Terkadang saya merasa punya insting tajam. Bahkan ada yg bilang, itu karna saya punya mata ketiga ; tapi masih tertutup. Ah, klenik. Menurut saya pribadi insting saya hanya berdasar logika yang sedikit dicumbu oleh keberuntungan. Karna firasat saya seringkali benarnya.
Pun begitu ketika saya mengikuti pemberitaan soal drama buku nikah palsu dan cinta segitiga dari Kriss Hatta, Hilda Vitria dan Billy Syahputra. Saya yakin, KH berkata sejujrnya. Meski memang KH tidak benar sepenuhnya.
Pernikahan diantara mereka memang benar terjadi. Tapi kenapa HV bersikeras tidak mengakui? Apakah demi nama baik BS? Dan kenapa artis sensasional NM sampai ikut-ikutan? Begini analisa ala emak emak.
Saya pernah memiliki pacar super posesif. Dia mencintai saya berlebihan. Tp cintanya pada saya tidak lantas membuatnya jadi lelaki setia. Dia kerap main perempuan. Jika ketauan, bukannya minta maaf dia malah akan memutar balikkan fakta, mencari kesalahan saya dan berujung pada main tangan. Lalu jika saya sudah eneg dengan sikapnya, dia lalu akan memelas dan bahkan mengancam untuk bunuh diri supaya saya tdk meninggalkannya. Atas nama rasa cinta yang masih tersisa, saya tetap menjalani hubungan hingga 2 tahun lamanya. Memang, hubungan itu tidak selalu buruk. Ada kalanya dia bersikap amat manis. Memanjakan saya dengan kemewahan dan perhatian berlimpah. Tapi jika sudah kumat kejiwaannya, dia tidak segan memukul saya utk kesalahan yg bahkan tidak saya lakukan.
Hal itu yg lantas membuat kawan2 saya iba sehingga dibuatlah skenario saya memiliki pacar baru. Tujuannya agar pacar saya mau melepaskan saya. Ternyata rencana itu berhasil, meski sebagai gantinya nama baik saya tercoreng sbg tukang selingkuh. Dia bahkan melebih lebihkan cerita, bahwa saya dipelet bahkan ditiduri oleh selingkuhan saya. Juga cerita lainnya bahwa dia membawa clurit, siap untuk membunuh saya dan pacar baru saya, yang nyatanya hal itu sama sekali tidak pernah terjadi.
Sedangkan pada kasus KH yg berbelit itu, kurang lebihnya begini :
Artis BS dikabarkan punya pacar baru bernama HV, yg ternyata masih merupakan istri dari KH. Setelah KH mempublish bukti2 pernikahan, BS di cap perebut istri orang, dan untuk menutupi isu perselingkuhan itu HV lantas menampik dan tdk mengakui sttusnya, serta menuntut KH atas pasal pemalsuan dokumen pernikahan. Disitu artis NM ikut2an bersuara membela HV dg mengatakan KH cowo kere dan hinaan2 lainnya, yg membuat pengacara KH meradang hingga ikut menebarkan cuitan2 kebencian yg terlalu berlebihan.
Pengcara kondang Hotman Paris bahkan sempat mengomentari masalah ini. Dg bukti yg ada, dia yakin KH mengatakan yg sejujurnya. Bahwa mereka pernah menikah dan HV melakukan perselingkuhan terang2an dg artis BS.
Sayangnya, KH justru dijadikan tersangka dan ditahan. Penghulu yg menikahkan mereka meninggal saat kasus ini terangkat dan tdk bisa dijadikan saksi. Sedangkan HV terus menerus berkelit dg keterangan yg berubah ubah.
Namun kebenaran akan menemukan jalannya. Setelah KH ganti pengacara, HV kembali dihadirkan dalam persidangan. Dg keterangan yg selalu berubah ubah tidak konsisten, majelis hakim akhirnya berhasil membuat HV mengakui bahwa pernikahan siri itu memang pernah terjadi, meski HV mengaku pernikahan itu terjadi dibawah tekanan. Ia memaparkan perlakuan KH yg pernah berselingkuh, KDRT dan melakukan percobaan bunuh diri. KH pun mengakui hal itu benar terjadi.
Dari sini, yg dipermasalahkan adl pemalsuan buku nikah. Jika pada akhirnya HV mengakui pernikahan ini benar terjadi, bukankah seharusnya KH bisa bebas? Dan KH bisa saja meneruskan laporannya thd tindakan perselingkuhan HV yg terjadi secara terang terangan? Sedangkan jika HV ingin mengajukan gugatan KDRT yg pernah kriss lakukan, ia bahkan tidak punya bukti, meski KH sendiri telah mengakuinya.
Yg penting saya senang, sebab KH memang jujur. Meski sy rasa sifat buruk KH itu mirip2 tipis aama mantan saya. Ngga heran kalo HV akhirnya selingkuh. Dan apakah perselingkuhan HV memang nyata? Atau hanya pura2, spy KH melepaskannya, seperti yg pernah saya lakukan ?
Soal kenyinyiran NM, saya yakin NM tdk bodoh. Ia tdk akan percaya begitu saja dg HV. Tp sy bisa memahami kenapa NM berada di pihak HV. Sbg sesama perempuan, NM pasti iba mendengar cerita HV soal perlakuan KH selama mereka menikah. Sehingga NM mendukung HV agr tdk teraniaya lagi. Sayangnya posisi NM krg menguntungkan, karna yg disorot oleh masyarakat bukanlah perlakuan buruk KH, tetapi kebohongan HV yg mati2an tidak mau mengakui pernikahan. Dan sekarang, BOOM!
Karma menantimu, HV.
Maju kena, mundur pun kena!
Ps : BS dikabarkan sudah putus dg HV ketika KH dipenjara. Sepertinya ini memang settingan spy BS tdk lagi terseret kasus ini. Tapi lihat sisi baiknya, BS bersikap gentleman dg tdk mengungkap aib mantan kekasihnya tsb. Karna Waktu yg mengungkapnya sendiri. Dan NM? Sy rasa dia tdk akan dipenjara dg alasan dia sedang menyusui anaknya. Sungguh strategi yg sgt bagus dg menjadikan anak sbg tameng. Yg tersisa hanya HV sendiri. Mati kau terkoyak gengsi.
Selasa, 21 Mei 2019
Jumat, 15 Maret 2019
Dongeng : Badai di Kerajaan Hujan
Dongeng : Badai di Kerajaan Hujan
Pada suatu hari, nun jauh disana ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Hujan. Kerajaan Hujan dipimpin oleh Raja Hujan yang bijaksana. Raja Hujan memiliki Ratu yang cantik dan lembut, serta seorang anak perempuan cerdik bernama Putri Rintik.
Suatu hari Kerajaan Hujan ramai. Penduduk dibuat ketakutan oleh kedatangan segerombolan pasukan yang memporak porandakan kerajaan. Pasukan ini dipimpin oleh Jendral Angin Kencang.
"Lapor Yang Mulia," kata pengawal Istana. "Diluar sana ada pasukan yang memaksa masuk kedalam istana. mereka sudah memporak porandakan rumah rumah penduduk untuk menuju istana. Saat ini rakyat sedang ketakutan, paduka."
"Tak apa, suruh mereka masuk. Biar mereka jelaskan apa maksud kedatangannya. Dan segera kirim petugas Istana untuk bergotong royong dengan rakyat memperbaiki kekacauan itu." jawab Raja Hujan dengan tenang.
Tak lama kemudian, Jendral angin kencang masuk. Sosoknya begitu besar dan menyeramkan, membuat takut orang orang yang ada di dalam Istana. Diam-diam, Putri Rintik ikut menyaksikan pertemuan tersebut.
"Wahai Raja Hujan, hamba Jendral Angin Kencang, datang kemari atas perintah Raja dari Kerajaan Petir", kata jendral Angin Kencang memperkenalkan diri
"Ya, langsung saja katakan apa tujuanmu" jawab Raja hujan.
"Tujuan hamba kemari adalah menyampaikan pesan dari Yang Mulia Raja Petir, supaya Raja Hujan mau menyerahkan kerajaan Hujan kepada kerajaan petir, dan membangun sebuah kerajaan yang lebih besar untuk menguasai kerajaan kerajaan lainnya" kata Jendral Angin Kencang
"Dan mengapa aku harus menyetujui itu?" Tanya Raja Hujan
"Karna dengan kekuatan Raja Hujan, Raja Petir, dan hamba, Jendral angin kencang, Raja Petir bermaksud membuat kerajaan Badai yang dipimpin oleh Raja petir untuk menguasai kerajaan lainnya." Jawab Jendral angin kencang
"Dan jika aku tidak menyetujuinya?" Tanya Raja Hujan lagi
"Maka Raja Petir yang akan turun tangan sendiri untuk mengalahkan Raja Hujan. Kekacauan yang hamba buat diluar tadi hanyalah contoh kecil dari kekuatan kerajaan Petir. Paduka bisa bayangkan sendiri jika paduka raja hujan menolak tawaran ini dan lebih memilih perang." jawab Jendral Angin kencang.
Raja terlihat terdiam sejenak di singgasananya.
"Aku akan menjawab besok pagi. Kau pulanglah dulu ke tempatmu." Titah Raja Hujan.
"Baik, Raja Hujan. Besok hamba akan kembali bersama Raja Petir", sahut Jendral Angin kencang yang kemudian mengundurkan diri dan pulang.
Sepeninggalan Jendral Angin kencang, raja langsung meninggalkan singgasananya dan memasuki ruangannya. Putri Rintik yang sedari tadi hanya mengintip, langsung pergi keluar istana untuk melihat sendiri seberapa besar kekacauan yang ditimbulkan jendral angin kencang dari kerajaan petir.
Betapa kagetnya Putri Rintik melihat rumah penduduk kacau balau. Atap mereka banyak yang hilang berterbangan dan jatuh pecah mengotori jalan. Begitupun pohon dan tanaman tanaman hias di pekarangan rumah mereka, tumbang dan rusak. Putri Rintik geram. Ia langsung berlari menuju Istana.
Sesampainya di Istana, Putri Rintik melihat Ratu hujan sedang membaca buku. Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya.
"Ibunda Ratu," sahut putri rintik. "Aku telah melihat sendiri kekacauan yang mereka buat. Benar benar seram!"
Ratu hujan tersenyum dan menutup buku yang dibacanya, "lalu bagaimana langkah yang tepat menurutmu, nak?"
"Kita tidak boleh menyerah dan bergabung dengan mereka. Bayangkan saja, bagaimana dashyatnya badai yang akan terjadi jika Hujan dan angin ditambah dengan petir. Akan makin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban." Jawab Putri rintik
"Jadi putri lebih pilih melawan?" Tanya Ratu hujan.
"Iya, ibunda!" Jawabnya mantap.
"Kalau begitu ayo ikut ibu ke ruang kerja ayahmu"
Putri Rintik mengekor dibalik punggung Ratu Hujan menuju ke ruang kerja Raja. Ibu mengetuk pintu dan pintu terbuka. Terlihat Raja dan beberapa orang penasihat kerajaan sedang berdiskusi.
"Permisi, yang mulia," sahut Ratu hujan lembut. "Putri Rintik ingin menyampaikan sesuatu"
Raja Hujan menoleh, "apa yang kau inginkan hingga mengganggu rapat ini, nak?"
"Maafkan hamba, Ayahanda. Hanya saja tadi hamba keluar dan menyaksikan sendiri kekacauan yanh dibuat jendral angin. Dan hamba tidak ingin kerajaan Hujan bergabung menjadi kerajaan badai. Agar kekuatan mereka tidak semakin besar dan kekacauan yang mereka timbulkan pada rakyat tak berdosa tidak semakin parah. Sesuai dengan nama kerajaan kita, Hujan harusnya menjadi Rahmat, bukannya makin membuat rakyat sengsara dan melarat" jawab Putri rintik.
Raja tertawa mendengar jawaban Putri Rintik. "Bagus sekali, nak. Lalu apa yang harus kita lakukan? Melawan dengan apa? Kekuatan kerajaan Petir 2x lipat lebih besar dibanding kita"
"Itu.... Ha... Hamba belum memikirkannya, Yang Mulia...." Jawab putri rintik tertunduk malu. Merasa dirinya bodoh karna tidak memiliki solusi.
"Jika belum tau, mari kita cari tau" kata ratu hujan membangkitkan semangat putri rintik. "Putri, bacalah buku buku tentang Petir dan AnginKencang. Carilah kelemahan mereka. Biarkan ayahmu, jendral dan para pnasihat mengatur strategi perang"
Raja memberi tanda mempersilahkan Putri Rintik mencari jawaban diantara buku buku kerajaan. Ditemani sang ratu, putri rintik membaca banyak buku seperti yang diperintah.
"KETEMU !!!" ujar Putri rintik senang.
Esoknya, jendral angin kencang datang kembali. Kali ini membawa raja petir dan lebih banyak pasukan. Mereka bersiap akan langsung berperang jika raja hujan menolak kesepakatan.
Raja hujan mengubah lokasi pertemuan jauh dari rumah penduduk. Tepatnya di sebuah tanah yang amat lapang didekat hutan. Melihat dari tempatnya, amat cocok untuk berperang. Raja petir punya firasat raja hujan akan menolak tawarannya. Ia menahan geram. Awas saja nanti, akan kuhabisi seluruh kerajaanmu.
Kedua pasukan bertemu di tengah tengah tanah lapang.
"Hai raja hujan, aku raja petir. Akan menanyakan langsung padamu. Apakah kau mau menerima tawaranku untuk menyerahkan kerajaanmu dan tunduk dibawah perintahku? Jika iya tidak akan ada pertumpahan darah dan kau akan mendapat posisi yanh sama dengan jendral angin kencang, yakni jendral hujan. Namun jika tidak, kerajaanmu akan kutaklukkan!" Kata Raja petir
Raja hujan menjawab, "kerajaan hujan menolak menyerah. Karna hujan adalah rahmat. Tidak untuk dijadikan alat kekuasaan"
Raja petir geram. "Baiklah jika kau lebih memilij perang. Pasukan, SERAAAANG!!!!!"
Pasukan dari kerajaan petir dipimpin oleh jendral angin kencang langsung berhembus menyerang para pasukan kerjaaan hujan. Sesuai strategi yanh telah mereka rancang semalaman, pasukan hujan segera berlindung kedalam hutan yang rimbun penuh pepohonan yang rapat. Jendral angin kencang kesulitan menembus barisan pepohonan. Kekuatannya terpecah dan pasukannya kocar kacir.
Rupanya putri rintik berhasil menemukan kelemahan angin kencang, yakni pohon dan bukit kecil. Barisan Pohon yang rapat dan bukit bukit kecil dapat memech angin, sehingga angin tidak dapat memporak porandakan yanh ada di balik pohon dan bukit kecil tersebut.
Melihat pasukan angin kencang lumpuh, raja petir makin marah. Ia mengeluarkan kekuatannya yang dapat mengalirkan energi listrik yang membahayakn orang yang ada disekitarnya. Sekalinya tersengat, bisa langsung mati. Kali ini raja hujan yang langsung menghadapi raja petir. Mereka bertarung. Rja petir terus menyerang, sedangkan raja hujan hanya melakukan pertahanan tanpa melawan. Hingga tanpa sadar mereka telah jauh dari tanah lapang dan telah ada di puncak bukit dengan tiang panjang yang runcinh di bagian atasnya.
Raja petir menyadari bahwa raja hujan sengaja membawanya menjauh dari pasukan karna tak ingin banyk korban yangnjatuh terkena senagatan listtik dari raja petir. Ia marah! Raja petir menyerang dengan sepenuh kekuatan listtiknya, tapi rupamya emergi listtiknya ditangkap oleh tiang runcing itu dan teredam di tanah.
Raja petir terduduk lemas kehilanhan kekuatannya. Putri rintik berhasil menemukan cara mengalirkan energi petir kedalam tanah agar tidak tersengat manusia. Dan raja berhasil mengatur strategi untuk memisahkan raja petir dari kerumunan pasukan agar tidak banuak yang terluka. Raja Hujan menang. Raja petir yang kalah pun menyerahkan kekuasaannya.
Raja hujan yang bijaksana kemudian mengembalikan bekas kerajaan angin yang dulunya direbut oleh raja petir, dan mengembalikan tahta jendral angin kencang menjadi raja angin. Namun dengan satu syarat, kerajaan angin harus berhembus menjadi angin sepoi yang menyejukkan, bukan angin badai yang menghancurkan.
Raja angin berterimakasih atas jasa raja hujan. Kini kedua kerajaan pun menjadi sahabat. Sedangkan raja petir dihukum atas ketamakanya. Ia dipenjara dan diasinhkan di suatu pulau terpenciil untuk seumur hidupnya.
Pada suatu hari, nun jauh disana ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Hujan. Kerajaan Hujan dipimpin oleh Raja Hujan yang bijaksana. Raja Hujan memiliki Ratu yang cantik dan lembut, serta seorang anak perempuan cerdik bernama Putri Rintik.
Suatu hari Kerajaan Hujan ramai. Penduduk dibuat ketakutan oleh kedatangan segerombolan pasukan yang memporak porandakan kerajaan. Pasukan ini dipimpin oleh Jendral Angin Kencang.
"Lapor Yang Mulia," kata pengawal Istana. "Diluar sana ada pasukan yang memaksa masuk kedalam istana. mereka sudah memporak porandakan rumah rumah penduduk untuk menuju istana. Saat ini rakyat sedang ketakutan, paduka."
"Tak apa, suruh mereka masuk. Biar mereka jelaskan apa maksud kedatangannya. Dan segera kirim petugas Istana untuk bergotong royong dengan rakyat memperbaiki kekacauan itu." jawab Raja Hujan dengan tenang.
Tak lama kemudian, Jendral angin kencang masuk. Sosoknya begitu besar dan menyeramkan, membuat takut orang orang yang ada di dalam Istana. Diam-diam, Putri Rintik ikut menyaksikan pertemuan tersebut.
"Wahai Raja Hujan, hamba Jendral Angin Kencang, datang kemari atas perintah Raja dari Kerajaan Petir", kata jendral Angin Kencang memperkenalkan diri
"Ya, langsung saja katakan apa tujuanmu" jawab Raja hujan.
"Tujuan hamba kemari adalah menyampaikan pesan dari Yang Mulia Raja Petir, supaya Raja Hujan mau menyerahkan kerajaan Hujan kepada kerajaan petir, dan membangun sebuah kerajaan yang lebih besar untuk menguasai kerajaan kerajaan lainnya" kata Jendral Angin Kencang
"Dan mengapa aku harus menyetujui itu?" Tanya Raja Hujan
"Karna dengan kekuatan Raja Hujan, Raja Petir, dan hamba, Jendral angin kencang, Raja Petir bermaksud membuat kerajaan Badai yang dipimpin oleh Raja petir untuk menguasai kerajaan lainnya." Jawab Jendral angin kencang
"Dan jika aku tidak menyetujuinya?" Tanya Raja Hujan lagi
"Maka Raja Petir yang akan turun tangan sendiri untuk mengalahkan Raja Hujan. Kekacauan yang hamba buat diluar tadi hanyalah contoh kecil dari kekuatan kerajaan Petir. Paduka bisa bayangkan sendiri jika paduka raja hujan menolak tawaran ini dan lebih memilih perang." jawab Jendral Angin kencang.
Raja terlihat terdiam sejenak di singgasananya.
"Aku akan menjawab besok pagi. Kau pulanglah dulu ke tempatmu." Titah Raja Hujan.
"Baik, Raja Hujan. Besok hamba akan kembali bersama Raja Petir", sahut Jendral Angin kencang yang kemudian mengundurkan diri dan pulang.
Sepeninggalan Jendral Angin kencang, raja langsung meninggalkan singgasananya dan memasuki ruangannya. Putri Rintik yang sedari tadi hanya mengintip, langsung pergi keluar istana untuk melihat sendiri seberapa besar kekacauan yang ditimbulkan jendral angin kencang dari kerajaan petir.
Betapa kagetnya Putri Rintik melihat rumah penduduk kacau balau. Atap mereka banyak yang hilang berterbangan dan jatuh pecah mengotori jalan. Begitupun pohon dan tanaman tanaman hias di pekarangan rumah mereka, tumbang dan rusak. Putri Rintik geram. Ia langsung berlari menuju Istana.
Sesampainya di Istana, Putri Rintik melihat Ratu hujan sedang membaca buku. Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya.
"Ibunda Ratu," sahut putri rintik. "Aku telah melihat sendiri kekacauan yang mereka buat. Benar benar seram!"
Ratu hujan tersenyum dan menutup buku yang dibacanya, "lalu bagaimana langkah yang tepat menurutmu, nak?"
"Kita tidak boleh menyerah dan bergabung dengan mereka. Bayangkan saja, bagaimana dashyatnya badai yang akan terjadi jika Hujan dan angin ditambah dengan petir. Akan makin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban." Jawab Putri rintik
"Jadi putri lebih pilih melawan?" Tanya Ratu hujan.
"Iya, ibunda!" Jawabnya mantap.
"Kalau begitu ayo ikut ibu ke ruang kerja ayahmu"
Putri Rintik mengekor dibalik punggung Ratu Hujan menuju ke ruang kerja Raja. Ibu mengetuk pintu dan pintu terbuka. Terlihat Raja dan beberapa orang penasihat kerajaan sedang berdiskusi.
"Permisi, yang mulia," sahut Ratu hujan lembut. "Putri Rintik ingin menyampaikan sesuatu"
Raja Hujan menoleh, "apa yang kau inginkan hingga mengganggu rapat ini, nak?"
"Maafkan hamba, Ayahanda. Hanya saja tadi hamba keluar dan menyaksikan sendiri kekacauan yanh dibuat jendral angin. Dan hamba tidak ingin kerajaan Hujan bergabung menjadi kerajaan badai. Agar kekuatan mereka tidak semakin besar dan kekacauan yang mereka timbulkan pada rakyat tak berdosa tidak semakin parah. Sesuai dengan nama kerajaan kita, Hujan harusnya menjadi Rahmat, bukannya makin membuat rakyat sengsara dan melarat" jawab Putri rintik.
Raja tertawa mendengar jawaban Putri Rintik. "Bagus sekali, nak. Lalu apa yang harus kita lakukan? Melawan dengan apa? Kekuatan kerajaan Petir 2x lipat lebih besar dibanding kita"
"Itu.... Ha... Hamba belum memikirkannya, Yang Mulia...." Jawab putri rintik tertunduk malu. Merasa dirinya bodoh karna tidak memiliki solusi.
"Jika belum tau, mari kita cari tau" kata ratu hujan membangkitkan semangat putri rintik. "Putri, bacalah buku buku tentang Petir dan AnginKencang. Carilah kelemahan mereka. Biarkan ayahmu, jendral dan para pnasihat mengatur strategi perang"
Raja memberi tanda mempersilahkan Putri Rintik mencari jawaban diantara buku buku kerajaan. Ditemani sang ratu, putri rintik membaca banyak buku seperti yang diperintah.
"KETEMU !!!" ujar Putri rintik senang.
Esoknya, jendral angin kencang datang kembali. Kali ini membawa raja petir dan lebih banyak pasukan. Mereka bersiap akan langsung berperang jika raja hujan menolak kesepakatan.
Raja hujan mengubah lokasi pertemuan jauh dari rumah penduduk. Tepatnya di sebuah tanah yang amat lapang didekat hutan. Melihat dari tempatnya, amat cocok untuk berperang. Raja petir punya firasat raja hujan akan menolak tawarannya. Ia menahan geram. Awas saja nanti, akan kuhabisi seluruh kerajaanmu.
Kedua pasukan bertemu di tengah tengah tanah lapang.
"Hai raja hujan, aku raja petir. Akan menanyakan langsung padamu. Apakah kau mau menerima tawaranku untuk menyerahkan kerajaanmu dan tunduk dibawah perintahku? Jika iya tidak akan ada pertumpahan darah dan kau akan mendapat posisi yanh sama dengan jendral angin kencang, yakni jendral hujan. Namun jika tidak, kerajaanmu akan kutaklukkan!" Kata Raja petir
Raja hujan menjawab, "kerajaan hujan menolak menyerah. Karna hujan adalah rahmat. Tidak untuk dijadikan alat kekuasaan"
Raja petir geram. "Baiklah jika kau lebih memilij perang. Pasukan, SERAAAANG!!!!!"
Pasukan dari kerajaan petir dipimpin oleh jendral angin kencang langsung berhembus menyerang para pasukan kerjaaan hujan. Sesuai strategi yanh telah mereka rancang semalaman, pasukan hujan segera berlindung kedalam hutan yang rimbun penuh pepohonan yang rapat. Jendral angin kencang kesulitan menembus barisan pepohonan. Kekuatannya terpecah dan pasukannya kocar kacir.
Rupanya putri rintik berhasil menemukan kelemahan angin kencang, yakni pohon dan bukit kecil. Barisan Pohon yang rapat dan bukit bukit kecil dapat memech angin, sehingga angin tidak dapat memporak porandakan yanh ada di balik pohon dan bukit kecil tersebut.
Melihat pasukan angin kencang lumpuh, raja petir makin marah. Ia mengeluarkan kekuatannya yang dapat mengalirkan energi listrik yang membahayakn orang yang ada disekitarnya. Sekalinya tersengat, bisa langsung mati. Kali ini raja hujan yang langsung menghadapi raja petir. Mereka bertarung. Rja petir terus menyerang, sedangkan raja hujan hanya melakukan pertahanan tanpa melawan. Hingga tanpa sadar mereka telah jauh dari tanah lapang dan telah ada di puncak bukit dengan tiang panjang yang runcinh di bagian atasnya.
Raja petir menyadari bahwa raja hujan sengaja membawanya menjauh dari pasukan karna tak ingin banyk korban yangnjatuh terkena senagatan listtik dari raja petir. Ia marah! Raja petir menyerang dengan sepenuh kekuatan listtiknya, tapi rupamya emergi listtiknya ditangkap oleh tiang runcing itu dan teredam di tanah.
Raja petir terduduk lemas kehilanhan kekuatannya. Putri rintik berhasil menemukan cara mengalirkan energi petir kedalam tanah agar tidak tersengat manusia. Dan raja berhasil mengatur strategi untuk memisahkan raja petir dari kerumunan pasukan agar tidak banuak yang terluka. Raja Hujan menang. Raja petir yang kalah pun menyerahkan kekuasaannya.
Raja hujan yang bijaksana kemudian mengembalikan bekas kerajaan angin yang dulunya direbut oleh raja petir, dan mengembalikan tahta jendral angin kencang menjadi raja angin. Namun dengan satu syarat, kerajaan angin harus berhembus menjadi angin sepoi yang menyejukkan, bukan angin badai yang menghancurkan.
Raja angin berterimakasih atas jasa raja hujan. Kini kedua kerajaan pun menjadi sahabat. Sedangkan raja petir dihukum atas ketamakanya. Ia dipenjara dan diasinhkan di suatu pulau terpenciil untuk seumur hidupnya.
Kamis, 14 Maret 2019
Dongeng : Monyet yang Sombong
Pada jaman dahulu kala, hiduplah seekor monyet yang sombong. Ia merasa hebat karna pandai memanjat. karna kepandaiannya, ia seringkali mengusili penghuni hutan lainnya.
Suatu hari, saat sedang memanjat pohon apel, monyet melihat kura kura sedang beristirahat dibawahnya. Niat iseng monyet pun muncul. Apel yang sudah ia gigit, dibuangnya tepat mengenai tempurung kura-kura. Kura kura kecil pun kaget dan segera bersembunyi didalam tempurungnya. Monyet tertawa terbahak bahak. Mendengar tawa monyet, kura-kura menjulurlan kepalanya keluar dari tempurung.
"Hey monyet, kenapa kau lemparkan apel ini tepat diatas tempurungku?!"
Monyet berhenti tertawa dan menjawab, "salah sendiri kenapa kamu beristirahat dibawah pohon apelku"
"Pohon apelmu?" Tanya kura-kura. "Sejak kapan pohon ini menjadi milikmu?"
"Sejak aku menjadi pemanjat terhebat di hutan ini!" Jawab monyet sombong. "Kalau kau tidak terima, sini! Ku tunggu kau diatas pohon ini!"
Kurakura mendengus lalu beranjak pergi. Monyet tertawa lagi. "Dasar kura kura payah! Memanjat saja tidak bisa!"
Tak lama kemudian, seekor tupai melompat mendekat. Ia juga hendak memakan apel di pohon itu.
"Hey tupai," seru monyet. "Siapa yang mengijinkanmu makan apel di pohonku?"
"Pohonmu?" Cicit tupai. "Sejak kapan pohon apel ini menjadi milikmu?"
"Sejak aku menjadi pemanjat terhebat di hutan ini!", Sahut monyet.
Tupai tertawa terbahak bahak. "Pohon apel ini adalah milik seluruh penghuni hutan. Semua penghuni hutan berhak memakan buahnya. Lagipula, siapa yang bilang bahwa kau pemanjat terhebat?"
"Tentu saja aku yang terhebat. Tak ada yang lebih pandai memanjat daripada aku!", Seru monyet.
"Kalau hanya memanjat sepertimu, aku juga bisa!" Jawab Tupai sambil memetik sebuah apel dan memakannya.
Melihat Tupai yang tidak mau menuruti kata-katanya, monyet jadi sebal. Ia pun menantang Tupai.
"Hey tupai kecil, kalau kau memang pandai memanjat, mari kita bertarung! Aku tantang kau untuk balapan memanjat dan melompat dari pohon ke pohon. Dimulai dari pohon apel ini, hingga ke pohon di dekat sungai itu!" Seru monyet.
Tupai kecil mengangguk menyanggupi tantangan monyet. Dalam hati, monyet yakin akan menang. Sebab ia tau, sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Peribahasa itu tidak berlaku untuk monyet.
Kedua hewan itu turun kebawah tanah. Dengan aba aba dari monyet, pada hitungan ketiga mereka mulai memanjat dan saling melompat. Mereka bersalip salipan, cepat sekali seperti kilat. Hingga di pohon kelima sebelum pohon terakhir di tepi sungai, tupai kecil tergelincir. Monyet tertawa terbahak bahak melihat tupai terjatuh. Monyet tidak melihat kedepan hingga akhirnya BRUKKK !!! Monyet menabrak macan kumbang yang sedang tidur diatas pohon !
Macan kumbang yang kaget langsung mengaum marah. Melihat monyet bergelayutan di dahan, ia pun berusaha menerkam monyet nakal.
"Berani beraninya kau mengganggu tidur siangku! Sini kumakan kau! Mumpung aku sedang lapar belum makan siang!", Ujar macan Kumbang lalu meloncat menerkam monyet.
Monyet langsung ketakutan. Ia kembali melompat ke pohon setelahnya. Tapi sayang, rupanya itu pohon terakhir. Monyet menyadari ia pandai memanjat tapi tidak pandai berlari. Jika ia turun ke tanah, macan kumbang akan lebih mudah menerkamnya. Tapi macan kumbang tidak bisa berenang. Pilihannya hanya lompat kesungai. Sayangnya, monyet nakal itu juga tidak bisa berenang!
Disaat genting itu, monyet melihat kura kura berjalan lambat menyeburkan dirinya ke sungai dan berenang ke sebrang. Berbeda dengan di darat, didalam air kura kura bisa berenang dengan cepat.
"Hey kura-kura!" Seru monyet. "Aku akan lompat ke sungai. Nanti biarkan aku naik ke tempurungmu ya, aku tidak bisa berenang! Dan aku harus kabur dari macan kumbang ini!"
Ketika macan kumbang semakin dekat, monyet nekat lompat ke sungai. Ia berteriak minta pertolongan karna tak bisa berenang.
"Kura-kura! Kemarilah tolong aku! Biarkan aku naik ke tempurungmu. Aku tak bisa berenang!"
Kura kura tua itu hanya menoleh sekilas dan berkata, "minta tolong saja pada pohon apelmu. Bukankah kau pemanjat terhebat di hutan ini? Sayang sekali, kau payah dalam berenang!"
Kura kura melanjutkan berenang dengan cepat ke sebrang. monyet nakal akhirnya terseret arus sungai dan hanyut entah kemana. Macan kumbang kembali ke pohon tempat peristirahatnnya. Sedangkan tupai kecil itu terkikik geli di tanah. Sebab ia bukannya benar benar terjatuh. Ia sengaja menjatuhkan diri karna tau bahwa di pohon ketiga sebelum pohon terakhir di tepi sungai adalah tempat istirahat macan kumbang. Tupai pun kembali ke pohon apel tadi dan makan dengan tenang.
Suatu hari, saat sedang memanjat pohon apel, monyet melihat kura kura sedang beristirahat dibawahnya. Niat iseng monyet pun muncul. Apel yang sudah ia gigit, dibuangnya tepat mengenai tempurung kura-kura. Kura kura kecil pun kaget dan segera bersembunyi didalam tempurungnya. Monyet tertawa terbahak bahak. Mendengar tawa monyet, kura-kura menjulurlan kepalanya keluar dari tempurung.
"Hey monyet, kenapa kau lemparkan apel ini tepat diatas tempurungku?!"
Monyet berhenti tertawa dan menjawab, "salah sendiri kenapa kamu beristirahat dibawah pohon apelku"
"Pohon apelmu?" Tanya kura-kura. "Sejak kapan pohon ini menjadi milikmu?"
"Sejak aku menjadi pemanjat terhebat di hutan ini!" Jawab monyet sombong. "Kalau kau tidak terima, sini! Ku tunggu kau diatas pohon ini!"
Kurakura mendengus lalu beranjak pergi. Monyet tertawa lagi. "Dasar kura kura payah! Memanjat saja tidak bisa!"
Tak lama kemudian, seekor tupai melompat mendekat. Ia juga hendak memakan apel di pohon itu.
"Hey tupai," seru monyet. "Siapa yang mengijinkanmu makan apel di pohonku?"
"Pohonmu?" Cicit tupai. "Sejak kapan pohon apel ini menjadi milikmu?"
"Sejak aku menjadi pemanjat terhebat di hutan ini!", Sahut monyet.
Tupai tertawa terbahak bahak. "Pohon apel ini adalah milik seluruh penghuni hutan. Semua penghuni hutan berhak memakan buahnya. Lagipula, siapa yang bilang bahwa kau pemanjat terhebat?"
"Tentu saja aku yang terhebat. Tak ada yang lebih pandai memanjat daripada aku!", Seru monyet.
"Kalau hanya memanjat sepertimu, aku juga bisa!" Jawab Tupai sambil memetik sebuah apel dan memakannya.
Melihat Tupai yang tidak mau menuruti kata-katanya, monyet jadi sebal. Ia pun menantang Tupai.
"Hey tupai kecil, kalau kau memang pandai memanjat, mari kita bertarung! Aku tantang kau untuk balapan memanjat dan melompat dari pohon ke pohon. Dimulai dari pohon apel ini, hingga ke pohon di dekat sungai itu!" Seru monyet.
Tupai kecil mengangguk menyanggupi tantangan monyet. Dalam hati, monyet yakin akan menang. Sebab ia tau, sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Peribahasa itu tidak berlaku untuk monyet.
Kedua hewan itu turun kebawah tanah. Dengan aba aba dari monyet, pada hitungan ketiga mereka mulai memanjat dan saling melompat. Mereka bersalip salipan, cepat sekali seperti kilat. Hingga di pohon kelima sebelum pohon terakhir di tepi sungai, tupai kecil tergelincir. Monyet tertawa terbahak bahak melihat tupai terjatuh. Monyet tidak melihat kedepan hingga akhirnya BRUKKK !!! Monyet menabrak macan kumbang yang sedang tidur diatas pohon !
Macan kumbang yang kaget langsung mengaum marah. Melihat monyet bergelayutan di dahan, ia pun berusaha menerkam monyet nakal.
"Berani beraninya kau mengganggu tidur siangku! Sini kumakan kau! Mumpung aku sedang lapar belum makan siang!", Ujar macan Kumbang lalu meloncat menerkam monyet.
Monyet langsung ketakutan. Ia kembali melompat ke pohon setelahnya. Tapi sayang, rupanya itu pohon terakhir. Monyet menyadari ia pandai memanjat tapi tidak pandai berlari. Jika ia turun ke tanah, macan kumbang akan lebih mudah menerkamnya. Tapi macan kumbang tidak bisa berenang. Pilihannya hanya lompat kesungai. Sayangnya, monyet nakal itu juga tidak bisa berenang!
Disaat genting itu, monyet melihat kura kura berjalan lambat menyeburkan dirinya ke sungai dan berenang ke sebrang. Berbeda dengan di darat, didalam air kura kura bisa berenang dengan cepat.
"Hey kura-kura!" Seru monyet. "Aku akan lompat ke sungai. Nanti biarkan aku naik ke tempurungmu ya, aku tidak bisa berenang! Dan aku harus kabur dari macan kumbang ini!"
Ketika macan kumbang semakin dekat, monyet nekat lompat ke sungai. Ia berteriak minta pertolongan karna tak bisa berenang.
"Kura-kura! Kemarilah tolong aku! Biarkan aku naik ke tempurungmu. Aku tak bisa berenang!"
Kura kura tua itu hanya menoleh sekilas dan berkata, "minta tolong saja pada pohon apelmu. Bukankah kau pemanjat terhebat di hutan ini? Sayang sekali, kau payah dalam berenang!"
Kura kura melanjutkan berenang dengan cepat ke sebrang. monyet nakal akhirnya terseret arus sungai dan hanyut entah kemana. Macan kumbang kembali ke pohon tempat peristirahatnnya. Sedangkan tupai kecil itu terkikik geli di tanah. Sebab ia bukannya benar benar terjatuh. Ia sengaja menjatuhkan diri karna tau bahwa di pohon ketiga sebelum pohon terakhir di tepi sungai adalah tempat istirahat macan kumbang. Tupai pun kembali ke pohon apel tadi dan makan dengan tenang.
Sabtu, 09 Maret 2019
Pentingnya Memiliki Teman Dari Berbagai Kasta
Kacang lupa kulitnya!
Peribahasa ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang ketika susah dia ada bersama kita namun ketika dia senang malah bersama orang lain. Seolah orang itu melupakan teman yang menemaninya disaat susah. Tapi apa benar seperti itu? Atau malah "teman disaat susah" nya itulah yang tidak bisa diajak "senang" ?
Sejatinya kita hidup adalah untuk menunggu mati. Sambil menunggu datangnya kematian, tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan sebaik baiknya. Salah satu diantara menjalani hidup dengan sebaik baiknya itu adalah dengan menjalani berbagai macam kegiatan sehingga pengalaman kita akan semakin banyak. Dari berbagai pengalaman itulah proses pendewasaan diri terjadi. Selain itu juga akan semakin menambah relasi dan pertemanan. Jadi jangan heran jika kita lupa sama temen SD karna kita sibuk berproses bersama teman SMP. Lupa teman SMP karna sibuk dengan teman SMA. Lupa teman SMA karna sibuk dengan teman kuliah. Lupa teman kuliah karna sibuk dengan rekan kerja. Lupa rekan kerja karna sudah resign dan sibuk dengan anak. Hal yang sama akan terus berlaku hingga kita tua dan mati. Dari sini pula kita bisa menghitung seberapa banyak teman yang kita kumpulkan dari jaman sekolah hingga saat ini. Apakah kita masih bisa menjalin silaturahmi dengan kawan2 kita, baik yang lama ataupun yang baru.
Ada tipe teman yang bisa diajak maju dan ada juga yang tidak. Misalnya saja, ketika jaman kuliah dan kamu masih bergantung pada kiriman bulanan orang tua. Mau gak mau kamu harus berhemat. Gak jarang, kamu dan teman2 kos mu akhirnya sepakat untuk urunan di akhir bulan. Masak2an supaya bisa lebih irit. Lalu ketika kamu akhirnya lulus dan bekerja, kamu punya penghasilan sendiri yang mencukupi untuk makan di restoran tanpa perlu berhemat di akhir bulan, dan kamu menikmati hasil jerih payahmu dengan makan bersama rekan kerjamu, apakah berarti kamu melupakan teman kos mu yang dulu bersusah susah di akhir bulan? Tidak begitu cara kerjanya, ferguso.
Hidup terus berjalan, kebutuhan seseorang juga berubah mengikuti uang yang ia dapatkan. Jika pada akhirnya kamu mampu untuk sedikit bersenang senang, bukan berarti kamu melupakan teman lamamu hanya karna kamu menikmati dengan teman lainnya. Tapi karna prosesnya memang berjalan seperti itu. Apalagi jika ternyata teman kosmu, eh teman lamamu maksudnya, masih saja belum bekerja dan hanya ingin ditraktir. Sekali dua kali boleh lah berbagi rejeki, tapi ya ngga setiap saat juga kan? kamu tidak perlu bertanggung jawab atas urusan perut temanmu. Kamu bukan dinas sosial. Apalagi kalo teman (lama) mu itu ngakunya kesulitan beli makan tapi bisa beli baju baru, sepatu baru, tas baru, dan itu branded semua. Uangmu ga akan cukup untuk mengenyangkan gaya hidupnya. Lebih baik bahagiakan dirimu sendiri. Toh kamu tidak menyakiti orang lain.
Jika akhirnya kamu dicap kacang lupa kulitnya dengan kasus seperti diatas, chillax dude ! Chill and relax. Memang ada tipe manusia kacang lupa kulit. Tapi juga ada tipe manusia tak tau diri yang sukanya playing victim. Merasa ditinggalkan, padahal dia sendiri yang memang tidak mau diajak bergerak. Maunya digendong kemana kemana. Lah dipikir mbah surip kali yak? Lagian mbah surip juga udah almarhum, siapa lagi yang mau gendong?
"Jangan lihat umur seseorang dari angka, tapi dari berapa teman yang ia miliki"
Simpelnya begini, ketika kamu sukses, maka akan banyak sekali orang2 yang mengaku sebagai teman. Jadi ketika kamu bertambah tua, seharusnya kamu semakin banyak memakan asam garam kehidupan yang membuatmu bertambah sukses, dan (yang mengaku sebagai) temanmu pastinya juga lebih banyak. Begitulah siklus kehidupan. Semut saja suka mengerubungi gula yang manis, apalagi manusia.
Maka dari itu, inilah pentingnya memiliki teman dari berbagai kasta. Supaya kamu tau mana teman yang bisa diajak susah dan mana teman yang cuma bisa bikin susah. Mana teman yang bisa diajak senang dan mana teman yang maunya cuma waktu senang. Semakin banyak manusia yang kamu temui, kamu akan makin banyak belajar soal karakter manusia. Hingga pada akhirnya kamu bisa lebih selektif untuk membedakan mana yang bisa dipanggil teman dan mana yang bisa dianggap sahabat.
Karna satu sahabat jauh lebih berarti daripada seratus teman.
Peribahasa ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang ketika susah dia ada bersama kita namun ketika dia senang malah bersama orang lain. Seolah orang itu melupakan teman yang menemaninya disaat susah. Tapi apa benar seperti itu? Atau malah "teman disaat susah" nya itulah yang tidak bisa diajak "senang" ?
Sejatinya kita hidup adalah untuk menunggu mati. Sambil menunggu datangnya kematian, tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan sebaik baiknya. Salah satu diantara menjalani hidup dengan sebaik baiknya itu adalah dengan menjalani berbagai macam kegiatan sehingga pengalaman kita akan semakin banyak. Dari berbagai pengalaman itulah proses pendewasaan diri terjadi. Selain itu juga akan semakin menambah relasi dan pertemanan. Jadi jangan heran jika kita lupa sama temen SD karna kita sibuk berproses bersama teman SMP. Lupa teman SMP karna sibuk dengan teman SMA. Lupa teman SMA karna sibuk dengan teman kuliah. Lupa teman kuliah karna sibuk dengan rekan kerja. Lupa rekan kerja karna sudah resign dan sibuk dengan anak. Hal yang sama akan terus berlaku hingga kita tua dan mati. Dari sini pula kita bisa menghitung seberapa banyak teman yang kita kumpulkan dari jaman sekolah hingga saat ini. Apakah kita masih bisa menjalin silaturahmi dengan kawan2 kita, baik yang lama ataupun yang baru.
Ada tipe teman yang bisa diajak maju dan ada juga yang tidak. Misalnya saja, ketika jaman kuliah dan kamu masih bergantung pada kiriman bulanan orang tua. Mau gak mau kamu harus berhemat. Gak jarang, kamu dan teman2 kos mu akhirnya sepakat untuk urunan di akhir bulan. Masak2an supaya bisa lebih irit. Lalu ketika kamu akhirnya lulus dan bekerja, kamu punya penghasilan sendiri yang mencukupi untuk makan di restoran tanpa perlu berhemat di akhir bulan, dan kamu menikmati hasil jerih payahmu dengan makan bersama rekan kerjamu, apakah berarti kamu melupakan teman kos mu yang dulu bersusah susah di akhir bulan? Tidak begitu cara kerjanya, ferguso.
Hidup terus berjalan, kebutuhan seseorang juga berubah mengikuti uang yang ia dapatkan. Jika pada akhirnya kamu mampu untuk sedikit bersenang senang, bukan berarti kamu melupakan teman lamamu hanya karna kamu menikmati dengan teman lainnya. Tapi karna prosesnya memang berjalan seperti itu. Apalagi jika ternyata teman kosmu, eh teman lamamu maksudnya, masih saja belum bekerja dan hanya ingin ditraktir. Sekali dua kali boleh lah berbagi rejeki, tapi ya ngga setiap saat juga kan? kamu tidak perlu bertanggung jawab atas urusan perut temanmu. Kamu bukan dinas sosial. Apalagi kalo teman (lama) mu itu ngakunya kesulitan beli makan tapi bisa beli baju baru, sepatu baru, tas baru, dan itu branded semua. Uangmu ga akan cukup untuk mengenyangkan gaya hidupnya. Lebih baik bahagiakan dirimu sendiri. Toh kamu tidak menyakiti orang lain.
Jika akhirnya kamu dicap kacang lupa kulitnya dengan kasus seperti diatas, chillax dude ! Chill and relax. Memang ada tipe manusia kacang lupa kulit. Tapi juga ada tipe manusia tak tau diri yang sukanya playing victim. Merasa ditinggalkan, padahal dia sendiri yang memang tidak mau diajak bergerak. Maunya digendong kemana kemana. Lah dipikir mbah surip kali yak? Lagian mbah surip juga udah almarhum, siapa lagi yang mau gendong?
"Jangan lihat umur seseorang dari angka, tapi dari berapa teman yang ia miliki"
Simpelnya begini, ketika kamu sukses, maka akan banyak sekali orang2 yang mengaku sebagai teman. Jadi ketika kamu bertambah tua, seharusnya kamu semakin banyak memakan asam garam kehidupan yang membuatmu bertambah sukses, dan (yang mengaku sebagai) temanmu pastinya juga lebih banyak. Begitulah siklus kehidupan. Semut saja suka mengerubungi gula yang manis, apalagi manusia.
Maka dari itu, inilah pentingnya memiliki teman dari berbagai kasta. Supaya kamu tau mana teman yang bisa diajak susah dan mana teman yang cuma bisa bikin susah. Mana teman yang bisa diajak senang dan mana teman yang maunya cuma waktu senang. Semakin banyak manusia yang kamu temui, kamu akan makin banyak belajar soal karakter manusia. Hingga pada akhirnya kamu bisa lebih selektif untuk membedakan mana yang bisa dipanggil teman dan mana yang bisa dianggap sahabat.
Karna satu sahabat jauh lebih berarti daripada seratus teman.
Selasa, 26 Februari 2019
Mandiri atau malah Memforsir diri sendiri ?
Aku dibesarkan oleh ibu yg seorang wanita karir, sehingga masa kecilku lebih banyak kenangan dengan eyang dan mbak dar daripada orang tuaku sendiri. Tapi bukan berarti aku tidak punya kenangan bersama mereka, ya.
Aku masih ingat, perjuangan ibuku yang berkutat mencari uang dari pagi sampai petang dan masih harus mengurusku sepulang kerja. Itu pasti berat, aku bisa merasakannya. Di setiap istirahat siang, ibu selalu menyempatkan diri untuk pulang menemuiku. Lalu tiap ibu akan kembali bekerja, aku selalu menyembunyikan sepatunya, supaya ibu gak bisa kerja dan dirumah saja menemaniku bermain.
Aku juga ingat ketika masuk SD, ada beberapa teman yang ditunggui oleh ibunya dari awal hingga pulang sekolah. Ibuku? Jelas tidak ada. Tapi ketika aku merengek, ibu menyempatkan untuk menungguiku di suatu sabtu. Aku senang. Tapi ibu tidak. Ibu bosan dan merasa bahwa menunggu adalah hal yg sia2. Karna anak ibu bukan cuma aku saja. Ada adikku yg masih bayi merah, yg lebih penting untuk dijaga. Jadi sabtu itu menjadi sabtu pertama dan terakhir ibu menungguku full time.
Juga ketika ibu pindah kerja yang mengharuskannya pulang lebih malam. Bahkan ibu harus lembur di hari sabtu. Hari dimana seharunya ibu bisa bermain dengan anak anaknya dirumah. Apalagi bapak pindah kerja ke juanda, sehingga domisili kami pun berpindah. Ibu harus rela tiap hari PP sidoarjo-surabaya. Sedangkan aku dititipkan di rumah eyang. Adek lebih kasian lagi, karna masa kecilnya habis dengan pembantu, tanpa pengawasan eyang.
Pernah di suatu sabtu yg terik, ibu menjemputku pulang sekolah. Khusus hari sabtu dan minggu, aku akan pulang ke sidoarjo, berkumpul dg adik setelah senin sampai jumat kuhabiskan menjadi anak eyang. Siang di hari sabtu itu, ban motor ibu bocor. Aku diminta turun dan menuntun. Sedangkan adikku yang masih TK dibiarkan bernyanyi diatas motor. Aku iri, karna adik tidak merasakan lelahnya berjalan. Lalu minggu depannya, ketika ibu menjemputku dengan adik, badanku demam. Ban motor ibu bocor lagi. Kali ini, karna aku sedang demam, aku tidak ikut turun dari motor. Ibuku seorang diri menuntun motor dengan aku dan adik diatasnya. Disitu aku merasa bersalah karna pernah iri dengan adikku. Ibuku pasti lelah. Dan aku sebagai si sulunglah yang harus meringankan bebannya. Karna si bungsu terlalu kecil untuk harus ikut berjalan. Itu bukti cinta ibu untuk kami.
Meski begitu, harusnya ibuku jangan terlalu pelit untuk mengganti ban motornya. Supaya tidak bocor tiap sabtu. Mandiri sih mandiri, tapi yaa jangan menyiksa diri sendiri juga.
Inilah yang akhirnya mendasariku untuk menulis blog ini. Tentang kemandirian yang akhirnya malah jadi memforsir diri sendiri. Adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita bisa melakukan segala sesuatu sendiri, kita boleh mencap itu sebagai mandiri. Tapi jika lalu semua hal mau kita lakukan sendiri dan menolak bantuan orang lain, bisa dibilang itu memforsir diri sendiri.
Ibuku adl seorang perempuan mandiri. Aku yakin ibu akan tetap survive jika harus menjadi single mother. Tapi lama kelamaan aku merasa ibu terlalu keras dalam menekan dirinya. Segala sesuatu dilakoninya hingga titik jenuh. Lalu ketika ibu lelah, beliau akan meledak dan semua kena imbasnya. Terutama aku, si sulung yg harusnya bisa meringankan pekerjaan ibu
Hal ini terlebih kurasakan setelah aku menikah dan punya anak. Ibu memiliki standar menjadi seorang istri dan ibu. Dan standar itu dipaksakan ke aku, yang sebenarnya juga memiliki standar sendiri. Bagi ibu, aku terlalu pemalas. Bagiku sendiri, kenapa harus ngoyo jika bisa dilakukan dengan santai? Toh tujuan sama sama tercapai?
Misalnya saja, untuk acara pupak pusar anak kami. Aku memutuskan untuk pesan makanan saja. Memang lebih mahal, tapi kan tidak perlu repot memasak. Apalagi aku masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Dan lagi, memiliki bayi itu butuh tenaga ekstra. Gak mungkin kita bisa masak besar sambil mengurus bayi sekaligus. Lebih baik pesan saja, toh selisihnya ngga banyak.
Tapi yang menurutku tidak banyak, bagi ibuku itu banyak. Ibu memaksakan diri untuk memasak. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika lelah, ibu meledak. Karna bagi ibu aku tidak mau membantu. Padahal aku sendiri pun sedang masa pemulihan. Hal hal macam ini yg seringkali menjadi perdebatan kami. Mengenai ibu yang memaksaku mandiri dan aku yang merasa ibu sedang memforsir diri sendiri.
Hal ini berlanjut, bahkan semakin parah, ketika aku memiliki anak kedua. Si sulung berumur 2 tahun ketika adiknya lahir. Dia sedang aktif2nya. Aku dibantu mertua untuk menghandle si sulung, sedangkan aku sibuk mengurus adiknya. Lalu ibu datang dan membantuku mengurus segalanya. Segalanya, termasuk si sulung. Ibu inginnya si sulunh di handel oleh ibu. Selain itu ibu juga akan brbelanja, memasak dan mengurus rumahku. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika ibu lelah, ibu mengharap aku lebih mandiri dalam mengurus dan bertanggung jawab atas si sulung disaat tanganku sibuk mendekap si kecil.
"Sudahlah, bu. Si sulung titipkan saja ke mertua", kataku waktu itu. Tapi ibu menolak keras.
"Jangan, kasian mertuamu capek!"
Aku memutar bola mataku. Bermain dengan sulung adl hiburan untuk mertuaku. Dan beliau tidak keberatan dengan hal itu. Kenapa ibu selalu berusaha menghandle segalanya sendiri saat orang lain menawarkan bantuan?
"Sudahlah bu, jangan memforsiri diri sendiri. Ibu kasian dengan mertua, tapi ibu tidak kasian dengan diri ibu sendiri"
Ketika kubilang, ibuku lalu marah.
"Ibu masih kuat!" Kata beliau. "Nantilah mertuamu yang urus kalo ibu sudah tidak kuat"
"Nanti itu kapan? Nanti ketika petang? Ketika mertua tidak bisa diganggu karna khusyuk sembahyang? Akhirnya nanti ibu lagi yang akan kelelahan dan menghandle semua sendiri. Lalu ujung2nya, aku lagi yang bakal ngurusin. Bu, jangan lupa, anak ini masih punya ayah. Ayahnya juga harus mengurusnya"
"Kasian suamimu capek kerja"
"Pemikiran macam ini yang menjadikan lelaki itu oemalas dan perempuan jadi budak !" Maki ku dalam hati. Tak berani mengeluarkan uneg uneg ini karna takut dikutuk jadi tai.
Akhirnya ingatanku terbuka lagi. Selama ini kurasa yang berjuang hanya ibuku saja. Ketika ibu menuntun motor dengan ban bocor, dimana ayahku? Aku menemukannya asik bercengkrama di warung kopi. Dan hal yang sama terjadi padaku kini. Ketika aku sibuk mengganti popok anak anakku, ku temukan suamiku di warung kopi. Lalu pulang dengan keluh kesah lelah. Lelah, tapi bisa ngopi. Hebat.
Sempat aku protes, kenapa lelaki begitu tidak peka. Kenapa harus perempuan yang terus dituntut menjadi multi tasking. Lalu aku ingat lagi. Bapakku, yang kutemukan bercengkrama di warung kopi saat ibuku menuntun motor dengan ban bocor, sebenarnya sudah memenuhi tanggung jawabnya untuk mengganti ban lama dengan yang baru. Tapi ibu menolak. Karna ban lama masih bisa ditambal. Uangnya lebih baik untuk tambahan tabunganku dan adik saja.
Sama, ketika kutemukan suamiku asik di warung kopi saat aku sibuk mengganti popok yang bocor berkali kali, sebenarnya dia sudah melakukan tanggung jawabnya untuk membelikanku diapers. Hanya aku saja yang menolaknya dengan alasan, uang diapers lebih baik ditabung untuk anak2 saja. aku masih kuat mencuci.
Tanpa sadar, aku pun menjadi orang yang memforsir diri sendiri. Parahnya, aku kecewa karna terlalu berharap orang lain akan melakukan hal yg sama denganku, disaat sebenarnya mereka sudah menawarkan bantuan tapi justru ku tolak.
Aku tidak ingin menjadi seperti ibuku yang selalu terlihat kelelahan. Aku ingin menjalaninya dengan lebih santai, yang penting segala sesuatunya tercapai.
Karna manusia adl makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, maka Aku hanya ingin menjadi mandiri. Tanpa memforsir diri sendiri.
Aku masih ingat, perjuangan ibuku yang berkutat mencari uang dari pagi sampai petang dan masih harus mengurusku sepulang kerja. Itu pasti berat, aku bisa merasakannya. Di setiap istirahat siang, ibu selalu menyempatkan diri untuk pulang menemuiku. Lalu tiap ibu akan kembali bekerja, aku selalu menyembunyikan sepatunya, supaya ibu gak bisa kerja dan dirumah saja menemaniku bermain.
Aku juga ingat ketika masuk SD, ada beberapa teman yang ditunggui oleh ibunya dari awal hingga pulang sekolah. Ibuku? Jelas tidak ada. Tapi ketika aku merengek, ibu menyempatkan untuk menungguiku di suatu sabtu. Aku senang. Tapi ibu tidak. Ibu bosan dan merasa bahwa menunggu adalah hal yg sia2. Karna anak ibu bukan cuma aku saja. Ada adikku yg masih bayi merah, yg lebih penting untuk dijaga. Jadi sabtu itu menjadi sabtu pertama dan terakhir ibu menungguku full time.
Juga ketika ibu pindah kerja yang mengharuskannya pulang lebih malam. Bahkan ibu harus lembur di hari sabtu. Hari dimana seharunya ibu bisa bermain dengan anak anaknya dirumah. Apalagi bapak pindah kerja ke juanda, sehingga domisili kami pun berpindah. Ibu harus rela tiap hari PP sidoarjo-surabaya. Sedangkan aku dititipkan di rumah eyang. Adek lebih kasian lagi, karna masa kecilnya habis dengan pembantu, tanpa pengawasan eyang.
Pernah di suatu sabtu yg terik, ibu menjemputku pulang sekolah. Khusus hari sabtu dan minggu, aku akan pulang ke sidoarjo, berkumpul dg adik setelah senin sampai jumat kuhabiskan menjadi anak eyang. Siang di hari sabtu itu, ban motor ibu bocor. Aku diminta turun dan menuntun. Sedangkan adikku yang masih TK dibiarkan bernyanyi diatas motor. Aku iri, karna adik tidak merasakan lelahnya berjalan. Lalu minggu depannya, ketika ibu menjemputku dengan adik, badanku demam. Ban motor ibu bocor lagi. Kali ini, karna aku sedang demam, aku tidak ikut turun dari motor. Ibuku seorang diri menuntun motor dengan aku dan adik diatasnya. Disitu aku merasa bersalah karna pernah iri dengan adikku. Ibuku pasti lelah. Dan aku sebagai si sulunglah yang harus meringankan bebannya. Karna si bungsu terlalu kecil untuk harus ikut berjalan. Itu bukti cinta ibu untuk kami.
Meski begitu, harusnya ibuku jangan terlalu pelit untuk mengganti ban motornya. Supaya tidak bocor tiap sabtu. Mandiri sih mandiri, tapi yaa jangan menyiksa diri sendiri juga.
Inilah yang akhirnya mendasariku untuk menulis blog ini. Tentang kemandirian yang akhirnya malah jadi memforsir diri sendiri. Adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita bisa melakukan segala sesuatu sendiri, kita boleh mencap itu sebagai mandiri. Tapi jika lalu semua hal mau kita lakukan sendiri dan menolak bantuan orang lain, bisa dibilang itu memforsir diri sendiri.
Ibuku adl seorang perempuan mandiri. Aku yakin ibu akan tetap survive jika harus menjadi single mother. Tapi lama kelamaan aku merasa ibu terlalu keras dalam menekan dirinya. Segala sesuatu dilakoninya hingga titik jenuh. Lalu ketika ibu lelah, beliau akan meledak dan semua kena imbasnya. Terutama aku, si sulung yg harusnya bisa meringankan pekerjaan ibu
Hal ini terlebih kurasakan setelah aku menikah dan punya anak. Ibu memiliki standar menjadi seorang istri dan ibu. Dan standar itu dipaksakan ke aku, yang sebenarnya juga memiliki standar sendiri. Bagi ibu, aku terlalu pemalas. Bagiku sendiri, kenapa harus ngoyo jika bisa dilakukan dengan santai? Toh tujuan sama sama tercapai?
Misalnya saja, untuk acara pupak pusar anak kami. Aku memutuskan untuk pesan makanan saja. Memang lebih mahal, tapi kan tidak perlu repot memasak. Apalagi aku masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Dan lagi, memiliki bayi itu butuh tenaga ekstra. Gak mungkin kita bisa masak besar sambil mengurus bayi sekaligus. Lebih baik pesan saja, toh selisihnya ngga banyak.
Tapi yang menurutku tidak banyak, bagi ibuku itu banyak. Ibu memaksakan diri untuk memasak. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika lelah, ibu meledak. Karna bagi ibu aku tidak mau membantu. Padahal aku sendiri pun sedang masa pemulihan. Hal hal macam ini yg seringkali menjadi perdebatan kami. Mengenai ibu yang memaksaku mandiri dan aku yang merasa ibu sedang memforsir diri sendiri.
Hal ini berlanjut, bahkan semakin parah, ketika aku memiliki anak kedua. Si sulung berumur 2 tahun ketika adiknya lahir. Dia sedang aktif2nya. Aku dibantu mertua untuk menghandle si sulung, sedangkan aku sibuk mengurus adiknya. Lalu ibu datang dan membantuku mengurus segalanya. Segalanya, termasuk si sulung. Ibu inginnya si sulunh di handel oleh ibu. Selain itu ibu juga akan brbelanja, memasak dan mengurus rumahku. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika ibu lelah, ibu mengharap aku lebih mandiri dalam mengurus dan bertanggung jawab atas si sulung disaat tanganku sibuk mendekap si kecil.
"Sudahlah, bu. Si sulung titipkan saja ke mertua", kataku waktu itu. Tapi ibu menolak keras.
"Jangan, kasian mertuamu capek!"
Aku memutar bola mataku. Bermain dengan sulung adl hiburan untuk mertuaku. Dan beliau tidak keberatan dengan hal itu. Kenapa ibu selalu berusaha menghandle segalanya sendiri saat orang lain menawarkan bantuan?
"Sudahlah bu, jangan memforsiri diri sendiri. Ibu kasian dengan mertua, tapi ibu tidak kasian dengan diri ibu sendiri"
Ketika kubilang, ibuku lalu marah.
"Ibu masih kuat!" Kata beliau. "Nantilah mertuamu yang urus kalo ibu sudah tidak kuat"
"Nanti itu kapan? Nanti ketika petang? Ketika mertua tidak bisa diganggu karna khusyuk sembahyang? Akhirnya nanti ibu lagi yang akan kelelahan dan menghandle semua sendiri. Lalu ujung2nya, aku lagi yang bakal ngurusin. Bu, jangan lupa, anak ini masih punya ayah. Ayahnya juga harus mengurusnya"
"Kasian suamimu capek kerja"
"Pemikiran macam ini yang menjadikan lelaki itu oemalas dan perempuan jadi budak !" Maki ku dalam hati. Tak berani mengeluarkan uneg uneg ini karna takut dikutuk jadi tai.
Akhirnya ingatanku terbuka lagi. Selama ini kurasa yang berjuang hanya ibuku saja. Ketika ibu menuntun motor dengan ban bocor, dimana ayahku? Aku menemukannya asik bercengkrama di warung kopi. Dan hal yang sama terjadi padaku kini. Ketika aku sibuk mengganti popok anak anakku, ku temukan suamiku di warung kopi. Lalu pulang dengan keluh kesah lelah. Lelah, tapi bisa ngopi. Hebat.
Sempat aku protes, kenapa lelaki begitu tidak peka. Kenapa harus perempuan yang terus dituntut menjadi multi tasking. Lalu aku ingat lagi. Bapakku, yang kutemukan bercengkrama di warung kopi saat ibuku menuntun motor dengan ban bocor, sebenarnya sudah memenuhi tanggung jawabnya untuk mengganti ban lama dengan yang baru. Tapi ibu menolak. Karna ban lama masih bisa ditambal. Uangnya lebih baik untuk tambahan tabunganku dan adik saja.
Sama, ketika kutemukan suamiku asik di warung kopi saat aku sibuk mengganti popok yang bocor berkali kali, sebenarnya dia sudah melakukan tanggung jawabnya untuk membelikanku diapers. Hanya aku saja yang menolaknya dengan alasan, uang diapers lebih baik ditabung untuk anak2 saja. aku masih kuat mencuci.
Tanpa sadar, aku pun menjadi orang yang memforsir diri sendiri. Parahnya, aku kecewa karna terlalu berharap orang lain akan melakukan hal yg sama denganku, disaat sebenarnya mereka sudah menawarkan bantuan tapi justru ku tolak.
Aku tidak ingin menjadi seperti ibuku yang selalu terlihat kelelahan. Aku ingin menjalaninya dengan lebih santai, yang penting segala sesuatunya tercapai.
Karna manusia adl makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, maka Aku hanya ingin menjadi mandiri. Tanpa memforsir diri sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)