bunguksan itu terbuka. Si gadis melahapnya. Satu persatu hilang kedalam mulut. Bibirnya tak lagi mengerucut.


"Terimakasih makanannya", kata si gadis pelan.


"Akhirnya kau bisa juga bicara"


"Sudalah. Aku sudah baik baik saja. Lalu apa masalahmu hingga mendatangiku."


"Masalahku ya hanya kau ini, gadis!"


"Eitz, kenapa kau jadi bernada tinggi?"


"Karna kau ini menyebalkan sekali!" Sang pria kini mulai gemas mengacak rambutnya sendiri.


Si gadis merajuk, "Aku memang menyebalkan. Siapa suruh kau menyimpan perasaan. Terimalah keadaan!"


Kembali diam. Tulang rahang mengeras. Tangan terkepal. Sang pria menatap berang. Kali ini si gadis yang tersenyum tenang.


"Sudahlah. Aku tau aku memang menyebalkan. Maafkan kala aku ingin selalu menang."


"Ya benar. Aku memang tak bisa terima keadaan."


"Wajar saja. Jika aku jadi kau, aku pasti takkan bisa terima kenyataan. Kau menyayangiku setulus hati, tapi aku membuangmu saat aku bertemu lainnya."


"Tidak seharusnya aku mengeluh. Sudahlah."


"Ada film yang berkata, rasa sayang ini seperti kuku. Meskipun kau memotongnya berkali kali, tapi tetap akan terus tumbuh."


Pria itu terdiam. Menerawang. Menghembuskan nafas berat dan berusaha menerima keadaan. Gadis memang sungguh menyebalkan, tapi ia juga yang mampu membuatnya bertahan. Tetap tenang.


"Jika rasa sayangmu seperti kuku, maka kasihku ini seperti rambutan.


Aku memberimu kasih semanis rambutan, gadis. Kau memakan buahnya. Kau nikmati manisnya. Tapi kau buang bijinya. Buanglah. Tak apa. Semakin kau semai biji itu ke tanah, maka ia akan tumbuh dengan sendirinya. Semakin lama semakin besar. Hingga ia kembali rindang dan berbuah. Semakin banyak buah yang akan ku berikan padamu nantinya."


Si gadis terdiam. Sang pria terdiam.


"Gadis, rasa sayangmu bolehlah hanya seujung kuku yang terus tumbuh walaupun kupotong. Namun kasihku akan terus berbuah walaupun kau buang."


Siang itu dua siluet manusia terlihat saing mengahadap. Mereka kembali terdiam. Bicara tanpa kata. Tanpa suara.  Mereka tau takkan bisa bersatu. Apa yang bisa di harapkan sebuah amin dari dua iman?


Sorot mata yang berang kembali tenang. Lalu senyuman mulai mengembang. Sebab hanya itu satu-satunya yang bisa diberikan.


Jember, 11 Maret 2014

UPT Bahasa, selepas tes TOEFL.

*Postingan pertamakali di terbitkan di notes facebook

Rabu, 17 November 2021

Catatan Perjalanan Jember – Nganjuk – Kediri – Blitar – Lumajang – Jember


Kabar bahagia datang beruntun. Satu per satu, teman-teman memulai hidup baru berumah tangga dengan pilihan hatinya masing-masing. Demi momen sepenting itu, suami saya, Robby, akhirnya mau mengambil cuti. Rencananya kami akan bervespa untuk kondangan di kota orang yang jaraknya lumayan juga dari timur ke barat. Untuk mengenang rute perjalanan menggenapi separuh ibadah itu, akan saya abadikan dalam tulisan ini.

 

Sabtu, 13 November 2021

 

Vespa Mogok Ketika Berangkat

Ba’da ashar, saya dan suami berangkat dari Jember menuju Lumajang untuk menjemput Jali dan Saroh, pasangan penganting yang baru nikah 2 minggu lalu. Mendung hitam sudah menggelayut. Robby memacu PX tahun 82 dengan kencang supaya lekas sampai sebelum hujan turun. Namun, baru saja memasuki daerah Tanggul, tiba-tiba vespa kami mogok dengan bunyi “KRAAAAKKK!!!” keras.

Kami menepi di pinggir jalan. Robby segera membuka tepong kanan tempat mesin berada. Benar saja, kipasnya tidak bisa diputa sama sekali. Ceket. Feeling Robby, sekker nya bermasalah. Sebab memang sekkernya baru saja di kolter 2 minggu yang lalu sebelum ke pernikahan Jali dan Saroh.

Untungnya Robby paham betul dengan kendaraan tua ini. Saat sekkernya dibongkar, ternyata kancingan sekkernya patah dan menyisakan beret yang cukup panjang. Tak cukup sampai disitu, pir sekkernya pun patah seribu. Harus diganti pir dan kancingan yang baru.

Satu vespa sejuta saudara. Ungkapan itu benar adanya. Robby langsung menelfon kawannya di daerah Tanggul. Bantuan datang tak sampai 10menit kemudian. Namanya mas Dadang. Beliau buka usaha bengkel di rumahnya. Meski tidak punya spare part baru, tapi masih ada banyak spare part lama yang bisa digunakan.

Mas Dadang juga bercerita, bahwa ada 3 kawannya yang langsung menelfon saat Robby mengabarkan vespnya mogok di Tanggul. Fian, Viko dan Pak Pri. Ketiga orang itu juga kawan Robby. Suami saya sebisa mungkin menjaga silaturahmi dengan sesama anak vespa. Mogok dimanapun, jam berapapun, jika tidak berhalangan pasti Robby berangkat membantu. Alhamdulillah kebaikan Robby berbuah manis. Kami mendapat bantuan saat dibutuhkan.

Lepas sholat maghrib, kami berpamitan dengan Mas Dadang dan melanjutkan perjalanan ke rumah Jali di Lumajang. Jali masih di bengkel saat kami tiba. Saya menelfon anak-anak sambil menunggu Jali. Rupanya Ave, anak sulung saya yang masih berusia 4tahun, tiba-tiba sakit selepas saya berangkat. Badannya demam dan muntah-muntah. Kartu BPJSnya terbawa oleh saya. Akhirnya saya foto kartu Ave untuk dikirim ke WhatsApp ayah mertua jika sewaktu-waktu Ave harus dibawa ke fasilitas kesehatan.


Durian dari kebun abah dan keisengan kawan lama

Jali datang sekitar pukul 8 malam. Setelah sholat isya, kami melanjutkan perjalanan pukul 9 malam. Jali membawa 3 buah durian yang masak di pohon. Aromanya sungguh menggoda iman.

Dalam perjalanan, vespa kami sempat trouble agak lama. Ditambah hujan yang gerimis agak keras, membuat kami harus berjalan pelan. Kami akhirnya tiba di Probolinggo pukul setengah 11 malam. Mampir di sekretariat PROVEC di pom bensin Pilang. Setibanya disana, hujan turun sangat deras dan berangin. Akhirnya kami menunggu hujan reda sambil makan malam.

Saat makan, saya dikerjain oleh mas Imam. Saya memesan mie goreng, tapi mas Imam malah menyodorkan bihun crispy. Katanya,

Ini mie goreng. Mie nya di goreng. Kalau yang dimakan suamimu itu namanya mie godog. Soalnya masaknya digodog dulu.”

Ya iyalah, Bambaaaang! Yang namanya mie goreng kan tetep di godog dulu -_- tak mau kalah, saya bilang,

Yaudah, aku pesennya mie kecap! Mau digodog mau digoreng pokoknya pake kecap!”

Mas Imam pun membalas dengan tawa menyebalkan.

Pukul setengah satu malam, hujan mulai reda. Kami melanjutkan perjalanan tanpa kendala apapun. Robby sempat berhenti di pom bensin Beji, Pasuruan, untuk isi bensin. Rencananya, kami akan bertemu di daerah Mojokerto dengan Rangga dan Lek Wol.

Kami sampai di Pom Bensin di bypass Mojokerto pukul 3 subuh. Rupanya Rangga dan Lek Wol menunggu di pom bensin yang berbeda. Setelah menunggu agak lama, akhirnya Rangga menyusul ke tempat kami berhenti. Rangga yang awalnya mengantuk, langsung melek ketika melihat durian yang dibawa Jali.


Bertemu Abege Mabuk

Saat kami hendak berangkat, tiba-tiba kami didatangi seorang abege yang berjalan pincang.

“Mas, mau minta tolong. Bantu saya angkat motor saya yang jatuh ke kali.”

Hah? Motor? Jatuh di kali?

Saya sempat suudzon melihat penampilan bocah ini. Ngomongnya seperti melantur dengan mimik wajah seperti orang bangun tidar dan pakaian belepotan. Apakah ini modus penipuan baru? Bisa saja, kan, saat kami mengikutinya kami malah dirampok dan dibegal?

Namun Robby tetaplah Robby, yang nggak tegaan liat orang kesusahan. Diajaknya Lek Wol dan Jali untuk mengikuti anak ini. Sedangkan Rangga beristirahat di pinggir pom sambil merokok melepas kantuk.

Sekitar 15 menit kemudian, Robby, Jali dan Lek Wol kembali sambil tertawa terbahak-bahak.

Anak itu mabuk. Abis minum-minum mau pulang ke rumah. Katanya, pas menggok kemiringan, jadi motornya kecemplung kali! Hahahaha!”

“Eh, tunggu, bau apa ini?”

“Loh, tangannya Jali bau eek!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA

Adzan subuh pun berkumandang. Kami sholat di mushola kecil, lalu mencari rest area untuk makan durian. Sayangnya, tidak ada rest area yang layak di sepanjang Mojokerto – Jombang. Akhirnya kami makan di pelataran teras alfamart yang buka 24 jam di sekitar daerah Peterongan, Jombang. Jali tidak ikut makan. Mungkin karena tangannya bau tai. Sayang sekali kan, durian seenak itu jadi bau tai. Hahahaha.

Jombang dikala subuh sungguh nyaman. Udaranya sejuk dan segar. Mungkin karena Jombang kota beriman, jadi bawaannya adem?

Kami melanjutkan perjalanan selepas subuh. Tidak pakai berhenti-berhenti lagi. Langsung menuju Nganjuk. Pukul setengah 7 pagi, kami sudah masuk kabupaten Nganjuk. Jika dihitung lama perjalanan, maka dari Jember menuju Lumajang hanya butuh waktu 1 jam. Lumajang Probolinggo juga 1 jam. Probolinggo Pasuruan juga 1 jam. Pasuruan Mojokerto 1,5 jam. Mojokerto Jombang 1 jam. Jombang Nganjuk 1 jam. 

"Total perjalanan Jember Nganjuk sekitar 6,5 jam. Yang lama itu istirahatnya."


Kuliner Pecel Tumpang Depan Stasiun Nganjuk

Sampai di Nganjuk, kami sempat berhenti di stasiun Nganjuk dan makan pecel Tumpang. Warung pecel itu sangat ramai. Jadi tidak mungkin tidak enak. Akhirnya kami memesan pecel tumpang dengan lauk tempe menjes dan teh hangat. Itu pertama kalinya saya makan Tumpang, sambal dari tempe busuk yang diberi bumbu sedemikian rupa hingga menjadi ciri khas makanan Mataram-an. Konon sambal Tumpang sudah ada sejak 2 abad lalu di sekitar kerajaan Mataram. Enam porsi pecel tumpang, 20 biji tempe menjes dan 6 gelas teh hangat diberi harga 64 ribu rupiah saja. Sangat murah, kan?

 



Minggu, 14 November 2021


Setelah makan pecel Tumpang, kami menuju rumah Hendrik, mempelai pria, di daerah pasar sapi. Jaraknya tidak sampai 10 menit dari stasiun Nganjuk. Disana sudah ada Tius, Warda (istrinya) dan Aslan (anak mereka yang masih berusia 1 tahun). Mereka tiba tadi malam, berangkat ke Nganjuk naik bus. Para laki-laki langsung tidur setibanya di rumah Hendrik. Sedangkan ketika saya dan Saroh hendak tidur, kami didatangi Mira, istri Hendrik, yang mengajak kami untuk sarapan. Karena tidak enak menolak tuan rumah, akhirnya kami yang barus saja selesai makan harus makan lagi dan jadi batal tidur.

Setelah makan, saya dan Saroh mengobrol ringan dengan Hendrik, Mira, Tius dan Warda. Masing-masing menceritakan tentang awal pertemuan dan saat lamaran. Semuanya memiliki sisi romantis masing-masing.


Anak Vespa itu Romantis - Aveiro

Tius dan Warda selisih 6 tahun. Mereka berasal dari satu desa yang sama di Probolinggo dan rupanya masih bersaudara jauh. Tius anak laki-laki pertama dengan latar belakang keluarga yang demokratis. Sedangkan Warda anak bungsu perempuan satu-satunya dari keluarga yang agak kolot. Hubungan mereka sempat ditentang kedua pihak keluarga, hingga akhirnya saat Warda sakit karena kelelahan bekerja, Tius menemani Warda di dalam kamar kos. Saat itu tiba-tiba kamar Warda digrebek. Kakak Warda datang dan langsung menendang wajah Tius yang tertidur di lantai, sedangkan Warda lemas diatas kasur. Setelah kejadian naas itu, Tius sempat hampir menyerah dan memilih untuk meninggalkan Warda. Hingga tiba-tiba kakak Warda mendatangi Tius untuk menantang kesungguhannya. Tius datang bersama orang tuanya ke rumah Warda untuk berkenalan. Seminggu kemudian, orang tua Tius resmi melamar Warda yang masih baru saja kerja 6 bulan setelah lulus SMA dan akhirnya mereka menikah diusia muda. Warda umur 19tahun dan Tius umur 23tahun. Setahun kemudian lahirlah Aslan.

Sedangkan Hendri dan Mira sendiri berkenalan di Tinder. Hendri bekerja jadi TL di perusahaan rokok di Mojokerto yang kerjanya bareng sama SPG. Mira sendiri asli Mojokerto dan bekerja sebagai bidan. Tapi kalau dilihat dari gayanya, sungguh Mira lebih pantas jadi SPG, LC atau Purel. Hahaha. Mira pun mengakui bahwa banyak sekali orang yang salah sangka mengira dirinya perempuan jalang. Tapi Hendrik bisa menghormatinya seperti perempuan baik-baik dan berani melamarnya meski saat itu keuangan sedang morat-marit. Mira percaya akan ada rejeki setelah menikah, asal mereka mau bekerja dan berusaha.


Ngobrolin Malam Pertama 18++

Setelah ngobrol panjang lebar, Mira mengajak para perempuan ke kamar belakang. Dia membicarakan sesuatu yang amat privat. Masalah Ranjang.

“Mbak, aku masih perawan sampe sekarang, meski aku sudah akad sejak seminggu lalu.”

“loh, kamu lagi mens ta? Kok belum di unboxing?”

“aku nggak mens, mbak. Tapi Hendrik juga masih perjaka. Jadi kita kesulitan berhubunhan seks. Rasanya sakiiiit banget. Baru masuk pucuknya aja udah sakit. Rasa sakitnya masih kuat sampe sekarang.”

"Saya tertawa keras. Bagaimana mungkin Hendri yang kerja dikelilingi SPG dan Mira yang dandanannya mirip LC ternyata masih perawan dan perjaka? Sedangkan Warda yang kelihatannya polos malah berduaan di kamar kosan sebelum nikah! Rupanya memang benar, kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari luarnya saja."

Seks memang masih merupakan hal tabu untuk dibahas. Pendidikan seks di Indonesia masih tergolong rendah. Kebanyakan laki-laki pasti pernah menonton bokep. Mereka kemudian berpikir bahwa seks bisa semudah dan senikmat itu. Padahal untuk melakukan penetrasi pertama kali, haruslah dibarengi foreplay yang cukup lama agar perempuan terangsang dan mengeluarkan lendir yang berfungsi untuk mengurangi rasa perih dan lecet di liang vagina. Hal sesederhana itu rupanya sudah dipraktekkan. Butuh kesabaran dan saling pengertian agar bisa terlaksana dengan lancar.

“Hendrik itu keburu masukin punyanya ke punyaku, mbak. Rasanya sakiiit banget! Pas aku nangis kesakitan, dia batal masukin punyanya. Dia jadi marah-marah sambil mukul-mukul kepalanya. Katanya pusing banget!” keluh Mira.

Untuk bisa foreplay lama, kalian butuh suasana tenang dan rilex, Mir,” ujar saya sok jadi pakar urusan ranjang. “Sekarang keadaannya mungkin masih kurang nyaman. Sebab kalian masih di rumah mertua. Dan baru aja selesai hajatan. Coba nanti, kalau kalian sudah pindah ke rumah kontrakan sendiri, kalian ciptakan suasana romantis biar relaks dan lancar.”

“Gimana caranya, mbak?”

“Kamu punya lilin aromaterapi? Nyalain. Biar kamarnya harumnya menenangkan. Kamu puter musik-musik instrumental saxophone. Kenny G kek, atau Eric Clapton. Terus kamu pijetin suamimu pake minyak zaitun yang harum. Nanti gantian suamimu yang pijetin kamu sambil dirangsang di titik tertentu. Nih, liat contohnya di youtube.”

Saya mengambil hape dan membuka youtube dengan kata kunci ‘how to make a girl squirt’. Warda ikut mengambil hapenya untuk mendengarkan lagu-lagu romantis yang saya sebutkan tadi. Sepertinya dia mau praktek dengan gaya baru. Sedangkan Saroh sudah tertidur. Akhirnya, karena tidak kuat menahan ngantuk, saya menyusul Saroh ke alam mimpi.


Nungguin orang belah duren

Saya terbangun pukul 1 siang. Para lelaki sudah asyik ngobrol di teras. Sedangkan Saroh dan Jali tidak terlihat. Mereka pergi sebentar ke rumah saudara Saroh di dekat situ.

Saroh dan Jali datang selepas ashar. Rencananya kami memang mau menginap di Nganjuk dan melanjutkan perjalanan besok pagi ke nikahan Mul di Kediri. Tapi rupanya jatah cuti Hendrik sudah habis dan dia harus kembali kerja hari senin besok sehingga dia berangkat ke Mojokerto malam ini. Sebagai tuan rumah yang baik, ia lalu menawarkan kami penginapan di Kediri. Karena Tius dan Warda naik bus, akhirnya Hendrik berinisiatif mengantar mereka naik mobil hingga ke Kediri, meski artinya ia harus muter jauh untuk ke Mojokerto.

Sempat Hendrik berkata, “aku agak gelo karena teman-teman yang kuundang banyak yang tidak datang. Kalau teman kuliah sih, aku maklum, karena rumah mereka jauh. Tapi ini teman SMA, teman kerja dan teman vespa Nganjuk juga tidak ada yang datang, padahal dekat. Kan keterlaluan. Sedangkan kalian semua mau jauh-jauh datang kesini dari Jember. Ya masa’ aku nggak mau nganter kalian. Kalo Cuma Nganjuk – Kediri – Mojokerto sih deket, dibanding Probolinggo, Lumajang, apalagi Jember.”

Lagi-lagi aku bersyukur Robby memaksakan diri datang ke Nganjuk hanya untuk menyaksikan momen bahagia Hendrik. Rupanya kedatangan kami ia hargai melebihi uang buwuh yang dititipkan.

Usai mengobrol, sekitar pukul 4 sore kami berkemas. Kami semua sudah siap, tapi Hendrik dan Mira masih belum juga keluar menemui kami. Hingga akhirnya selepas adzan Maghrib, Mira menemui kami di kamar dalam rambut basah.

Mbak,” bisiknya, “Aku udah berhasil ML!!!”

Laaah, jadi selama 2 jam tadi kami nungguin orang Belah Duren ?!!!

 

Ki-ka : hendrik, mira, saya, saroh, warda, tius, lek wol, rangga. Bawah : robby n jali

Berangkat ke Kediri

Setelah sholat Maghrib, kami berangkat ke Kediri dalam keadaan hujan gerimis. Hendrik memesan 2 kamar lewat OYO. Rupanya Mul juga menambahi uang ke Hendrik untuk memesankan 2 kamar lagi untuk kami ber 8.

Lokasi tempat menginap kami di Dhoho Kost, jalan Urip Sumoharjo, depan alfamart. Kamarnya seperti kamar kos biasa dengan 1 bed besar, TV, AC, meja dan kamar mandi dalam. Kamarnya nyaman, meski kecil. Sayangnya hanya tersisa 2 kamar. Saya, Saroh, Warda dan Aslan tidur di satu kamar. Sedangkan kamar satunya untuk 5 orang cowok. Jali dan Rangga ukuran badannya seperti raksasa. Jelas kamar para cowok sangat tidak cukup.

Foto by google


Hendrik sempat terlihat bingung. Ia bahkan tidak jadi pulang sebelum kami mendapat kamar tambahan. Untungnya ada 1 orang yang membatalkan pesanan dan kamarnya langsung dibooking Hendrik. Akhirnya, kami berpisah sampai disitu.

Niat hati, kami ingin berjalan-jalan mengelilingi pusat kota kediri. Tapi karena diluar hujan dan Tius tidak bawa kendaraan, akhirnya kami hanya puas dengan makan nasi goreng di depan penginapan dan langsung pergi tidur. Harga untuk 7 porsi nasi goreng, 7 bungkus kerupuk dan 5 gelas teh hangat sekitar 92 ribu rupiah.

 

Senin, 15 November 2021

Saya bangun pukul 7 pagi. Akad Mul dan Tiyak dilaksanakan pukul 9 pagi. Go car dari penginapan ke tempat akad cukup menguras kantong. 46 ribu rupiah. Robby sempat mengusulkan agar para laki-laki mengantarkan perempuan terlebih dahulu, kemudian kembali lagi untuk menjemput Tius dan Warda. Idenya langsung ditolak Rangga. Akhirnya Robby menelfon Mul dan meminta bantuan agar Tius dan Warda dijemput oleh temannya Mul.


Salah orang, salah jemputan

Jam 8 lebih sedikit, saya, Saroh, Warda, Tius dan Lek Wol memutuskan berjalan kaki menuju alun-alun sambil menunggu kawan Mul datang menjemput. Tiba-tiba Tius disapa seorang lelaki gendut bernama Mas Koko. Dia menawarkan tumpangan untuk Tius dan Warda. Kami pikir, mas Koko adalah kawan Mul yang bertugas menjemput kami. Tapi kenapa hanya bawa 1 motor? Akhirnya, Tius dibonceng Mas Koko ke tempatnya untuk mengambil motor. Sambil menunggu Tius, kami makan Tahu Sumedang dengan sambal rujak yang nikmat di dekat Indomart untuk mengisi perut yang belum sarapan.

Tak lama kemudian, mas Koko menyusul dan mengarahkan kami ke rumahnya. Jujur, kami kebingungan karena ini berbeda dari rencana awal dimana Mul akan mengirim 2 motor tapi yang datang hanya mas Koko dengan 1 motor. Kami nurut saja. Hingga tiba-tiba di tengah jalan menuju warung mas Koko di alun-alun, sebuah nomor asing menelfon Robby. Rupanya itu kawan yang dikirim Mul. Dia sudah tiba di depan penginapan. Eee lhadalah, terus mas Koko ini siapa???

Terjadi missed komunikasi membuat perjalanan agak terlambat. Waktu sudah makin mepet mendekati jam 9 pagi. Tius tiba-tiba harus meeting online. Akhirnya setelah tiba di alun-alun, mas Koko menyerahkan motornya dan mengambil motor lain untuk mengantar kami lewat jalur belakang sebab Tius dan Warda tidak membawa helm. Karena Tius sedang meeting online, jadi dia dibonceng Robby dan saya membonceng Warda.

Kami mengikuti Mas Koko mblusuk ke gang kecil hingga akhirnya melewati Gudang Garam yang katanya luasnya separuh kota kediri. Dalam perjalanan, Warda sempat berkata,

Mbak, dulu kita juga boncengan gini sambil aku gendong anakmu. Sekarang, aku gendong anakku sendiri

Entah kenapa kata-kata Warda bikin saya mbrabak pengen nangis. Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Tau-tau saja anak cantik manja ini juga sudah jadi ibu.


Sampai akad tepat waktu

Untungnya kami datang tepat waktu. Pengantin pria baru saja datang. Kami masih sempat menyaksikan akad. Disaat yang sama, saya menelfon Ave. Ibu mertua bilang bahwa Ave masih demam dan muntah. Sudah dibawa ke dokter dan diberi obat. Sebagai orang tua, tentu saja saya khawatir. Akhirnya Robby mengajak kami pulang duluan meski acara pernikahan belum selesai. Kami sempat berfoto dengan pengantin pria, namun tidak ada foto Tiyak sebab dia masih ganti baju.




Berangkat ke Blitar

Jam setengah 11 siang, kami berpamitan. Rangga dan Lek Wol pulang ke Sidoarjo lewat Jombang. Sedangkan sisanya kami berempat lewat Wates menuju rumah Gibran, saudara sepupu Robby, di Blitar. Selama perjalanan pulang tidak ada trouble lagi. Kami sempat berhenti di Simpang Lima Gumul untuk berfoto. Sayangnya, dari Simpang Lima Gumul menuju Blitar sama sekali tidak ditemukan toko oleh-oleh. Padahal saya berniat membawa tahu kuning untuk ibunya Gibran.

Kami tiba di sebuah tempat antah berantah akibat arahan google maps. Jali mengambil uang di atm BRI. Tiba-tiba seorang bapak-bapak sekitar umur 40an menyapa Robby dan menanyakan hendak kemana. Mungkin beliau anak vespa juga, meski sedang tidak membawa vespa.

Rupanya kami salah jalan. Untuk menuju Blitar, beliau menyuruh kami putar balik menuju candi Penataran. Pesan dari beliau,

“Jangan percaya google maps. Lebih akurat pakai GPS. Gunakan Penduduk Sekitar.”

Nyatanya, google maps memang hanya akurat untuk kota besar, namun tidak berlaku di kota kecil. Yang ada, kami malah nyasar!


Eksotisme Candi Penataran

Kami melewati Candi Penataran. Namun masih ditutup karena pandemi. Akhirnya kami berhenti agak lama untuk berfoto dan juga ngopi. Disana ada 2 patung raksasa berukuran besar yang mirip seperti Jali dan Rangga versi durhaka dikutuk jadi batu.


Rangga n Jali versi Durhaka


Lepas dari candi, kami diguyur hujan rintik-rintik. Kami baru tiba di rumah Gibran sekitar pukul setengah satu siang.

Kami istirahat cukup lama di rumah Gibran di daerah Wlingi. Ibu Gibran menyuguhi kami sate jamur yang nikmat. Beliau juga membawakan kami oleh-oleh sambal pecel khas blitar sebanyak 4kg!

Pukul 4 sore, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Mas Dani, anak vespa Jember yang pindah ke Blitar, di daerah Klemunan. Beliau menyuguhi kami nasi dengan tahu bumbu yang nikmat. Sayang kenikmatannya tidak dapat kami rasakan karena perut kami sudah penuh dengan sate Jamur.

Hujan semakin deras saat kami berpamitan pulang pukul setengah 7 malam. Rencana awal memang kami akan menginap di Blitar. Tapi karena khawatir dengan kondisi Ave, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang langsung ke Jember.

Jam 7 malam kami berangkat menuju Kepanjen, Kab. Malang. Kami melewati daerah Lahor. Disana ada waduk karang kates yang sangat indah di pagi hari. Sayang kami datang pukul 8 malam dan dalam kondisi hujan.


Tragedi Kabel Listrik Putus di Waduk Karang Kates

Baru saja melewati waduk karang kates, tiba-tiba vespa kami terjerat kabel listrik yang jatuh dan membuat vespa yang saya tumpangi langsung ceket tidak bisa jalan diiringi suara BRAAAKKK keras. Kami terjatuh. Saya pikir Jali tertimpa pohon rubuh. Robby berteriak keras, “AWAS KESETRUM!” yang membuat saya langsung loncat dan lari hingga sandal saya terlepas. Kaki saya gemetar ketika menyadari saya bertelanjang kaki yang mengakibatkan resiko kesetrum makin besar. Mobil di belakang kami masih saja hendak menyalip. Robby dan Jali langsung menghentikan mobil, karena kabel masih jatuh melintasi 2 jalur. Takut ada korban lagi seperti kami. Sedangkan suara BRAKKK keras tadi rupanya pagar seng yang jatuh karena kabel yang melintasi pagar itu terseret vespa dan menyebabkan pagar ikut roboh.

Tidak ada SATUPUN orang yang datang menolong kami. Mobil di sebrang kami yang juga kejatuhan kabel hanya membuka kaca jendela dan berkata, “MINGGIR, MAS, BIAR NGGAK MACET!”

HEH ! MAU MINGGIR GIMANA KALO VESPANYA CEKET GAK BISA DIGERAKIN! UDAH NGGAK BANTUIN, MALAH NGOMEL!!!

Jali dan Robby mengurai kabel yang ceket terjerat ban dan knalpot vespa. Setelah kabel terurai, mereka mengamankan kabel putus itu ke trotoar sebrang jalan agar tidak melintasi jalur. Petugas datang terlambat dan diam saja tidak membantu sama sekali. Robby yang masih shock dan gemetar, mengajak kami berhenti di rest area. Alhamdulillah, kami masih selamat dari maut. Hanya saja yang saya sesalkan, mengapa orang-orang tidak ada satupun yang membantu kami? Padahal kami tidak pernah menolak membantu orang. Abege mabuk yang motornya kecemplung di kali aja kami tolong sampe ikut nyemplung kali!

Dari sini saya menyadari bahwa saya terlalu pamrih dalam menolong orang. Mungkin Allah sedang menegur saya dengan memberi kenyataan pahit bahwa tidak semua manusia memiliki sisi kemanusiaan dengan menolong orang asing yang gembel seperti kami.


Tertusuk Perkataan Adik

Setelah beristirahat kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke Kepanjen. Menemui adik saya, Lila. Ketika saya menceritakan kejadian tadi, adik saya hanya mengelus dada.

Lagian mbak tuh kenapa sih kok sukanya naik vespa? Ya gimana mama nggak ngomel kalo tau mbak kayak gini? Kebiasaan mbak sama mas Robby tuh beda sama keluarga kita!

Kata-kata adik saya cukup menusuk hati. Saya tau adik saya tidak bermaksud menghina. Hanya saja , muncul rasa sakit dalam hati saya.

Selama ini saya selalu merasa jadi anak yang gagal. Tidak bisa menjadi apa yang bapak dan ibu saya harapkan. Saya tidak menjadi wanita karir. Hanya ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan. Saya tidak punya rumah di perumahan. Rumah saya hanya di gang kecil kumuh dekat pasar induk. Juga tidak punya mobil. Jauh berbeda dengan teman-teman sepermainan saya di rumah yang saat ini sudah sukses. Sedangkan kawan-kawan saya saat ini malah anak vespa yang terkesan gembel. Tapi saya bahagia. Mereka adalah orang tulus yang selalu ada saat kami membutuhkan bantuan. Apakah saya egois karena merasa cukup?

Pukul 9 malam, Robby mengajak saya melanjutkan perjalanan. Diluar masih hujan gerimis. Di dalam, hati saya diliputi badai yang miris. Saya menahan diri untuk tidak menangis. Hingga di daerah Dampit ketika suami saya menegur karena saya mermas perutnya kencang saat ia hampir saja menabrak mobil di tikungan, akhirnya tangis saya pecah dalam diam.


Badai dalam Hati

Saya menangis. Menyesali kenapa saya lahir. Kenapa saya tidak bisa jadi kebanggaan orang tua. Kenapa saya egois memilih jadi anak vespa yang terkesan gembel. Kenapa saya tidak pernah bisa memenuhi harapan orang tua. Kenapa saya membuat suami saya marah. Dan kenapa-kenapa lainnya.

Dalam badai kesedihan itu, ditengah malam, di jalur yang dingin dan berliku, saya berusaha bicara dengan Allah. Meminta maaf atas semua kekecewaan yang saya beri untuk orang tua saya. Untuk suami saya. Untuk anak-anak saya yang sedang sakit ketika saya pergi. Saya adalah seburuk-buruknya hamba yang sombong karena merasa baik ketika menolong orang. Padahal masih terselip ghibah di setiap ucapan. Sungguh Allah maha pembolak balik hati. Semoga saya diberi kesempatan untuk membahagiakan keluarga sebelum tiada. Dan semoga kami selalu dilindungi, diberi kecukupan, kemudahan dan keberkahan hingga meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah.

Tangis saya mereda. Pantat terasa panas. Kami berhenti di pom bensin pronojiwo. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami beristirahat sambil memesan kopi susu hangat. Saya butuh mengisi tenaga setelah lama menangis, sepanjang Dampit hingga Ampelgading.

Pukul 12 malam, kami melanjutkan perjalanan menuju piket nol. Ada bekas longsor disebelah kiri jalan. Mengingat kejadian kabel listrik di waduk Karang Kates dan tangisan saya sepanjang Dampit hingga Ampel Gading, saya jadi merasa ketakutan melewati longsoran di piket nol. Takut kena longsor. Takut kejatuhan pohon tumbang. Takut meninggal sebelum sempat membahagiakan orang tua dan bertemu anak-anak.

Gambar dr google. Piket nol siang hari. Bisa bayangin gimana kalo pas malem n hujan?


Alhamdulillah, perjalanan lancar hingga tiba di Candipuro. Roby sudah tidak kuat. Dia meminta kami untuk menginap di rumah Saroh di daerah Pasru Jambe. Dari Candipuro ke PasruJambe, kami akan melewati hutan pinus yang cukup panjang. Seolah piket nol belum cukup menyeramkan, kami masih saja harus melewati hutan. Saya pasrah.

Jali tiba-tiba berhenti dan berbalik sekitar 5 menit setelah masuk hutan. Saya pikir ia melihat hantu. Rupanya vespanya brebet. Bensinnya habis. 

"Alamak, bensin habis di tengah hutan rupanya lebih menyeramkan dari Jin!"

Karena tidak ada pom bensin dan warung yang buka, akhirnya Roby merelakan separuh tangki bensinnya untuk disedot ke vespa Jali. Perjalanan lancar jaya. Detik-detik itu, untuk pertama kalinya saya melihat lahar panas Mahameru yang berpijar kemerahan ditengah langit yang gelap. Subhanallah, sungguh indah. Hal-hal macam inilah yang membuat saya selalu bersyukur dalam perjalanan menggunakan vespa.

Foto by google


Kami tiba di Pasru Jambe pukul setengah 2 malam. Saroh memasak air panas untuk mandi, makan mie, lalu tidur dengan pulas. Tangan Saroh sempat ketumpahan air mendidih. Dengan cekatan, Saroh menaburkan bubuk kopi di tangannya lalu membalurkan lethek kopi seperti luluran.

Keesokan paginya ketika bangun tidur, tangan Saroh yang tersiram air panas tidak melepuh sama sekali. Sungguh Kopi memiliki manfaat setara Bio Placenton!

 

Selasa, 16 November 2021

Saya bangun pukul 9 siang. Tidak sholat subuh karena ternyata saya mens. Mungkin badai di hati saya semalam akibat dari perubahan hormon.

Pukul setengah 11 siang, saya dan suami berpamitan pulang setelah sebelumnya mandi dan sarapan. Saya memberi ibu Saroh sebungkus bumbu pecel yang kemudian dibalas dengan memberi saya 2 buah durian dan 5 biji jagung manis hasil panen di kebun. Alhamdulillah, sekali lagi saya ucapkan karena masih diberi kenikmatan berupa kawan yang baik dan makanan nikmat.


Menikmati pastel Jatiroto di rest area pom bensin Sumber baru

Jam 12 siang, kami sampai di Jatiroto. Akhirnya saya berkesempatan lewat sana siang hari untuk menikmati pastel Jatiroto yang terkenal nikmat. Harga per bijinya 8500 rupiah. Biasanya pukul 4 sore, pastel sudah habis dan tutup.



Baru saja usai menikmati pastel di pom bensin Sumber Baru, hujan langsung datang mengguyur. Kami melanjutkan perjalanan dengan jas hujan. Lucunya, hujan berhenti ketika kami tiba di Bangsal. Dan kembali turun tepat di gang depan rumah wetan pasar.


Tiba di rumah

Akhirnya, kami tiba di rumah dengan selamat sekitar pukul setengah 2 siang. Hujan kami nikmati bersama anak-anak dan ayah ibu mertua sambil makan duren dan Jasuke hangat. Ave, ajaibnya, langsung sembuh ketika kami tiba. Badannya sudah tidak panas dan juga tidak muntah-muntah.

Mungkinkah Ave hanya terserang penyakit rindu? Sebab saya juga merindukannya dengan sangat!





Jumat, 22 Oktober 2021

Jejak Digital Itu Kejam

 Saya tidak tau apakah suatu saat nanti saya akan menjadi sosok yang bisa bermanfaat untuk dunia atau tidak. Tapi jika iya, maka foto2 dan tulisan2 lama saya pasti akan diubek2 sama netijen. Jadi sekalian saja saya post disini foto2 aib saya jaman dulu. Kalo kangen tinggal tengok, ternyata saya pernah imut2 sebelum akhirnya menjadi amit2.


Ini jaman alay 




Perubahan dari tahun ke tahun


2021. 68kg. Dg model rambut berbeda.


Padahal posenya sama, tapi kenapa hasilnya bisa beda bgt gitu ya? Ternyata berat badan dan usia tidak bisa mengelabui kamera.

Minggu, 10 Oktober 2021

Catatan Perjalanan Jember - Probolinggo via Gunung Gambir

Perjalanan ini kami lakukan setahun yang lalu. Namun karena tidak sempat, akhirnya saya baru bisa menuliskannya hari ini, sekaligus mengenang perjalanan setahun lalu. Jember Probolinggo via Gunung Gambir.

Hari itu libur panjang. Suami saya mengambil cuti 3 hari. Rencananya kami akan melakukan road trip bersama TEAM PIKNIK VESPA dari Jember menuju Ranu Agung di Probolinggo, melanjutkan wisata ke pantai di kawasan Utama Raya jalur Pantura, dan pulang ke Jember melalui arak-arak. Jika dilihat di peta, rute kami memutar mengelilingi kaki pegunungan Hyang Argopuro yang memang berada di 5 Kabupaten (dulunya 4), yakni Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan terakhir sekaligus terbaru : Lumajang.

Dari kota Jember menuju Probolinggo, orang biasa menggunakan jalan nasional yang melewati kota Lumajang dan memakan waktu kurang lebih 3 jam hingga tiba di Probolinggo jika todak macet. Dari kota Probolinggo menuju Ranu Agung memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sehingga total perjalanan dari Jember menuju Ranu Agung akan memakan waktu kurang lebih 4,5 jam. Namun bila dilihat via Google Maps, jarak tempuh yang cukup panjang ini bisa dipangkas dengan melewati kawasan Gunung Gambir yang hanya butuh waktu kurang lebih 2,5 jam.

Gunung Gambir sendiri adalah sebuah kawasan perkebunan kopi yang dikelola oleh PTPN XII. Terletak di lereng selatan pegunungan Hyang Argopuro yang sekaligus menjadi perbatasan dari 3 kabupaten : Sumberbaru (Jember), Jatiroto (Lumajang) dan  Tiris (Probolinggo). Sejak Lumajang mengklaim Gunung Gambir menjadi daerah wisata karena juga melewati sedikit wilayah Jatiroto, maka batas pegunungan Hyang pun bertambah di satu kabupaten lagi.

Rencananya, kami akan bervespa melalui jalur Gunung Gambir yang tidak umum dilalui kendaraan. Tapi, rencana hanyalah rencana. Kenyataan kadang tak seindah ekspektasi. Dan inilah kenyataannya...


Kamis, 29 Oktober 2020

Semalam tadi suami saya sudah mempersiapkan mesin tempur dan saya berkemas. Kami juga mempelajari jalur lewat youtube, tapi tidak ada yang menginformasikan lama tempuh perjalanannya. Lepas subuh, saya langsung membereskan rumah dan memandikan anak-anak. Pukul 7 pagi tepat, saya sudah tiba di kedai kopi Armor milik mas Blendes. Saya membawa roti goreng untuk pengganjal lapar, karena kami berencana akan brunch di gunung gambir sambil menikmati pemandangan. Rencananya memang kami akan berangkat dari Armor pukul tujuh pagi. 


doc pribadi


Ternyata Mas Blendes masih belum selesai masak. Akhirnya keluarga kecil kami berangkat terlebih dahulu ke rumah mas Imron di Rambipuji. Untunglah mbak Iim, istri mas Imron, masih sempat masak. Saya menyuapi anak-anak saya. Anak harus tetap dalam keadaan kenyang agar tidak rewel dan masuk angin. Kalau orang tuanya sih, bodo amat. Udah terlatih dari makan air ama kerupuk doank buat ganjel lapar dari jaman ngekos. Hehehe. 

Pukul 9, mas Blendes datang bersama rombongan. Manusia satu ini adalah orang yang paling cerewet kalau piknik. Perbekalannya nggak main-main. Kalau perlu, satu indomart dibawa semua. Bisa dibayangkan jaman dia dulu masih jadi mapala, mungkin kerilnya udah mirip kulkas 2 pintu!

Yang datang paling akhir adalah Pak Erik. Sekitar pukul sepuluh. Tapi kemudian vespanya dibawa keluar oleh istrinya, entah kemana. Dan Tante Nana, istri pak Erik, baru kembali pukul sebelas siang. Untunglah anak-anak sudah sarapan. Cuma daddynya yang tetep keukeuh tidak mau makan.

Daftar peserta rombongan :

Saya, Robby (suami saya), Ave, Byana (anak-anak saya) 

Mas Blendes, Cetar (istri Blendes)

Mas Imron, Mbak Iim

Pak Tut, Mbak Liva (istri Pak Tut), Syifa (anak Pak Tut)

Pak Erik, Tante Nana

Bli, Ojan (Anak Buah Blendes)

2 orang Anak Buah Blendes yang saya lupa namanya

Terakhir, ada Ade yang jok belakangnya selalu kosong sehingga diisi BOX makanan beku.

Rencananya, kawan saya yang bernama Jali akan berangkat langsung dari Lumajang dan bertemu di Sumber Baru. Sedangkan Tius, kawan saya yang orang probolinggo, sudah menyiapkan tempat menginap disana.

Total ada 19 orang dengan 9 vespa.


Start berangkat dari rumah Mas Imron, Rambipuji, pukul 11.00, masih kena mogok

Dari Jember ke Gunung Gambir hanya butuh waktu 1,5 jam. Dalam catatan, jika tidak ada trouble sama sekali. Berhubung kami adalah rombongan vespa, tentu saja tidak ada cerita jika tidak mogok. Sepanjang perjalanan dari Rambipuji menuju Tanggul, vespa yang saya naiki trobel, padahal semalam sudah dipersiapkan dengan baik. Setiap kali di gas agak banter, tiba-tiba saja gasnya hilang. Beberapa kali kami berhenti untuk benerin vespa. Busi sudah di cek dan kelistrikan aman. Suami saya sempat menduga ini karena sekernya ceket sampai-sampai beberapa kali membuka blok kop. 


Pom Bensin terakhir Tanggul, isi full tank 30ribu

Pom bensin terakhir ada di daerah Tanggul. Semua vespa isi bensin disini. Sebisa mungkin diisi full tank, sebab tidak ada pom bensin lagi sampai daerah tujuan. Di pusat kecamatan Tiris juga tidak ada pom. Satu-satunya pom bensin yang bisa ditemui setelah Tanggul hanya Pom Bensin di kecamatan Banyuanyar. Itupun baru berdiri di tahun 2019, sekaligus menjadi satu-satunya pom bensin harapan yang mencukupi kebutuhan bahan bakar di 5 kecamatan di kabupaten Probolinggo, yaitu Banyu Anyar, Maron, Gading, Tiris dan Krucil. 

Yang paling parah si Ade. Sebab dia masih mahasiswa, dia bilang, "Mbak, tau gak, uang yang aku bawa cuma tinggal tiga puluh ribu. Tapi bensinku udah full tank. Enggak tau deh gimana nanti nasibku kalo ban bocor di jalan."

Saya cuma tertawa, "Tenang, De, aku ada ban serep. Stok makanan aman sampe 3 hari. Selama pom bensin buka, kita punya tempat buat tidur."

Saya senang menjadi mahasiswa. Mereka tidak ada tanggungan selain skripsi. Modal 30ribu rupiah saja sudah bisa touring, asal punya kebranian, niat dan kawan. Sesama scooterist tidak akan meninggalkan kawannya dalam keadaan susah.


Pukul 12.00, Vespa baru bisa berjalan lancar gara-gara ganti busi

Rambipuji - Tanggul yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, molor menjadi 1 jam karena vespa saya masih saja trobel. Belum ditemukan penyakitnya. Hingga adzan dhuhur berkumandang, kami baru saja keluar dari pom bensin terakhir di Tanggul. Lurus terus setelah pom ada pertigaan. Belok kiri ke arah jalan nasional, lurus terus ke arah sumber baru. Kami ambil lurus.

Di Sumber Baru, mas Blendes sudah tidak tahan lagi. Masakan yang niatnya akan kami nikmati di Gunung Gambir sambil menikmati suasana, akhirya malah dimakan di pinggir jalan. Bertepatan dengan ditemukannya penyakit vespa saya : BUSI KEIRITAN. Busi yang sehat akan berwarna bata. Jika busimu kotor, warnanya akan hitam berjelaga. Sedangkan jika busimu terlalu irit, warnanya akan jadi putih seperti abu. Kalau untuk perjalanan dalam kota, busi irit tidak mengapa, toh nggak dipakai kebut-kebutan. Tapi kalau dipakai perjalanan keluar kota dengan kecepatan buroq, jangan lupa untuk menyetting busi mu sedikit lebih boros, supaya tidak mogok!


Mas Blendes dan Bli lagi gila


Makan siang usai bertepatan dengan menyalanya vespa. Suami saya masih tidak mau makan. Jali sudah berkali-kali menelfon, kelamaan nungguin kami di sumber baru sampai kering kayak jemuran. Vespa saya melaju kencang tanpa kehilangan gas. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di pertigaan sumber baru dengan Jali yang ngambek di balai bambu. Hahaha.

Pertigaan sumber baru adalah titik penting berikutnya. Jika mengikuti aspal, akan tembus ke Jatiroto Lumajang. Ambil arah serong kanan sedikit, tapi bukan potong bebek angsa. Ada penunjuk jalan Gunung Gambir disitu, tapi saking kecilnya jadi tidak kelihatan.

Perjalanan amat lancar. Tak sampi setengah jam, kami sampai memasuki pintu masuk Gunung Gambir. Jalannya mulus beraspal. Sebelumnya, jalanan menuju gunung gambir sangat buruk, hancur dan penuh lubang. Namun di era kepemimpinan Bupati Faida, jalan diperbaiki hingga menunjang wisata kesana. Setidaknya, masih ada hal baik yang diberikan mantan bupati perempuan pertama jember berhidung mancung itu.


Pak Erik, yang paling sepuh diantara kami


Harga tiket 10.000/orang, Jali minta gratis

Di pintu masuk Gunung Gambir, kami dicegat petugas loket. Masuk kawasan wisata harus membayar tiket sebesar 10.000/orang dan 2.000/kendaraan. Jali, yang dikenal sebagai 'Guardian of Lumajang', turun tangan. Ia merayu petugas loket.

wongjember.com


"Pak, kami nggak mau berwisata. Kami cuma mau numpang lewat. Mau ke Probolinggo." kata Jali.

"Mau ke Probolinggo kok lewat sini? Ya sana lewat Lumajang!" jawab petugas.

"Awuh nemen leeek, cuma numpang lewat aja disuruh bayar."

"Ya wes tak korting jadi 5ribu per sepeda!"

mendengar hal itu, Mas Blendes sudah merogoh kantong. Hendak mengambil selembar uang berwarna biru. Tapi Jali menahannya.

"Awuh nemen leeek, kami cuma numpang lewat mau ke Tiris, Pak. Nggak mau berwisata. Nggak mau berhenti. Apa ya mobil pengangkut teh disini juga disuruh bayar tiap lewat?"

"Ya beda, itu kan buat ngangkut teh."

"Ya sama aja, Pak. Kami juga ngangkut teh di dalem box. Buat dibawa ke Tiris. Cuma lewat aja, Pak. Boleh, ya?"

Petugas terlihat sebal. Ia kemudian mengambil HT nya dan melapor, "Cek cek, ada rombongan vespa masuk 9 sepeda, mau lewat ke Tiris. Jangan dikasih parkir. Kalau berhenti buat foto di area wisata suruh bayar. Ganti."

Kami tersenyum lebar mendengar negosiasi Jali. Berterimakasih banyak ke petugas loket berkumis tebal yang akhirnya membukakan portal. Tapi senyum kami harus berhenti ketika jalanan beraspal berganti makadam berbatu.


Pesona Gunung Gambir

Ada beberapa spot wisata di Gunung Gambir. Yang paling banyak dikunjungi adalah Jembatan Gantung dan Area Selfie. Lokasinya tidak jauh dari tempat parkir. Juga ada banyak warung yang tersedia di sepanjang jalan.


sumber : detik.com



sumber : dowes29.com



sumber : gotravelly.com


Komoditi utama perkebunan Gunung Gambir memang teh. Namun disini juga didirikan pabrik kopi, selain pabrik teh tentunya. Sayangnya pabrik kopi disini sudah berhenti beroperasi di sekitar tahun 2004, menyusul kemudian pabrik teh nya juga ikut ditutup di tahun 2006. Selain pabrik, ada juga Villa lengkap dengan kolam renangnya yang disewakan. Namun untuk menuju Villa dari pintu masuk gunung gambir membutuhkan effort yang cukup keras, sebab jarak yang ditemouh cukup jauh dengan jalur terjal berbatu makadam. 


kolam renang di bawah Villa, doc google



puing pabrik teh di samping Villa, doc pribadi 2019



villa gn gambir, doc : google

Tapi sayangnyaaaa, perjalanan kami tidak melewati villa dan pabrik teh. Karena kami akan dipisahkan, lagi-lagi oleh persimpangan. Huhuhu. Tapi bukan berarti perjalanan tidak seru, loh. Karena di sepanjang jalan berbatu gunung gambir yang makadam, kami sempat melewati Pancuran Derajat dan Air terjun Rengganis.

Jali dan vespa

pancuran Derajat

Menurut klaim, air dari Pancuran Derajat dapat membuat orang awet muda, lancar rejeki, dan hilang penyakitnya. Pak Erik dan Tante Nana menyempatlan diri berwudhu di pancuran ini dan melaksanakan sholat dhuhur di gubuk dekat pancuran. Usai sholat, saya menanyakan efek air itu di tante Nana. Apakah benar ada perubahan yang dirasakan oleh tante Nana sesuai claim?

"Ya namanya aja air sumber dari gunung, kak, ya pasti segar lah. Orang lagi pusing sumpek banyak kerjaan, diajak main kesini, cuci muka, ya jelas pasti fresh. Stres hilang. Stres kan juga penyakit. Kalo penyakit hilang, orang akan lebih bahagia, jadi awet muda. Terus kalo uda sehat, bisa cari uang dan lancar rejeki." kata tante Nana.

"Jadi kesimpulannya?" tanya saya.

"Kesimpulannya, kalo mau sehat, awet muda dan lancar rejeki, jangan ninggal sholat. Minta itu ke Allah, bukan ke pancuran. Satu lagi, jangan lupa PIKNIK!"

Hahaha.


Sholat Ashar Tepat Waktu di Kampung Pekerja

Perjalanan masih penuh makadam. Rintik hujan akhirnya turun memperparah keadaan. Kami akhirnya tiba di persimpangan. Jika lurus, akan menuju Villa dan pabrik teh. Belok kanan, akan tembus ke perkebunan Andung Biru afdeling Lawang Kedaton, Tiris. Persimpangan ini ditandai dengan adanya patung perempuan cantik yang diduga melambangkan Dewi Rengganis, sang putri legenda pegunungan Argopuro. Karena hujan semakin deras dan kami membawa 3 balita, maka kami memutuskan untuk berhenti ketika melihat rumah pekerja setempat.

Rumah pekerja itu hanya terdiri tidak sampai 10 KK dengan satu sekolah dasar. Ada pula 1 masjid yang langsung mengumandangkan adzan ketika kami tiba. Para emak-emak memutuskan mengambil air wudhu dan menjama' sholat di masjid, sebab di gubuk tadi tidak ada yang sholat selain pak Erik dan Tante Nana. Selain itu kami berdoa agar perjalanan dilancarkan, sebab kami membawa 3 balita dan hari semakin sore. Tak lama kemudian hujan pun berhenti.

Di depan masjid ada penjual cilok. Dalam suasana dingin dan berkabut, cilok menjadi pengganjal lapar. Suami saya tetap masih tidak mau makan.




Saya dan Byana yang masih 1,5th


Naik Mobil Pengangkut Teh sampai Andungbiru, kena 150ribu

Ketika kami akan berangkat, tiba-tiba hijan turun lagi. Hanya rintik gerimis, namun tetap saja basah. Tiba-tiba datanglah sebuah mobil pengangkut teh. Mas Blendes mencegatnya dan sedikit melakukan negosiasi. Kami mendapat harga carter pickup sampai Andung Biru sebesar 150 ribu.

"Emak-emak dan anak-anak, nanti naik mobil pickup, ya. Bapak-bapak biar nyetir sampe Andung Biru." kata Mas Blendes.

"Loh, mas, nggakpapa ta? Aku nggak tega." sahutku.

"Justru lebih kasian kalo bapak-bapak harus nggonceng emak-emak. Jalannya tambah lama tambah nanjak ini. Mana ujan. Licin batunya, bikin kepleset."

Akhirya setelah menurunkan teh, pickup kembali untuk mengangkut perempuan dan anak-anak. Untuk penutupnya, bapak-bapak berkreasi dari jas hujan. Jadi seperti bivak ponco. Saat itu saya merasa seperti Rose Duwwit yang harus naik sekoci dan terpisah dari Jack Dawson saat Titanic tenggelam.


doc pribadi

Perjalanan seketika lancar jaya. Balita-balita kami tertawa gembira. Tidak ada yang rewel. Syifa dan Ave bahkan menerobos atap dari jas hujan agar bisa melihat pemandangan. Ketika sampai di puncak gunung Gambir, kami bisa melihat kemegahan gunung Lemongan di sebelah kiri. Bahkan Ranu Bedali juga terlihat. Sungguh indah.


Pukul 16.00, Sampai di Andung Biru

Ada sebuah gapura perbatasan antara Jember dan Probolinggo. Gapura itu adalah Lawang Kedaton. Namun gapura itu berdiri dalam keadaan patah tepat di bagiah tengah. Selain itu jembatan yang membawa ke gapura sudah ambruk. Pickup yang kami tumpangi melewati jalan memutar 180 derajat lalu menanjak. Kami sudah sampai di batas kabupaten probolinggo dan masih tidak ada kehidupan.

Di sisi lain, saya tidak melihat suami saya dan rombongan vespa lainnya. Mereka tertinggal jauh di belakang. Saya khawatir, tapi pikiran buruk itu harus ditepis jauh. Cara enolong satu-satunya hanyalah berdoa.

Jalanan akhirnya berubah menjadi aspal berlubang. Kami melewati portal dan akirnya tiba di Perkebunan  Teh Andung Biru, Tiris, Probolinggo.




Perempuan dan anak-anak beristirahat di sebuah pos yang agak luas, menanti kedatangan para lelaki. Sekitar setengah jam kemudian, para bapak-bapak akhirnya datang juga. Hal pertama yang mereka lakukan setelah tiba adalah mengecek tangki bensin. Masih aman. Sangat aman malah.

Kami beristirahat cukup lama disini. Sinyal datang dan pergi. KAdang ada pesan WA yang masuk, tapi kadang sudah tidak bisa mengirim apapun. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Jika dihitung estimasi waktu, anggap saja kami berangkat pukul 12 siang karena jam segitulah kami baru bisa berjalan lancar tanpa mogok, berarti lama perjalanan dari Jember ke Andung Biru adalah 4 jam. Dan dari sinyal yang datang tenggelam itu, perjalanan ke Ranu Agung sebenarnya hanya kurang 40 menit lagi. Sudah terlalu sore untuk kami kesana. Jauh dari rencana kami yang harusnya tiba di siang hari sebelum dhuhur. Saya hanya ingin segera sampai di penginapan dan istirahat. 

 

Robby Klaras 



Ave, 4,5th, makan ciki buat ganjel perut


Setelah melepas penat, lima belas menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan. Dari sinyal yang kembar kembut, jarak antara lokasi kami dan penginapan yang disediakan tius butuh waktu 1 jam lebih. BAJINGAAAAAN!

Rupanya, menurut Tius, di sekitar Tiris tidak ada penginapan. Satu-satunya Villa terdekat hanya ada di daerah Krucil yang berbatasan dengan Bremi, yang mana itu merupakan pintu masuk ke pendakian gunung Argopuro. Bah, ngajak bercanda dia! Tapi mau bagaimana lagi, Tius sudah terlanjur membooking tempat. Untuk kami catat kedepannya bahwa jangan pernah mempercayakan penyediaan tempat kepada Tius. Hahaha, sial.


Kegelapan Total di Andung Biru

Ternyata jarak 40 menit ke Ranu Agung itu hanya mitos, karena jalanan yang kami lalui penuh turunan becek licin dan berlumpur. Dari dokumentasi yang berhasil terselamatkan, pukul lima sore (selang satu jam kemudian) kami masih tertahan di desa Andung Biru hingga maghrib dalam keadaan gelap gulita masih dikelilingi hutan. 

Beberapa vespa kawan kami terguling ketika melewati turunan, termasuk vespa yang saya dan anak-anak tumpangi. Kami harus turun dan berjalan kaki hingga dirasa aman untuk naik lagi.



Hape saya sudah dalam keadaan mati, namun saya masih sempat mengirim lokasi penginapan ke hape suami saya, mas Imron dan mas Blendes. Jujur, saya selalu takut dengan maghrib. Takut melihat matahari terbenam dalam keadaan masih di perjalanan. Sebab pernah ada yang mengatakan pada saya bahwa maghrib adalah saat dimana portal dimensi terbuka dan jin bisa bebas berkeliaran menggoda manusia. Saya takut celaka. 

Kami masih di antah berantah saat adzan maghrib sayup terdengar perlahan. Kelebatan pohon, lampu vespa yang temaram, dan licinnya jalan becek berlupur membuat saya tidak bisa berpikir jernih. Saya hanya bisa menggendong dan menggandeng anak-anak saya, berjalan turun sambil berdzikir agar terhindar dari disesatkan oleh makhluk halus. Cerita horor pendakian sungguh membuat saya waspada, meski alhamdulillahnya selama ini saya tidak pernah mengalami kejadian mistis dimanapun.

Bahkan kali ini, Pak Erik dan Tante Nana pun terpaksa tidak sholat karena tidak menemukan masjid ataupun pos jaga untuk singgah sejenak dari kegelapan.


Mati Lampu hingga Ranu Agung

Saya tidak tau ini pukul berapa. Jalanan becek nan curam sudah berganti aspal growang. Rumah penduduk mulai terlihat jarang-jarang, namun tetap saja gelap. Entah karena sedang mati lampu atau memang listrik belum masuk ke Andung biru.

Keluar dari Gapura selamat jalan desa Andung Biru, kami mulai menemukan sinar redup. Cahaya lilin. Lampu darurat. Dan akhirnya, masjid. Lengkap dengan jamaah sholatnya. Disamping masjid ada kios kecil yang terang. Rupanya pakai genset. Kami beristirahat sejenak sambil mencari sinyal. Dari hape mas Imron, terlihat bahwa jarak menuju penginapan masih 1,5 jam lagi.

Di Lawang Kedaton pukul 4 sore tadi tadi google maps bilang perjalanan hanya 1,5 jam. Sampai lepas maghrib, prakiraan waktu tidak berubah. Saya jadi menghitung ulang perhitungan dari mbah google.

Dari pintu masuk Gunung Gambir menuju kantor afdeling Lawang Kedaton berjarak 6,4km dg perkiraan waktu tempuh 30 menit. Nyatanya kami habiskan 4 jam.

Dari Lawang Kedaton ke Ranu Agung berjarak 13km dengan perkiraan waktu tempuh 40menit. Nyatanya sampai saat ini kami masih nyangkut di desa andung biru dan sudah melewati 2 jam perjalan. Bisa jadi 2 jam lagi kami baru keluar dari tempat atah berantah ini.

Wahai manusia, ternyata google tidak selalu mengetahui segalanya. Maka jangnlah percaya pada mbah google. percayalah hanya pada Allah.

Saya membeli roti untuk mengganjal perut anak-anak. Kali ini suami saya tidak menolak untuk makan. Dia habis lumayan banyak. Tidak ada warung nasi atau tempat yang tepat untuk membuka nasting dan memasak mie. Hari semakin gelap dan saya semakin tenang. Saya lebih menyukai kegelapan pekat dibanding remang.

Setelah sejenak beristirahat, jamaah masjid mulai berhamburan keluar. Tidak ada bacaan doa yang terdengar, mungkin karena speakernya mati. Sebelum berangkat, saya membayar makanan yang saya ambil sambil menanyakn jam. Ternyata sudah hampir pukul setegah delapan malam. Rupanya yang tadi itu jamaah sholat isya, bukan maghrib!

Kami mengecek bensin yang ternyata masih ada separuh. Untung saja masih ada, sebab saya belum melohat satupun kios bensin eceran disini. Rasanya vespa ini masih saja terlalu irit. 30 ribu dan masih ada sisa bensin hingga di tempat ini, sungguh luar biasa.

Jalanan growang akhirnya berubah aspal. Ditengah perjalanan, tiba-tiba google maps suami saya berbunyi, "belok kiri." oh, sudah ada sinyal rupanya. Saya mengecek, ternyata tujuan yang tertulis di hape suami saya masih Ranu Agung. Tapi jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Saya tidak ingin Ranu Agung. Saya ingin rebahan.


Kehabisan bensin, Vespa didorong berbaris.

Setelah melewati pertigaan SMA 1 Tiris, AKhirnya jalanan berubah jadi aspal mulus dan terang benderang. Tiba-tiba saja rombongan kami berubah jadi Dominique Toreto dan geng nya. Ngebutnya gak karu-karuan. Semua hanya ingin cepat sampai penginapan. 

Jalanan naik turun meliuk berliku khas daerah pegunungan. Namun teraspal dengan baik. Kira-kira seperti daerah piket nul yang menghubungkan Lumajang dan Mlang melalui lereng selatan gunung semeru. Jika tadi di desa ANdung Biru saya berdzikir agar tidak disesatkan makhluk halus, kalau sekarang saya berdzikir agar tidak nabrak!

Perjalanan aman, lancar dan ngebut hingga tiba di (lagi-lagi) persimpangan dengan penanda patung garuda dan kolam ikan. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Saya meluruskan tulang punggung. Di sebrang jalan akhirnya ada kios bensin. Sambil menunggu rombongan lainnya datang, suami saya memutuskan untuk mengisi bensin dan betapa tercengangnya ketika melihat tangki bensinnya kosong. Benar-benar kosong. Untung saja dia habis di tempat yang tepat.

Hampir sepuluh menit istirahat, kami belum menemukan tanda-tanda kedatangan Ade dan Bli yang berboncengan dengan Ojan. Jali berinisiatif untuk kembali mencari mereka. Tak lama, terlihat vespa Bli datang didorong vespa Ade dibelakangnya, dan didorong vespa JAli dibelakangnya lagi. Alamak, rupanya mereka kehabisan bensin. Kami tidak menyadarinya karena kerasukan Paul Walker.

Untungnya bensin habis di jalanan beraspal. Bayangin gimana kalau mogoknya waktu di Andung biru tadi. Ih, menyeramkan.


Villa murah, hanya 250ribu semalam

Jarak dari tempat perhentian kami ke villa tinggal sedikit lagi. Hanya sepuluh menit. Akhirnya kami sampai di Vila yang tidak bernama itu sekitar pukul sepuluh malam. Letaknya hanya berupa titik koordinat sebab tidak terdaftar di google. Dan jangan tanya bagaimana kondisinya. Tentu saja horor. Tapi tidak jadi menyeramkan, karena teman-teman scooterist saya jauh lebih menyeramkan daripada setan. Apalagi kalau lagi marah. Hahaha.

Vila ini memiliki pekarangan luas dengan rumput setinggi betis orang dewasa. Terlihat tidak terawat dan lama tidak ditempati. Bangunannya biasa saja, tapi cukup besar untuk menampung kami semua. Ada teras kecil untuk sekedar berselonjor. Ruang tamunya kosong tanpa perabot. Dibelakang ruang tamu ada ruang tengah lengkap dengan sofa, TV, dan perapian seperti di luar negri. Disamping ruang tengah ada dapur yang juga memiliki pintu tembus ke halaman samping. Kamar mandi ada di antara dapur dan ruang tengah. Ada2 kamar dibelakang rak TV. Kamar pertama terdiri dari 1 kasur ukuran queen dan kamar mandi dalam. Satu lagi kasur dengan twin bed berukuran queen. Semua kasur dari kapuk, tidak ada yang spon apalagi spring bed. Masing-masing kasur terdapat bantal kapuk tanpa guling. Tidak ada sprei, hanya bed cover yang kemudian saya gunakan sebagai selimut saja. Persetan dengan sprei. Dingin!

Mas Blendes langsung mengeksekusi dapur. Tante Nana mengeluarkan sambal. Saya dan Liva memandikan anak-anak. Sisanya, mendirikan tenda, membuat api unggun, menyiapkan perapian dan memutar gelas. Saya heran kenapa mas Imron masih repot membawa tenda disaat kita sudah ada di Vila.

Tius dan kedua temannya sudah ada di Villa ketika kami tiba. Sesuai pesanan, ia membawa magicom lengkap dengan nasi yang sudah matang. Tapi ternyata mas Blendes lupa membawa saus untuk bakar ayam. MAs Blendes minta tolong tius untuk membelikan saus dan kecap, namun jawabannya,

"Jam segini di daerah ini mana ada toko buka, mas"

Sebab tidak ada saus, akhirnya malam itu kami harus puas hanya dengan indomie dan frozen food saja.


Jumat, 30 Oktiber 2020

Susu sapi murah, 5 ribu per liter

Pagi hari tiba. Saya dan anak-anak tidur dengan sangat nyenyak. Di sofa, terlihat suami saya tidur bergelung selimut. Mas Blendes dan cetar sudah sibuk memasak di dapur. Rupanya kalau pagi, pasar sudah buka sehingga kecap dan saus sudah didapatkan. Tak lama Pak Erik datang bersama tante Nana membawa 3 kantung susu sapi.

"Deket sini banyak yang jual susu," kata Pak Erik. "Yang ini ikutan merah sendiri. Seliter cuma lima ribu."

"Katanya disini juga ada air terjun, ya, Kelor?"

Saya menggeleng tidak tahu. Buta arah. Tius nimbrung dan menjelaskan bahwa di Krucil memang kawasan produksi susu sapi perah. Saking murahnya, susu ini sudah bisa di ekspor ke kecamatan lain. Ya juga, sih, saya pernah melhat susu sapi Bremi dijual di bundaran DPR Jember seharga lima ribu sebotol 250ml. Bersaing dengan susu sapi Rembangan yang harganya enam ribu.

"Kalau air terjun ada deket banget dari sini. Namanya AIr Terjun Darungan. Mau kesana?"

Tante nana langsung bersemangat mengiyakan. Cetar, dari arah dapur, menolak. Saya juga.

"Kami pengen ke Rau Agung. APa air terjun Darungan sebagus Ranu Agung?"

"Ya beda, mbak. Satunya air terjun, satunya danau. Tapi kalo aku sih, mending ke air terjun terus ke bremi ecopark"

Saya langsung menggeleng. Saya sudah pernah kesana sebelumnya ketika Tius menikah. Bagi penduduk sana, Bremi Ecopark adalah wisata yang gaul dan penuh spot untuk selfie. Namun bagi kami yang tidak menykai hal viral, Ranu Agung akan jauh lebih baik. Kami lebih suka yang natural saja. Lagipula, ingat pasal pertama : Jangan mempercayakan pemilhan tempat pada Tius.

Mengingat pasal itu, saya semakin yakin untuk memilih langsung ke Ranu Agung saja tanpa perlu belok ke air terjun Darungan yang akan semakin mengulur waktu.


Gazebo di Pinggir Sawah

Setelah memandikan anak-anak, saya berkeliling ke pekarangan. Rupanya di samping pintu dapur ada jalan mengarah ke sawah dengan gazebo besar disampingnya. Saya membantu Cetar untuk menghidangkan sarapan di Gazebo. Kami lalu berkumpul untuk makan bersama. Ayam mas Blendes sungguh nikmat dimasak dengan kecap. Sayangnya kami gagal barbequan semalam. Tapi tidak mengapa, masih ada semalam lagi.

menu sarapan kami


mbak iim, cetar, ade, dan ojan


Mbak liva berbaju kuning, mas imron, tante nana, pak erik, tius besandar


gak puas kalo gak makan langsung dari magicom

Menuju Ranu Agung pukul 10.00

Satu hal yang saya bingungkan di hari jumat adalah jumatan. Kami menghargai Pak Erik yang akan rajin ke masjid dengan sukarela. Tapi kami juga tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Rencananya, kami harus tiba di Ranu Agung sebelum pukul sepuluh. Nyatanya, pukul sepuluh kami baru saja berangkat. Sedangkan jarak tempuh dari Vila ke Ranu Agung kurang lebih 1,5 jam JIKA tidak ada yang mogok.



Kami kembali mengisi bensin di tempat kemarin, sebab dipastikan tidak ada pom bensin disini. Kemarin Roby mengisi bensin 15 ribu. Hari ini ia mengisi lagi 20 ribu. Jali dan Ade masih mendapat bantuan dari Hamba Allah. Namun ketika berangkat, Tius berpamitan untuk bekerja, Tidak bisa ikut menemani. Ia menyerahkan kami pada kawannya, yang katanya rumahnya hanya 10km dari Ranu Agung. 


Jumatan di Tiris

Rupanya kami dibawa mampir ke rumah teman Tius yang saya lupa namanya. Basa basi lagi. Dibuatkan minuman pula. Sejujurnya, saya senang dengan keramahan para scooterist. Tapi disisi lain, saya sebal sebab hal ini sangat menghambat perjalanan. Saya hanya tidk ingin kehujanan saat di ranu, seperti kemarin saat di Gunung Gambir. 

Adzan dhuhur berkumandang. Oh tidak. Kami masih harus menunggu pak erik jumatan. Saya meminta sesuatu ke pak erik, nitip doa ke Allah agar tidak diberi hujan. Pak Erik tertawa. Dan kemudian, yang saya takutkan tiba. Hujan datang. Sambil menunggu Pak Erik dan hujan reda, saya sempat mengobrol dengan ayah temannya Tius, pemilik rumah.

"Mau kemana ini?" tanya sang ayah.

"Ke Ranu Agung, pak."

"Ngapain ke Ranu Agung?"

"Jalan-jalan, pak."

"Kalo mau jalan-jalan, mending ke Bremi Ecopark. Bagus. Bisa foto-foto. Ranu agung itu jelek. Nggak ada apa-apanya. Jalannya susah."

Saya sebisa mungkin menahan diri untuk tidak ngegas. Kenapa orang-orang Probolinggo ini suka sekali sama Bremi Ecopark, sih? Wisata begitu banyak banget di Jember. Tapi kalau danau, Jember nggak punya. Udah, jelas?


Pesona Ranu Agung, Danau Yang Dikelilingi Tebing

Meski dibilang jelek dan diarahkan ke Bremi Ecopark, saya dan para emak-emak (terutama Cetar) tetap keukeuh ke Ranu Agung. Maka berangkatlah kami pukul satu siang. Sepanjang perjalanan, kami diguyur gerimis rinti-rintik. Tidak makan waktu lama, kami akhirya sampai disana. Dan ajaibnya, sesampainya disana hujan ikut berhenti.

Suasana disana sangat sepi. Tidak terlihat rumah penduduk di sekelilingnya. Kami memarkir vespa di tempat yang telah disediakan. Tidak ada loket masuk. Hanya ada pintu selamat datang, kios kecil dan penunjuk arah bahwa Ranu Agung ada dibawah. Memang sih, Ranu Agung masih belum terlihat dari jalan. Justru disitu letak misterinya.



Mengikuti petunjuk jalan, kami dibawa menuju anak tangga yang jumlahnya ribuan. Di sebelah kiri sedang dibangun mushola dan toilet umum yang belum jadi. Kami terus menuruni anak tangga yang tampaknyatak kunjung usai. 

sumber : brisik.id



Hingga pada akhirnya, tersingkaplah kecantikan danau tersebut...




sumber : brisik.id





Satu kata yang diucapkan mas Blendes ketika kami sampi di bibir danau,

"Harusnya semalem kita ngecamp disini aja gak usah di Vila! Ini suasana yang aku mau!"


Naik getek sekali putaran 100.000 per 10 orang

Disamping ranu ada bapak pemancing yang nyambi menyewakan getek. Katanya, sejak covid melanda, ranu Agung yang sepi pengunjung jadi tambah lebih sepi lagi. Kami adalah pengunjung pertama yang datang minggu ini.

Akhirnya setelah makan siang di gazebo pinggir danau, Mas Blendes bernegosiasi dengan pak Getek dan kami bisa menaikinya dengan membayar 100.000 per 10 orang. Tapi karena angin sedang kencang, Pak Getek tidak berani menyebrang ke sebrang danau. Beliau hanya berani membawa kami hingga ke spot foto yang biasa diminta para wisatawan. Mbak Iim dan Mbak Liva tidak ikut naik getek sebab takut tenggelam. Otomatis Pak Tut, Syifa dan Mas Imron ikut menjaga keluarganya. Pak Erik juga tidak mau ikut sebab memilih tidur.

Akhirnya kami menyewa 2 getek. 1 getek isi 5 orang seharga 50.000 rupiah saja.

Getek pertama ada saya, suami, Ave, Byana, tante Nana dan Jali

di getek kedua ada mas blendes, cetar, ade, ojan dan satu anak buah mas blendes yang saya tidak tau namanya.

ave di parkiran getek





ade si tukang foto dan pembawa box


mas blendes dan cetar

jali sang bodyguard





pak getek

Yang menarik dari Getek ini adalah, terdapat meja dan du abngku diatasnya. Saya jadi membayangkan makan siang romantis di atas getek sambil muteri danau. Sayangnya kami tidak membawa jajan.



Ini dokumentasi terakhir yang saya miliki. Setelah itu foto-fotonya sudah terhapus karena memori penuh. Setidaknya, saya amat bersyukur sebab sore hari itu cerah tanpa hujan.


Ke Rumah Tius di Maron

Pukul tiga sore, kami kembali pulang. Mbak Iim dan Mbak Liva yang oversize harus berjuang keras menaklukan ribuan anak tangga menanjak. Tapi tanjakan jauh lebih menyenangkan daripada turunan. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Andung biru.

Butuh waktu satu jam hingga kahirnya mbak Iim berhasil sampai di parkiran. Jam 4 sore, kami berangkat ke rumah Tius di kecamatan Maron. Kami melewati rute yang berbeda.  Jarak dari Ranu Agung ke Maron sekitar 1,5 jam. Sama seperti jarak ke Vila Krucil.

Seharusnya, jika kami mau ke arah pantura, kami tdak perlu melewati Maron. Hanya saja, Tius sudah mengundang kami untuk datang ke rumahnya. Atas nama persaudaraan, kami mengunjungi rumahnya meski harus memutar.

Kami sampai di Maron sesaat sebelum maghrib. Untunglah kami bertemu pom bensin di area Banyuanyar. Kami juga melewati basecamp Songa Rafting yang terkenal itu. Dan juga ada pabrik gula peninggalan Belanda bernama PG Gending.


Batal ke Pantai

Selepas makan malam, tiba-tiba saja Pak Erik pamit duluan. Rupanya tante Nana ada kerjaan hair do untuk pernikahan besok pukul tiga pagi. Mas Imron merasa tidak tega jika kami lanjut bersenang-senang ke pantai sedangkan Pak Erik dan tante nana pulang sendirian. Ahirnya diputuskan kami batal ke pantai dan kembali pulang ke Jember lewat jalur nasional di Lumajang.

Kami berpamitan selepas isya. Malasan macet parah hingga ke Ranuyoso. Rencananya kami akan pulang lewat Randu Agung yang tembus ke Sumber baru. Tidak lewat Jatiroto. Namun Pak Erik sepertinya tidak diberitahu, sebab di pertigaan pom bensin Klakah, beliau bablas ke arah Kedungjajang saat seharusnya belok kiri ke arah randu agung. Roby mau mengejar, tapi tidak bisa. Pak Erik lari seperti dikejar pinjol.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat kami  menunggu di pom klakah, tak ada satupun anak-anak yang datang. Tak lama mas Imron menelfon. Ade masih mogok di Malasan. CDI nya tobel. Jali mendorong vespa Ade menggunakan kaki dari Malasan sampai Klakah. Rupanya ada kawan Jali yang buka bengkel sekitar 20meter sebelum pertigaan Randu Agung.

Berkat bantuan Rojali, Guardian Of Lumajang, Vespa Ade sembuh tanpa bayar sepeserpun.

Pukul dua belas malam, akhirnya vespa Ade selesai dibetulkan. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak berani berhenti, sebab Lumajang terkenal dengan begal tengah malamya. Ya meskipun perlu dipertanyakan, siapa sih yang mau mbegal vespa? Mau nyuri vespa bukannya untung malah ngerepotin. Apalagi kalau mogok kayak si Ade.

Perjalanan klakah jember malam itu adalah perjalana paling menyakitkan dan melelahkan. pantat saya rasanya seperti digigit anjing. Panas sekali. APalagi hujan kembali turun mengguyur deras sehingga  kami tidak bisa berhenti sama sekali. Bayangkan saja dalam perjalanan ini, masih harus menggendong dua balita yang tertidur diatas jok vespa yang tidak selebar bokong ibunda. sakit, kak.

Bagaimanapun juga akhirnya kami tiba dengan selamat. Tepat pukul dua dini hari, kami sampai rumah. dan perjalanan pun usai dengan sisa stok makanan yang akhirnya dimakan ramai-ramai di kedai armor.


=== SEKIAN ===


Tips untuk touring membawa dua balita :

1. Pastikan anak-anak selalu dalam keadaan kenyang

2. Gunakan pakaian nyaman, jaket hangat, celana panjang dan bersepatu

3. Bawa baju seminimal mungkin, kalau perlu bisa dicuci

4. Jangan lupa vitamin

5. Siapkan mental, fisik dan uang lebih



Rincian pengeluaran :

Ramai2 :

Vila 250ribu

Mobil angkut 150ribu

total 400ribu utnuk 19 orang

Bulatkan menjadi 20 orang, berarti 20ribu/orang


Pribadi :

Bensin 3x full tank = 90.000

1 sepeda 2 orang, berarti 45ribu/orang

getek 10ribu/orang

total 55ribu


makanan gratis sebab sudah bawa sangu dari rumah


total pengeluaran : 20 + 55 = 75ribu/orang


Siapin aja uang 100 ribu, udah bisa dapet pemandangan Gunung Gambir lengkap sampai Ranu Agung plus plus. Betapa hebat Ade yang bisa mendapatkan semuanya hanya bermodal 30 ribu. Tapi ada yang lebih hebat dari Ade. Ialah Jali, yang ternyata malah tidak bawa uang sama sekali. Hanya mengandalkan nyali dan relasi.


HIDUP ROJALI!