Perjalanan ini kami lakukan setahun yang lalu. Namun karena tidak sempat, akhirnya saya baru bisa menuliskannya hari ini, sekaligus mengenang perjalanan setahun lalu. Jember Probolinggo via Gunung Gambir.
Hari itu libur panjang. Suami saya mengambil cuti 3 hari. Rencananya kami akan melakukan road trip bersama TEAM PIKNIK VESPA dari Jember menuju Ranu Agung di Probolinggo, melanjutkan wisata ke pantai di kawasan Utama Raya jalur Pantura, dan pulang ke Jember melalui arak-arak. Jika dilihat di peta, rute kami memutar mengelilingi kaki pegunungan Hyang Argopuro yang memang berada di 5 Kabupaten (dulunya 4), yakni Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan terakhir sekaligus terbaru : Lumajang.
Dari kota Jember menuju Probolinggo, orang biasa menggunakan jalan nasional yang melewati kota Lumajang dan memakan waktu kurang lebih 3 jam hingga tiba di Probolinggo jika todak macet. Dari kota Probolinggo menuju Ranu Agung memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sehingga total perjalanan dari Jember menuju Ranu Agung akan memakan waktu kurang lebih 4,5 jam. Namun bila dilihat via Google Maps, jarak tempuh yang cukup panjang ini bisa dipangkas dengan melewati kawasan Gunung Gambir yang hanya butuh waktu kurang lebih 2,5 jam.
Gunung Gambir sendiri adalah sebuah kawasan perkebunan kopi yang dikelola oleh PTPN XII. Terletak di lereng selatan pegunungan Hyang Argopuro yang sekaligus menjadi perbatasan dari 3 kabupaten : Sumberbaru (Jember), Jatiroto (Lumajang) dan Tiris (Probolinggo). Sejak Lumajang mengklaim Gunung Gambir menjadi daerah wisata karena juga melewati sedikit wilayah Jatiroto, maka batas pegunungan Hyang pun bertambah di satu kabupaten lagi.
Rencananya, kami akan bervespa melalui jalur Gunung Gambir yang tidak umum dilalui kendaraan. Tapi, rencana hanyalah rencana. Kenyataan kadang tak seindah ekspektasi. Dan inilah kenyataannya...
Kamis, 29 Oktober 2020
Semalam tadi suami saya sudah mempersiapkan mesin tempur dan saya berkemas. Kami juga mempelajari jalur lewat youtube, tapi tidak ada yang menginformasikan lama tempuh perjalanannya. Lepas subuh, saya langsung membereskan rumah dan memandikan anak-anak. Pukul 7 pagi tepat, saya sudah tiba di kedai kopi Armor milik mas Blendes. Saya membawa roti goreng untuk pengganjal lapar, karena kami berencana akan brunch di gunung gambir sambil menikmati pemandangan. Rencananya memang kami akan berangkat dari Armor pukul tujuh pagi.
| doc pribadi |
Ternyata Mas Blendes masih belum selesai masak. Akhirnya keluarga kecil kami berangkat terlebih dahulu ke rumah mas Imron di Rambipuji. Untunglah mbak Iim, istri mas Imron, masih sempat masak. Saya menyuapi anak-anak saya. Anak harus tetap dalam keadaan kenyang agar tidak rewel dan masuk angin. Kalau orang tuanya sih, bodo amat. Udah terlatih dari makan air ama kerupuk doank buat ganjel lapar dari jaman ngekos. Hehehe.
Pukul 9, mas Blendes datang bersama rombongan. Manusia satu ini adalah orang yang paling cerewet kalau piknik. Perbekalannya nggak main-main. Kalau perlu, satu indomart dibawa semua. Bisa dibayangkan jaman dia dulu masih jadi mapala, mungkin kerilnya udah mirip kulkas 2 pintu!
Yang datang paling akhir adalah Pak Erik. Sekitar pukul sepuluh. Tapi kemudian vespanya dibawa keluar oleh istrinya, entah kemana. Dan Tante Nana, istri pak Erik, baru kembali pukul sebelas siang. Untunglah anak-anak sudah sarapan. Cuma daddynya yang tetep keukeuh tidak mau makan.
Daftar peserta rombongan :
Saya, Robby (suami saya), Ave, Byana (anak-anak saya)
Mas Blendes, Cetar (istri Blendes)
Mas Imron, Mbak Iim
Pak Tut, Mbak Liva (istri Pak Tut), Syifa (anak Pak Tut)
Pak Erik, Tante Nana
Bli, Ojan (Anak Buah Blendes)
2 orang Anak Buah Blendes yang saya lupa namanya
Terakhir, ada Ade yang jok belakangnya selalu kosong sehingga diisi BOX makanan beku.
Rencananya, kawan saya yang bernama Jali akan berangkat langsung dari Lumajang dan bertemu di Sumber Baru. Sedangkan Tius, kawan saya yang orang probolinggo, sudah menyiapkan tempat menginap disana.
Total ada 19 orang dengan 9 vespa.
Start berangkat dari rumah Mas Imron, Rambipuji, pukul 11.00, masih kena mogok
Dari Jember ke Gunung Gambir hanya butuh waktu 1,5 jam. Dalam catatan, jika tidak ada trouble sama sekali. Berhubung kami adalah rombongan vespa, tentu saja tidak ada cerita jika tidak mogok. Sepanjang perjalanan dari Rambipuji menuju Tanggul, vespa yang saya naiki trobel, padahal semalam sudah dipersiapkan dengan baik. Setiap kali di gas agak banter, tiba-tiba saja gasnya hilang. Beberapa kali kami berhenti untuk benerin vespa. Busi sudah di cek dan kelistrikan aman. Suami saya sempat menduga ini karena sekernya ceket sampai-sampai beberapa kali membuka blok kop.
Pom Bensin terakhir Tanggul, isi full tank 30ribu
Pom bensin terakhir ada di daerah Tanggul. Semua vespa isi bensin disini. Sebisa mungkin diisi full tank, sebab tidak ada pom bensin lagi sampai daerah tujuan. Di pusat kecamatan Tiris juga tidak ada pom. Satu-satunya pom bensin yang bisa ditemui setelah Tanggul hanya Pom Bensin di kecamatan Banyuanyar. Itupun baru berdiri di tahun 2019, sekaligus menjadi satu-satunya pom bensin harapan yang mencukupi kebutuhan bahan bakar di 5 kecamatan di kabupaten Probolinggo, yaitu Banyu Anyar, Maron, Gading, Tiris dan Krucil.
Yang paling parah si Ade. Sebab dia masih mahasiswa, dia bilang, "Mbak, tau gak, uang yang aku bawa cuma tinggal tiga puluh ribu. Tapi bensinku udah full tank. Enggak tau deh gimana nanti nasibku kalo ban bocor di jalan."
Saya cuma tertawa, "Tenang, De, aku ada ban serep. Stok makanan aman sampe 3 hari. Selama pom bensin buka, kita punya tempat buat tidur."
Saya senang menjadi mahasiswa. Mereka tidak ada tanggungan selain skripsi. Modal 30ribu rupiah saja sudah bisa touring, asal punya kebranian, niat dan kawan. Sesama scooterist tidak akan meninggalkan kawannya dalam keadaan susah.
Pukul 12.00, Vespa baru bisa berjalan lancar gara-gara ganti busi
Rambipuji - Tanggul yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, molor menjadi 1 jam karena vespa saya masih saja trobel. Belum ditemukan penyakitnya. Hingga adzan dhuhur berkumandang, kami baru saja keluar dari pom bensin terakhir di Tanggul. Lurus terus setelah pom ada pertigaan. Belok kiri ke arah jalan nasional, lurus terus ke arah sumber baru. Kami ambil lurus.
Di Sumber Baru, mas Blendes sudah tidak tahan lagi. Masakan yang niatnya akan kami nikmati di Gunung Gambir sambil menikmati suasana, akhirya malah dimakan di pinggir jalan. Bertepatan dengan ditemukannya penyakit vespa saya : BUSI KEIRITAN. Busi yang sehat akan berwarna bata. Jika busimu kotor, warnanya akan hitam berjelaga. Sedangkan jika busimu terlalu irit, warnanya akan jadi putih seperti abu. Kalau untuk perjalanan dalam kota, busi irit tidak mengapa, toh nggak dipakai kebut-kebutan. Tapi kalau dipakai perjalanan keluar kota dengan kecepatan buroq, jangan lupa untuk menyetting busi mu sedikit lebih boros, supaya tidak mogok!
| Mas Blendes dan Bli lagi gila |
Makan siang usai bertepatan dengan menyalanya vespa. Suami saya masih tidak mau makan. Jali sudah berkali-kali menelfon, kelamaan nungguin kami di sumber baru sampai kering kayak jemuran. Vespa saya melaju kencang tanpa kehilangan gas. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di pertigaan sumber baru dengan Jali yang ngambek di balai bambu. Hahaha.
Pertigaan sumber baru adalah titik penting berikutnya. Jika mengikuti aspal, akan tembus ke Jatiroto Lumajang. Ambil arah serong kanan sedikit, tapi bukan potong bebek angsa. Ada penunjuk jalan Gunung Gambir disitu, tapi saking kecilnya jadi tidak kelihatan.
Perjalanan amat lancar. Tak sampi setengah jam, kami sampai memasuki pintu masuk Gunung Gambir. Jalannya mulus beraspal. Sebelumnya, jalanan menuju gunung gambir sangat buruk, hancur dan penuh lubang. Namun di era kepemimpinan Bupati Faida, jalan diperbaiki hingga menunjang wisata kesana. Setidaknya, masih ada hal baik yang diberikan mantan bupati perempuan pertama jember berhidung mancung itu.
| Pak Erik, yang paling sepuh diantara kami |
Harga tiket 10.000/orang, Jali minta gratis
Di pintu masuk Gunung Gambir, kami dicegat petugas loket. Masuk kawasan wisata harus membayar tiket sebesar 10.000/orang dan 2.000/kendaraan. Jali, yang dikenal sebagai 'Guardian of Lumajang', turun tangan. Ia merayu petugas loket.
| wongjember.com |
"Pak, kami nggak mau berwisata. Kami cuma mau numpang lewat. Mau ke Probolinggo." kata Jali.
"Mau ke Probolinggo kok lewat sini? Ya sana lewat Lumajang!" jawab petugas.
"Awuh nemen leeek, cuma numpang lewat aja disuruh bayar."
"Ya wes tak korting jadi 5ribu per sepeda!"
mendengar hal itu, Mas Blendes sudah merogoh kantong. Hendak mengambil selembar uang berwarna biru. Tapi Jali menahannya.
"Awuh nemen leeek, kami cuma numpang lewat mau ke Tiris, Pak. Nggak mau berwisata. Nggak mau berhenti. Apa ya mobil pengangkut teh disini juga disuruh bayar tiap lewat?"
"Ya beda, itu kan buat ngangkut teh."
"Ya sama aja, Pak. Kami juga ngangkut teh di dalem box. Buat dibawa ke Tiris. Cuma lewat aja, Pak. Boleh, ya?"
Petugas terlihat sebal. Ia kemudian mengambil HT nya dan melapor, "Cek cek, ada rombongan vespa masuk 9 sepeda, mau lewat ke Tiris. Jangan dikasih parkir. Kalau berhenti buat foto di area wisata suruh bayar. Ganti."
Kami tersenyum lebar mendengar negosiasi Jali. Berterimakasih banyak ke petugas loket berkumis tebal yang akhirnya membukakan portal. Tapi senyum kami harus berhenti ketika jalanan beraspal berganti makadam berbatu.
Pesona Gunung Gambir
Ada beberapa spot wisata di Gunung Gambir. Yang paling banyak dikunjungi adalah Jembatan Gantung dan Area Selfie. Lokasinya tidak jauh dari tempat parkir. Juga ada banyak warung yang tersedia di sepanjang jalan.
| sumber : detik.com |
| sumber : dowes29.com |
| sumber : gotravelly.com |
| kolam renang di bawah Villa, doc google |
| puing pabrik teh di samping Villa, doc pribadi 2019 |
| villa gn gambir, doc : google |
| Jali dan vespa |
| pancuran Derajat |
Menurut klaim, air dari Pancuran Derajat dapat membuat orang awet muda, lancar rejeki, dan hilang penyakitnya. Pak Erik dan Tante Nana menyempatlan diri berwudhu di pancuran ini dan melaksanakan sholat dhuhur di gubuk dekat pancuran. Usai sholat, saya menanyakan efek air itu di tante Nana. Apakah benar ada perubahan yang dirasakan oleh tante Nana sesuai claim?
"Ya namanya aja air sumber dari gunung, kak, ya pasti segar lah. Orang lagi pusing sumpek banyak kerjaan, diajak main kesini, cuci muka, ya jelas pasti fresh. Stres hilang. Stres kan juga penyakit. Kalo penyakit hilang, orang akan lebih bahagia, jadi awet muda. Terus kalo uda sehat, bisa cari uang dan lancar rejeki." kata tante Nana.
"Jadi kesimpulannya?" tanya saya.
"Kesimpulannya, kalo mau sehat, awet muda dan lancar rejeki, jangan ninggal sholat. Minta itu ke Allah, bukan ke pancuran. Satu lagi, jangan lupa PIKNIK!"
Hahaha.
Sholat Ashar Tepat Waktu di Kampung Pekerja
Perjalanan masih penuh makadam. Rintik hujan akhirnya turun memperparah keadaan. Kami akhirnya tiba di persimpangan. Jika lurus, akan menuju Villa dan pabrik teh. Belok kanan, akan tembus ke perkebunan Andung Biru afdeling Lawang Kedaton, Tiris. Persimpangan ini ditandai dengan adanya patung perempuan cantik yang diduga melambangkan Dewi Rengganis, sang putri legenda pegunungan Argopuro. Karena hujan semakin deras dan kami membawa 3 balita, maka kami memutuskan untuk berhenti ketika melihat rumah pekerja setempat.
Rumah pekerja itu hanya terdiri tidak sampai 10 KK dengan satu sekolah dasar. Ada pula 1 masjid yang langsung mengumandangkan adzan ketika kami tiba. Para emak-emak memutuskan mengambil air wudhu dan menjama' sholat di masjid, sebab di gubuk tadi tidak ada yang sholat selain pak Erik dan Tante Nana. Selain itu kami berdoa agar perjalanan dilancarkan, sebab kami membawa 3 balita dan hari semakin sore. Tak lama kemudian hujan pun berhenti.
Di depan masjid ada penjual cilok. Dalam suasana dingin dan berkabut, cilok menjadi pengganjal lapar. Suami saya tetap masih tidak mau makan.
Naik Mobil Pengangkut Teh sampai Andungbiru, kena 150ribu
Ketika kami akan berangkat, tiba-tiba hijan turun lagi. Hanya rintik gerimis, namun tetap saja basah. Tiba-tiba datanglah sebuah mobil pengangkut teh. Mas Blendes mencegatnya dan sedikit melakukan negosiasi. Kami mendapat harga carter pickup sampai Andung Biru sebesar 150 ribu.
"Emak-emak dan anak-anak, nanti naik mobil pickup, ya. Bapak-bapak biar nyetir sampe Andung Biru." kata Mas Blendes.
"Loh, mas, nggakpapa ta? Aku nggak tega." sahutku.
"Justru lebih kasian kalo bapak-bapak harus nggonceng emak-emak. Jalannya tambah lama tambah nanjak ini. Mana ujan. Licin batunya, bikin kepleset."
Akhirya setelah menurunkan teh, pickup kembali untuk mengangkut perempuan dan anak-anak. Untuk penutupnya, bapak-bapak berkreasi dari jas hujan. Jadi seperti bivak ponco. Saat itu saya merasa seperti Rose Duwwit yang harus naik sekoci dan terpisah dari Jack Dawson saat Titanic tenggelam.
| doc pribadi |
Perjalanan seketika lancar jaya. Balita-balita kami tertawa gembira. Tidak ada yang rewel. Syifa dan Ave bahkan menerobos atap dari jas hujan agar bisa melihat pemandangan. Ketika sampai di puncak gunung Gambir, kami bisa melihat kemegahan gunung Lemongan di sebelah kiri. Bahkan Ranu Bedali juga terlihat. Sungguh indah.
Ada sebuah gapura perbatasan antara Jember dan Probolinggo. Gapura itu adalah Lawang Kedaton. Namun gapura itu berdiri dalam keadaan patah tepat di bagiah tengah. Selain itu jembatan yang membawa ke gapura sudah ambruk. Pickup yang kami tumpangi melewati jalan memutar 180 derajat lalu menanjak. Kami sudah sampai di batas kabupaten probolinggo dan masih tidak ada kehidupan.
Di sisi lain, saya tidak melihat suami saya dan rombongan vespa lainnya. Mereka tertinggal jauh di belakang. Saya khawatir, tapi pikiran buruk itu harus ditepis jauh. Cara enolong satu-satunya hanyalah berdoa.
Jalanan akhirnya berubah menjadi aspal berlubang. Kami melewati portal dan akirnya tiba di Perkebunan Teh Andung Biru, Tiris, Probolinggo.
Perempuan dan anak-anak beristirahat di sebuah pos yang agak luas, menanti kedatangan para lelaki. Sekitar setengah jam kemudian, para bapak-bapak akhirnya datang juga. Hal pertama yang mereka lakukan setelah tiba adalah mengecek tangki bensin. Masih aman. Sangat aman malah.
Kami beristirahat cukup lama disini. Sinyal datang dan pergi. KAdang ada pesan WA yang masuk, tapi kadang sudah tidak bisa mengirim apapun. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Jika dihitung estimasi waktu, anggap saja kami berangkat pukul 12 siang karena jam segitulah kami baru bisa berjalan lancar tanpa mogok, berarti lama perjalanan dari Jember ke Andung Biru adalah 4 jam. Dan dari sinyal yang datang tenggelam itu, perjalanan ke Ranu Agung sebenarnya hanya kurang 40 menit lagi. Sudah terlalu sore untuk kami kesana. Jauh dari rencana kami yang harusnya tiba di siang hari sebelum dhuhur. Saya hanya ingin segera sampai di penginapan dan istirahat.
| Robby Klaras |
| Ave, 4,5th, makan ciki buat ganjel perut |
Setelah melepas penat, lima belas menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan. Dari sinyal yang kembar kembut, jarak antara lokasi kami dan penginapan yang disediakan tius butuh waktu 1 jam lebih. BAJINGAAAAAN!
Rupanya, menurut Tius, di sekitar Tiris tidak ada penginapan. Satu-satunya Villa terdekat hanya ada di daerah Krucil yang berbatasan dengan Bremi, yang mana itu merupakan pintu masuk ke pendakian gunung Argopuro. Bah, ngajak bercanda dia! Tapi mau bagaimana lagi, Tius sudah terlanjur membooking tempat. Untuk kami catat kedepannya bahwa jangan pernah mempercayakan penyediaan tempat kepada Tius. Hahaha, sial.
Kegelapan Total di Andung Biru
Ternyata jarak 40 menit ke Ranu Agung itu hanya mitos, karena jalanan yang kami lalui penuh turunan becek licin dan berlumpur. Dari dokumentasi yang berhasil terselamatkan, pukul lima sore (selang satu jam kemudian) kami masih tertahan di desa Andung Biru hingga maghrib dalam keadaan gelap gulita masih dikelilingi hutan.
Beberapa vespa kawan kami terguling ketika melewati turunan, termasuk vespa yang saya dan anak-anak tumpangi. Kami harus turun dan berjalan kaki hingga dirasa aman untuk naik lagi.
Hape saya sudah dalam keadaan mati, namun saya masih sempat mengirim lokasi penginapan ke hape suami saya, mas Imron dan mas Blendes. Jujur, saya selalu takut dengan maghrib. Takut melihat matahari terbenam dalam keadaan masih di perjalanan. Sebab pernah ada yang mengatakan pada saya bahwa maghrib adalah saat dimana portal dimensi terbuka dan jin bisa bebas berkeliaran menggoda manusia. Saya takut celaka.
Kami masih di antah berantah saat adzan maghrib sayup terdengar perlahan. Kelebatan pohon, lampu vespa yang temaram, dan licinnya jalan becek berlupur membuat saya tidak bisa berpikir jernih. Saya hanya bisa menggendong dan menggandeng anak-anak saya, berjalan turun sambil berdzikir agar terhindar dari disesatkan oleh makhluk halus. Cerita horor pendakian sungguh membuat saya waspada, meski alhamdulillahnya selama ini saya tidak pernah mengalami kejadian mistis dimanapun.
Bahkan kali ini, Pak Erik dan Tante Nana pun terpaksa tidak sholat karena tidak menemukan masjid ataupun pos jaga untuk singgah sejenak dari kegelapan.
Mati Lampu hingga Ranu Agung
Saya tidak tau ini pukul berapa. Jalanan becek nan curam sudah berganti aspal growang. Rumah penduduk mulai terlihat jarang-jarang, namun tetap saja gelap. Entah karena sedang mati lampu atau memang listrik belum masuk ke Andung biru.
Keluar dari Gapura selamat jalan desa Andung Biru, kami mulai menemukan sinar redup. Cahaya lilin. Lampu darurat. Dan akhirnya, masjid. Lengkap dengan jamaah sholatnya. Disamping masjid ada kios kecil yang terang. Rupanya pakai genset. Kami beristirahat sejenak sambil mencari sinyal. Dari hape mas Imron, terlihat bahwa jarak menuju penginapan masih 1,5 jam lagi.
Di Lawang Kedaton pukul 4 sore tadi tadi google maps bilang perjalanan hanya 1,5 jam. Sampai lepas maghrib, prakiraan waktu tidak berubah. Saya jadi menghitung ulang perhitungan dari mbah google.
Dari pintu masuk Gunung Gambir menuju kantor afdeling Lawang Kedaton berjarak 6,4km dg perkiraan waktu tempuh 30 menit. Nyatanya kami habiskan 4 jam.
Dari Lawang Kedaton ke Ranu Agung berjarak 13km dengan perkiraan waktu tempuh 40menit. Nyatanya sampai saat ini kami masih nyangkut di desa andung biru dan sudah melewati 2 jam perjalan. Bisa jadi 2 jam lagi kami baru keluar dari tempat atah berantah ini.
Wahai manusia, ternyata google tidak selalu mengetahui segalanya. Maka jangnlah percaya pada mbah google. percayalah hanya pada Allah.
Saya membeli roti untuk mengganjal perut anak-anak. Kali ini suami saya tidak menolak untuk makan. Dia habis lumayan banyak. Tidak ada warung nasi atau tempat yang tepat untuk membuka nasting dan memasak mie. Hari semakin gelap dan saya semakin tenang. Saya lebih menyukai kegelapan pekat dibanding remang.
Setelah sejenak beristirahat, jamaah masjid mulai berhamburan keluar. Tidak ada bacaan doa yang terdengar, mungkin karena speakernya mati. Sebelum berangkat, saya membayar makanan yang saya ambil sambil menanyakn jam. Ternyata sudah hampir pukul setegah delapan malam. Rupanya yang tadi itu jamaah sholat isya, bukan maghrib!
Kami mengecek bensin yang ternyata masih ada separuh. Untung saja masih ada, sebab saya belum melohat satupun kios bensin eceran disini. Rasanya vespa ini masih saja terlalu irit. 30 ribu dan masih ada sisa bensin hingga di tempat ini, sungguh luar biasa.
Jalanan growang akhirnya berubah aspal. Ditengah perjalanan, tiba-tiba google maps suami saya berbunyi, "belok kiri." oh, sudah ada sinyal rupanya. Saya mengecek, ternyata tujuan yang tertulis di hape suami saya masih Ranu Agung. Tapi jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Saya tidak ingin Ranu Agung. Saya ingin rebahan.
Kehabisan bensin, Vespa didorong berbaris.
Setelah melewati pertigaan SMA 1 Tiris, AKhirnya jalanan berubah jadi aspal mulus dan terang benderang. Tiba-tiba saja rombongan kami berubah jadi Dominique Toreto dan geng nya. Ngebutnya gak karu-karuan. Semua hanya ingin cepat sampai penginapan.
Jalanan naik turun meliuk berliku khas daerah pegunungan. Namun teraspal dengan baik. Kira-kira seperti daerah piket nul yang menghubungkan Lumajang dan Mlang melalui lereng selatan gunung semeru. Jika tadi di desa ANdung Biru saya berdzikir agar tidak disesatkan makhluk halus, kalau sekarang saya berdzikir agar tidak nabrak!
Perjalanan aman, lancar dan ngebut hingga tiba di (lagi-lagi) persimpangan dengan penanda patung garuda dan kolam ikan. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Saya meluruskan tulang punggung. Di sebrang jalan akhirnya ada kios bensin. Sambil menunggu rombongan lainnya datang, suami saya memutuskan untuk mengisi bensin dan betapa tercengangnya ketika melihat tangki bensinnya kosong. Benar-benar kosong. Untung saja dia habis di tempat yang tepat.
Hampir sepuluh menit istirahat, kami belum menemukan tanda-tanda kedatangan Ade dan Bli yang berboncengan dengan Ojan. Jali berinisiatif untuk kembali mencari mereka. Tak lama, terlihat vespa Bli datang didorong vespa Ade dibelakangnya, dan didorong vespa JAli dibelakangnya lagi. Alamak, rupanya mereka kehabisan bensin. Kami tidak menyadarinya karena kerasukan Paul Walker.
Untungnya bensin habis di jalanan beraspal. Bayangin gimana kalau mogoknya waktu di Andung biru tadi. Ih, menyeramkan.
Villa murah, hanya 250ribu semalam
Jarak dari tempat perhentian kami ke villa tinggal sedikit lagi. Hanya sepuluh menit. Akhirnya kami sampai di Vila yang tidak bernama itu sekitar pukul sepuluh malam. Letaknya hanya berupa titik koordinat sebab tidak terdaftar di google. Dan jangan tanya bagaimana kondisinya. Tentu saja horor. Tapi tidak jadi menyeramkan, karena teman-teman scooterist saya jauh lebih menyeramkan daripada setan. Apalagi kalau lagi marah. Hahaha.
Vila ini memiliki pekarangan luas dengan rumput setinggi betis orang dewasa. Terlihat tidak terawat dan lama tidak ditempati. Bangunannya biasa saja, tapi cukup besar untuk menampung kami semua. Ada teras kecil untuk sekedar berselonjor. Ruang tamunya kosong tanpa perabot. Dibelakang ruang tamu ada ruang tengah lengkap dengan sofa, TV, dan perapian seperti di luar negri. Disamping ruang tengah ada dapur yang juga memiliki pintu tembus ke halaman samping. Kamar mandi ada di antara dapur dan ruang tengah. Ada2 kamar dibelakang rak TV. Kamar pertama terdiri dari 1 kasur ukuran queen dan kamar mandi dalam. Satu lagi kasur dengan twin bed berukuran queen. Semua kasur dari kapuk, tidak ada yang spon apalagi spring bed. Masing-masing kasur terdapat bantal kapuk tanpa guling. Tidak ada sprei, hanya bed cover yang kemudian saya gunakan sebagai selimut saja. Persetan dengan sprei. Dingin!
Mas Blendes langsung mengeksekusi dapur. Tante Nana mengeluarkan sambal. Saya dan Liva memandikan anak-anak. Sisanya, mendirikan tenda, membuat api unggun, menyiapkan perapian dan memutar gelas. Saya heran kenapa mas Imron masih repot membawa tenda disaat kita sudah ada di Vila.
Tius dan kedua temannya sudah ada di Villa ketika kami tiba. Sesuai pesanan, ia membawa magicom lengkap dengan nasi yang sudah matang. Tapi ternyata mas Blendes lupa membawa saus untuk bakar ayam. MAs Blendes minta tolong tius untuk membelikan saus dan kecap, namun jawabannya,
"Jam segini di daerah ini mana ada toko buka, mas"
Sebab tidak ada saus, akhirnya malam itu kami harus puas hanya dengan indomie dan frozen food saja.
Jumat, 30 Oktiber 2020
Susu sapi murah, 5 ribu per liter
Pagi hari tiba. Saya dan anak-anak tidur dengan sangat nyenyak. Di sofa, terlihat suami saya tidur bergelung selimut. Mas Blendes dan cetar sudah sibuk memasak di dapur. Rupanya kalau pagi, pasar sudah buka sehingga kecap dan saus sudah didapatkan. Tak lama Pak Erik datang bersama tante Nana membawa 3 kantung susu sapi.
"Deket sini banyak yang jual susu," kata Pak Erik. "Yang ini ikutan merah sendiri. Seliter cuma lima ribu."
"Katanya disini juga ada air terjun, ya, Kelor?"
Saya menggeleng tidak tahu. Buta arah. Tius nimbrung dan menjelaskan bahwa di Krucil memang kawasan produksi susu sapi perah. Saking murahnya, susu ini sudah bisa di ekspor ke kecamatan lain. Ya juga, sih, saya pernah melhat susu sapi Bremi dijual di bundaran DPR Jember seharga lima ribu sebotol 250ml. Bersaing dengan susu sapi Rembangan yang harganya enam ribu.
"Kalau air terjun ada deket banget dari sini. Namanya AIr Terjun Darungan. Mau kesana?"
Tante nana langsung bersemangat mengiyakan. Cetar, dari arah dapur, menolak. Saya juga.
"Kami pengen ke Rau Agung. APa air terjun Darungan sebagus Ranu Agung?"
"Ya beda, mbak. Satunya air terjun, satunya danau. Tapi kalo aku sih, mending ke air terjun terus ke bremi ecopark"
Saya langsung menggeleng. Saya sudah pernah kesana sebelumnya ketika Tius menikah. Bagi penduduk sana, Bremi Ecopark adalah wisata yang gaul dan penuh spot untuk selfie. Namun bagi kami yang tidak menykai hal viral, Ranu Agung akan jauh lebih baik. Kami lebih suka yang natural saja. Lagipula, ingat pasal pertama : Jangan mempercayakan pemilhan tempat pada Tius.
Mengingat pasal itu, saya semakin yakin untuk memilih langsung ke Ranu Agung saja tanpa perlu belok ke air terjun Darungan yang akan semakin mengulur waktu.
Gazebo di Pinggir Sawah
Setelah memandikan anak-anak, saya berkeliling ke pekarangan. Rupanya di samping pintu dapur ada jalan mengarah ke sawah dengan gazebo besar disampingnya. Saya membantu Cetar untuk menghidangkan sarapan di Gazebo. Kami lalu berkumpul untuk makan bersama. Ayam mas Blendes sungguh nikmat dimasak dengan kecap. Sayangnya kami gagal barbequan semalam. Tapi tidak mengapa, masih ada semalam lagi.
| menu sarapan kami |
| mbak iim, cetar, ade, dan ojan |
| Mbak liva berbaju kuning, mas imron, tante nana, pak erik, tius besandar |
| gak puas kalo gak makan langsung dari magicom |
Menuju Ranu Agung pukul 10.00
Satu hal yang saya bingungkan di hari jumat adalah jumatan. Kami menghargai Pak Erik yang akan rajin ke masjid dengan sukarela. Tapi kami juga tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Rencananya, kami harus tiba di Ranu Agung sebelum pukul sepuluh. Nyatanya, pukul sepuluh kami baru saja berangkat. Sedangkan jarak tempuh dari Vila ke Ranu Agung kurang lebih 1,5 jam JIKA tidak ada yang mogok.
Kami kembali mengisi bensin di tempat kemarin, sebab dipastikan tidak ada pom bensin disini. Kemarin Roby mengisi bensin 15 ribu. Hari ini ia mengisi lagi 20 ribu. Jali dan Ade masih mendapat bantuan dari Hamba Allah. Namun ketika berangkat, Tius berpamitan untuk bekerja, Tidak bisa ikut menemani. Ia menyerahkan kami pada kawannya, yang katanya rumahnya hanya 10km dari Ranu Agung.
Jumatan di Tiris
Rupanya kami dibawa mampir ke rumah teman Tius yang saya lupa namanya. Basa basi lagi. Dibuatkan minuman pula. Sejujurnya, saya senang dengan keramahan para scooterist. Tapi disisi lain, saya sebal sebab hal ini sangat menghambat perjalanan. Saya hanya tidk ingin kehujanan saat di ranu, seperti kemarin saat di Gunung Gambir.
Adzan dhuhur berkumandang. Oh tidak. Kami masih harus menunggu pak erik jumatan. Saya meminta sesuatu ke pak erik, nitip doa ke Allah agar tidak diberi hujan. Pak Erik tertawa. Dan kemudian, yang saya takutkan tiba. Hujan datang. Sambil menunggu Pak Erik dan hujan reda, saya sempat mengobrol dengan ayah temannya Tius, pemilik rumah.
"Mau kemana ini?" tanya sang ayah.
"Ke Ranu Agung, pak."
"Ngapain ke Ranu Agung?"
"Jalan-jalan, pak."
"Kalo mau jalan-jalan, mending ke Bremi Ecopark. Bagus. Bisa foto-foto. Ranu agung itu jelek. Nggak ada apa-apanya. Jalannya susah."
Saya sebisa mungkin menahan diri untuk tidak ngegas. Kenapa orang-orang Probolinggo ini suka sekali sama Bremi Ecopark, sih? Wisata begitu banyak banget di Jember. Tapi kalau danau, Jember nggak punya. Udah, jelas?
Pesona Ranu Agung, Danau Yang Dikelilingi Tebing
Meski dibilang jelek dan diarahkan ke Bremi Ecopark, saya dan para emak-emak (terutama Cetar) tetap keukeuh ke Ranu Agung. Maka berangkatlah kami pukul satu siang. Sepanjang perjalanan, kami diguyur gerimis rinti-rintik. Tidak makan waktu lama, kami akhirya sampai disana. Dan ajaibnya, sesampainya disana hujan ikut berhenti.
Suasana disana sangat sepi. Tidak terlihat rumah penduduk di sekelilingnya. Kami memarkir vespa di tempat yang telah disediakan. Tidak ada loket masuk. Hanya ada pintu selamat datang, kios kecil dan penunjuk arah bahwa Ranu Agung ada dibawah. Memang sih, Ranu Agung masih belum terlihat dari jalan. Justru disitu letak misterinya.
Mengikuti petunjuk jalan, kami dibawa menuju anak tangga yang jumlahnya ribuan. Di sebelah kiri sedang dibangun mushola dan toilet umum yang belum jadi. Kami terus menuruni anak tangga yang tampaknyatak kunjung usai.
| sumber : brisik.id |
Hingga pada akhirnya, tersingkaplah kecantikan danau tersebut...
| sumber : brisik.id |
Satu kata yang diucapkan mas Blendes ketika kami sampi di bibir danau,
"Harusnya semalem kita ngecamp disini aja gak usah di Vila! Ini suasana yang aku mau!"
Naik getek sekali putaran 100.000 per 10 orang
Disamping ranu ada bapak pemancing yang nyambi menyewakan getek. Katanya, sejak covid melanda, ranu Agung yang sepi pengunjung jadi tambah lebih sepi lagi. Kami adalah pengunjung pertama yang datang minggu ini.
Akhirnya setelah makan siang di gazebo pinggir danau, Mas Blendes bernegosiasi dengan pak Getek dan kami bisa menaikinya dengan membayar 100.000 per 10 orang. Tapi karena angin sedang kencang, Pak Getek tidak berani menyebrang ke sebrang danau. Beliau hanya berani membawa kami hingga ke spot foto yang biasa diminta para wisatawan. Mbak Iim dan Mbak Liva tidak ikut naik getek sebab takut tenggelam. Otomatis Pak Tut, Syifa dan Mas Imron ikut menjaga keluarganya. Pak Erik juga tidak mau ikut sebab memilih tidur.
Akhirnya kami menyewa 2 getek. 1 getek isi 5 orang seharga 50.000 rupiah saja.
Getek pertama ada saya, suami, Ave, Byana, tante Nana dan Jali
di getek kedua ada mas blendes, cetar, ade, ojan dan satu anak buah mas blendes yang saya tidak tau namanya.
| ave di parkiran getek |
| ade si tukang foto dan pembawa box |
| mas blendes dan cetar |
| jali sang bodyguard |
| pak getek |
Yang menarik dari Getek ini adalah, terdapat meja dan du abngku diatasnya. Saya jadi membayangkan makan siang romantis di atas getek sambil muteri danau. Sayangnya kami tidak membawa jajan.
Pukul tiga sore, kami kembali pulang. Mbak Iim dan Mbak Liva yang oversize harus berjuang keras menaklukan ribuan anak tangga menanjak. Tapi tanjakan jauh lebih menyenangkan daripada turunan. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Andung biru.
Butuh waktu satu jam hingga kahirnya mbak Iim berhasil sampai di parkiran. Jam 4 sore, kami berangkat ke rumah Tius di kecamatan Maron. Kami melewati rute yang berbeda. Jarak dari Ranu Agung ke Maron sekitar 1,5 jam. Sama seperti jarak ke Vila Krucil.
Seharusnya, jika kami mau ke arah pantura, kami tdak perlu melewati Maron. Hanya saja, Tius sudah mengundang kami untuk datang ke rumahnya. Atas nama persaudaraan, kami mengunjungi rumahnya meski harus memutar.
Kami sampai di Maron sesaat sebelum maghrib. Untunglah kami bertemu pom bensin di area Banyuanyar. Kami juga melewati basecamp Songa Rafting yang terkenal itu. Dan juga ada pabrik gula peninggalan Belanda bernama PG Gending.
Batal ke Pantai
Selepas makan malam, tiba-tiba saja Pak Erik pamit duluan. Rupanya tante Nana ada kerjaan hair do untuk pernikahan besok pukul tiga pagi. Mas Imron merasa tidak tega jika kami lanjut bersenang-senang ke pantai sedangkan Pak Erik dan tante nana pulang sendirian. Ahirnya diputuskan kami batal ke pantai dan kembali pulang ke Jember lewat jalur nasional di Lumajang.
Kami berpamitan selepas isya. Malasan macet parah hingga ke Ranuyoso. Rencananya kami akan pulang lewat Randu Agung yang tembus ke Sumber baru. Tidak lewat Jatiroto. Namun Pak Erik sepertinya tidak diberitahu, sebab di pertigaan pom bensin Klakah, beliau bablas ke arah Kedungjajang saat seharusnya belok kiri ke arah randu agung. Roby mau mengejar, tapi tidak bisa. Pak Erik lari seperti dikejar pinjol.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat kami menunggu di pom klakah, tak ada satupun anak-anak yang datang. Tak lama mas Imron menelfon. Ade masih mogok di Malasan. CDI nya tobel. Jali mendorong vespa Ade menggunakan kaki dari Malasan sampai Klakah. Rupanya ada kawan Jali yang buka bengkel sekitar 20meter sebelum pertigaan Randu Agung.
Berkat bantuan Rojali, Guardian Of Lumajang, Vespa Ade sembuh tanpa bayar sepeserpun.
Pukul dua belas malam, akhirnya vespa Ade selesai dibetulkan. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak berani berhenti, sebab Lumajang terkenal dengan begal tengah malamya. Ya meskipun perlu dipertanyakan, siapa sih yang mau mbegal vespa? Mau nyuri vespa bukannya untung malah ngerepotin. Apalagi kalau mogok kayak si Ade.
Perjalanan klakah jember malam itu adalah perjalana paling menyakitkan dan melelahkan. pantat saya rasanya seperti digigit anjing. Panas sekali. APalagi hujan kembali turun mengguyur deras sehingga kami tidak bisa berhenti sama sekali. Bayangkan saja dalam perjalanan ini, masih harus menggendong dua balita yang tertidur diatas jok vespa yang tidak selebar bokong ibunda. sakit, kak.
Bagaimanapun juga akhirnya kami tiba dengan selamat. Tepat pukul dua dini hari, kami sampai rumah. dan perjalanan pun usai dengan sisa stok makanan yang akhirnya dimakan ramai-ramai di kedai armor.
=== SEKIAN ===
Tips untuk touring membawa dua balita :
1. Pastikan anak-anak selalu dalam keadaan kenyang
2. Gunakan pakaian nyaman, jaket hangat, celana panjang dan bersepatu
3. Bawa baju seminimal mungkin, kalau perlu bisa dicuci
4. Jangan lupa vitamin
5. Siapkan mental, fisik dan uang lebih
Rincian pengeluaran :
Ramai2 :
Vila 250ribu
Mobil angkut 150ribu
total 400ribu utnuk 19 orang
Bulatkan menjadi 20 orang, berarti 20ribu/orang
Pribadi :
Bensin 3x full tank = 90.000
1 sepeda 2 orang, berarti 45ribu/orang
getek 10ribu/orang
total 55ribu
makanan gratis sebab sudah bawa sangu dari rumah
total pengeluaran : 20 + 55 = 75ribu/orang
Siapin aja uang 100 ribu, udah bisa dapet pemandangan Gunung Gambir lengkap sampai Ranu Agung plus plus. Betapa hebat Ade yang bisa mendapatkan semuanya hanya bermodal 30 ribu. Tapi ada yang lebih hebat dari Ade. Ialah Jali, yang ternyata malah tidak bawa uang sama sekali. Hanya mengandalkan nyali dan relasi.
HIDUP ROJALI!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar