Selasa, 07 September 2021

RESENSI BUKU : RAPIJALI 1 (MENCARI)

Dua hari berturut-turut menamatkan dua buku sekaligus. Wow, itu rekor baru buatku. Entah kerasukan setan apa, membaca buku-buku ringan kembali menjadi hal yang kusukai. 300 halaman terasa singkat. Bisa diselesaikan tak lebih dari sehari. Bahkan jika fokus baca tanpa mengerjakan apapun, dua jam saja cukup. Sombong amat yak.


Kali ini saya menyelesaikan bagian pertama dari buku RAPIJALI karangan Dee. Saya selalu menyukai tulisan Dee. Hampir semua novelnya tamat saya baca, kecuali Rapijali - yang memang baru terbit februari tahun ini, 2021. Rapijali sendiri merupakan karya lama yang kata Dee sudah hibernasi selama 27 tahun. Ia harus mengalah karena Dee lebih dulu melahirkan adik-adiknya. Supernova, Filosofi kopi, Madre, Rectoverso, Perahu Kertas dan yang terbaru Aroma Karsa. 


Mengingat Rapijali adalah karya pertama Dee yang draftnya dibuat di pertengahan tahun 90an saat Dee baru saja lulus SMA, saya rasa novel ini genrenya memang teenlit. Cukup bagus untuk tulisan remaja. Tapi hibernasi 27 tahun membuatnya dirombak jadi dewasa. Aku juga tidak tau apakah umur Dee membuat karakter Ping berubah jadi dewasa sebelum waktunya.


Baiklah, langsung saja aku spoil keseluruhan isi ceritanya TUNTAS, ngga gantung kayak resensi sebelumnya.


Ping. Remaja asli Batu Karas yang hidup berdua saja dengan kakek bulenya, Yuda. Bagi sebagian orang hidup Ping mengenaskan. Dia yatim piatu dan tergolong warga tidak mampu. Tersirat dari rumahnya yang kecil dan hidangan ulang tahunnya yang hanya dari Teritip, sejenis keong sungai. Tapi Ping bahagia. Aki Yuda lebih dari cukup untuk menjadi keluarga Ping.


Aki Yuda merupakan sosok nyentrik. Wajahnya bule, tapi berlogat sunda kental. Pada masa mudanya, ia merupakan vokalis Band tersohor di Bandung. Kemudian ia menepi ke Batu Karas yang saat itu masih berupa pantai terpencil dan jatuh cinta pada gadis desa bernama Hesti. Ia sempat memboyong istrinya ke Bandung sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Batu Karas dan memulai lembaran baru karena jenuh dengan kehidupan selebriti di Bandung yang mana banyak temannya meninggal karena overdosis dan gaya hidup tidak sehat lainnya. 


Saat pindah ke Batu Karas, Yuda dihadapkan pada kenyataan pahit. Istrinya meninggal setelah memiliki anak perempuan bernama Kinanti. Ia kemudian membeli tanah dan membangun penginapan dengan nama putri tunggalnya, Kinanti. Ia juga dekat dengan pemuda lokal bernama Acep. Menyadari potensi Acep sebagai atlit selancar dan mengirimnya hingga ke Australia. Menjadi sosok bapak untuk Acep, bahkan memperbaiki warung peninggalan almarhum ayah Acep hingga menjadi rumah makan terbesar di Batu Karas.


Waktu berlalu. Batu Karas kedatangan sosok baru bernama Guntur yang dinaungi LSM. Kinanti jatuh ke pelukan Guntur hingga akhirnya hamil. Guntur jadi lelaki brengsek yang pergi meninggalkan Kinanti dan Batu Karas, kembali ke Jakarta. Bayi dalam kandungannya diberi nama Lovinka, atau biasa dipanggil Ping. Sayang Kinanti meninggal saat melahirkan Ping. Kelahiran Ping hanya berselang beberapa bulan dengan Oding, anak Acep. Sejak saat itu, Ping dibesarkan oleh Yuda, dibantu keluarga kecil Acep yang memang lama tak memiliki anak. Ping dan Oding jadi sahabat kental, tak terpisahkan. Oding sendiri tumbuh jadi pemuda tampan kharismatik yang berpotensi besar menjadi atlit surfing internasional. Berbeda dengan Ping yang tidak bisa berselancar, namun jenius dalam bidang musik. Ping hidup dalam musik kakeknya. Ia amat peka dengan suara. Bakatnya alami. Ototdidak. Ia hanya tidak bisa baca not balok.


Meski pindah ke Batu Karas, tak lantas membuat Yuda meninggalkan hobby bermusiknya. Bersama para manula, ia membentuk sebuah band bernama D'Brehoh, yang sering manggung di Pangandaran. Ping turut serta bergabung menjadi keyboardist, back vocal atau additional player. Setiap minggu, para rocker gaek berkumpul di rumah Yuda yang meski reyot tapi memiliki studio dengan alat musik terlengkap berkualitas super.


Suatu hari kesehatan Yuda memburuk. Ia memutuskan pergi ke Jakarta, menemui Guntur, ayah Ping. Posisi Guntur sangat tidak memungkinkan karena ia sedang kampanye jadi calon gubernur Jakarta. Isu 'anak haram dari desa' tentu akan mengacaukan citranya. Dahlia, asisten Guntur, mengatur segala cara agar Guntur tetap bisa menang tanpa terganggu dengan isu anak haram. Sedangkan Guntur mengalami keraguan sebab ia telah berkeluarga. Ia tak yakin Nita, istrinya dan Ardi, anaknya, bisa menerima kehadiran Ping yang akan segera dikembalikan pada Guntur ketika Yuda tiada.

 

Cerita dimulai ketika akhirnya Yuda meninggal dan Ping pindah ke Jakarta. Ia membuat janji pada Oding bahwa setelah lulus SMA akan kembali ke Batu Karas. Oding sendiri sebenarnya sudah menata masa depan. Ia mau kuliah di Udayana, Bali dan menjadi peselancar profesional. Tapi janjinya untuk tidak meninggalkan Ping membuatnya menunggu gadis itu. Ia ingin memboyong Ping ke Bali, tapi rupanya roda terus berputar.


Ping, setibanya di Jakarta, berhasil beradaptasi dengan baik. Ia memulai sebuah band bersama Rakai, Inggil, Butho, Jemi dan Lodeh. Mereka ikut audisi di TVRI untuk jadi Band Nasional. Ia juga memberanikan diri belajar musik dari Bu Ira, guru seni sekaligus ibu Rakai. Kesibukannya membuatnya semakin jarang menghubungi Oding, yang masih saja menunggu.


Dari sini sejujurnya saya mulai tidak menyukai ceritanya.


Konflik remaja ada disini. Oding suka Ping. Ping suka Rakai. Rakai suka Jemi. Jemi suka Rakai. Ardi suka Jemi. Ardi tidak suka Ping. Bu Nita tidak suka Ping. Pak Guntur dan Dahlia punya affair. And so so lah. 


Novel berakhir dengan terciptanya kedekatan bapak anak antara Ping dan Guntur yang membuat Ardi cemburu dan Nita tidak senang. Selain itu mulai terkuak hubungan Guntur Dahlia dan kekalahan Guntur pada debat Pilgub. Lalu ditutup dengan ditemukannya buku harian Bu Nita oleh Ardi.


Apakah resensi ini cukup jelas? Sepertinya tidak, ya? Hahahaha.


Intinya, saya kurang begitu menyukai Rapijali karena terlalu ringan, bahkan untuk seorang Dee. Saya juga tidak suka karakter Ping yang diprediksi jadi pelakor antara Jemi dan Rakai. Juga tidak tega dengan Oding yang masih menunggu. Tapi, entahlah, mungkin masalah akan selesai pada buku kedua : RAPIJALI - MENJADI.


Prediksi saya dibuku kedua, konflik akan lebih berat. Perpecahan band, pertengkaran keluarga, kekalahan pilgub dan (yang paling tidak ingin saya bayangkan) kekecewaan Oding. Semoga Oding tidak menjadi Second Lead. Sebab bagi saya, Oding jauh lebih berharga dari Rakai.


Yah begitu dulu saja. Kalau tidak jelas, bisa lihat dari situs lainnya. Saya sedang tidak mood setelah selesai membacanya. Untung saja novel saya yang berikutnya sudah tiba.


Helen dan Sukanta.


Sampai jumpa pada review berikutnya !





Tidak ada komentar:

Posting Komentar