Sabtu, 18 September 2021

Malam Yang Menyenangkan

Saya mengalami malam yang sangat menyenangkan. Suasana yang saya rindukan kembali hadir. Jika sekarang senja menjadi populer, maka beberapa dekade sebelumnya, malam lah yang menjadi ratu. Tentu saja dengan bulan dan bintang sebagai mahkotanya.


Semalam tadi saya pergi ke kebun. Ke sebuah rumah kayu yang tidak mirip rumah permen penyihir dari cerita Hansel and Gratel. Adzan isya' berkumandang saat saya menyiapkan teflon untuk memanggang ayam. Suami saya dan kawannya yang sekaligus pemilik kebun, menyalakan api unggun untuk mengusir nyamuk. Sebab kebun ini benar2 berada di tempat antah berantah. Listrik saja belum masuk. 


Di samping kiri kanan, albizia sinensis menjulang. Di belakang sungai bedadung mengalir. Dan di depan, jagung siap dipanen. Dalam keadaan tanpa listrik. Hanya diterangi api unggun dan sinar bulan. Romantisnya mengalahkan matahari terbenam yang kemerahan. Ditambah alunan musik dari serangga malam dan aliran air. Syahdu, sungguh.


Makanan siap. Kopi dan teh telah diseduh. Api unggun menyala. Mas Imron menyalakan musim dari speaker bluetooth. Keroncong modern. Rasanya macam sedang prasmanan di pernikahan outdoor saja. Saya jadi ingin menikah lagi. Dengan pak Klaras lagi.


Usai makan, saya rebahan di tikar. Memandang bulan yang belum purnama penuh. Venus terlihat sangat jelas bersinar kekuningan. Lalu mengalunlah lagu-lagu keroncong penuh cinta dari REMEMBER ENTERTAINMENT.


Memori saya meloncat-loncat. Pertama, pada sebuah tanggal di tahun 2006. Di sebuah pantai bernama Pangi. Didepan saya ombak berdebur. Disebelah kiri, api unggun menyala. Disebelah kanan, milo hangat tersedia. Dan di belakang saya, mas Piton tengah menggenjreng gitar. Menyanyikan TERLALU MANIS dari SLANK.


Kedua, ke sebuah tanggal di akhir tahun 2012. Saat touring vespa ke Krian. Sebagai anggota club termuda saat itu saya kebagian membelikan rokok untuk para senior. Hari itu sudah petang. Saya melintasi persawahan ditemani purnama yang bulat sempurna. Tak ada musik, namun di telinga saya mengalun lagu Yang Manis.


Malam ini terulang kembali segala memori yang dulu pernah mati suri. Bagaimana mungkin musik haram jika alunannya begitu melembutkan hati? Namun dari perbincangan singkat dengan Bu Erik, beliau berkata,


"Sebab musik membuat kita lupa berdzikir"


Aih. Sungguh aku manusia penuh dosa. Merasa musik slowrock lebih menentramkan hati daripada dzikir itu sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar