Kabar bahagia datang beruntun. Satu per satu, teman-teman memulai
hidup baru berumah tangga dengan pilihan hatinya masing-masing. Demi momen sepenting
itu, suami saya, Robby, akhirnya mau mengambil cuti. Rencananya kami akan bervespa
untuk kondangan di kota orang yang jaraknya lumayan juga dari timur ke barat. Untuk
mengenang rute perjalanan menggenapi separuh ibadah itu, akan saya abadikan dalam
tulisan ini.
Sabtu, 13 November 2021
Vespa Mogok Ketika Berangkat
Ba’da ashar, saya dan suami berangkat dari Jember menuju Lumajang
untuk menjemput Jali dan Saroh, pasangan penganting yang baru nikah 2 minggu lalu.
Mendung hitam sudah menggelayut. Robby memacu PX tahun 82 dengan kencang supaya
lekas sampai sebelum hujan turun. Namun, baru saja memasuki daerah Tanggul, tiba-tiba
vespa kami mogok dengan bunyi “KRAAAAKKK!!!” keras.
Kami menepi di pinggir jalan. Robby segera membuka tepong kanan
tempat mesin berada. Benar saja, kipasnya tidak bisa diputa sama sekali. Ceket.
Feeling Robby, sekker nya bermasalah. Sebab memang sekkernya baru saja di kolter
2 minggu yang lalu sebelum ke pernikahan Jali dan Saroh.
Untungnya Robby paham betul dengan kendaraan tua ini. Saat sekkernya
dibongkar, ternyata kancingan sekkernya patah dan menyisakan beret yang cukup panjang.
Tak cukup sampai disitu, pir sekkernya pun patah seribu. Harus diganti pir dan kancingan
yang baru.
Satu vespa sejuta saudara. Ungkapan itu benar adanya. Robby langsung
menelfon kawannya di daerah Tanggul. Bantuan datang tak sampai 10menit kemudian.
Namanya mas Dadang. Beliau buka usaha bengkel di rumahnya. Meski tidak punya spare
part baru, tapi masih ada banyak spare part lama yang bisa digunakan.
Mas Dadang juga bercerita, bahwa ada 3 kawannya yang langsung
menelfon saat Robby mengabarkan vespnya mogok di Tanggul. Fian, Viko dan Pak Pri.
Ketiga orang itu juga kawan Robby. Suami saya sebisa mungkin menjaga silaturahmi
dengan sesama anak vespa. Mogok dimanapun, jam berapapun, jika tidak berhalangan
pasti Robby berangkat membantu. Alhamdulillah kebaikan Robby berbuah manis. Kami
mendapat bantuan saat dibutuhkan.
Lepas sholat maghrib, kami berpamitan dengan Mas Dadang dan melanjutkan
perjalanan ke rumah Jali di Lumajang. Jali masih di bengkel saat kami tiba. Saya
menelfon anak-anak sambil menunggu Jali. Rupanya Ave, anak sulung saya yang masih
berusia 4tahun, tiba-tiba sakit selepas saya berangkat. Badannya demam dan muntah-muntah.
Kartu BPJSnya terbawa oleh saya. Akhirnya saya foto kartu Ave untuk dikirim ke WhatsApp
ayah mertua jika sewaktu-waktu Ave harus dibawa ke fasilitas kesehatan.
Durian dari kebun abah dan keisengan kawan lama
Jali datang sekitar pukul 8 malam. Setelah sholat isya, kami
melanjutkan perjalanan pukul 9 malam. Jali membawa 3 buah durian yang masak di pohon.
Aromanya sungguh menggoda iman.
Dalam perjalanan, vespa kami sempat trouble agak lama. Ditambah
hujan yang gerimis agak keras, membuat kami harus berjalan pelan. Kami akhirnya
tiba di Probolinggo pukul setengah 11 malam. Mampir di sekretariat PROVEC di pom
bensin Pilang. Setibanya disana, hujan turun sangat deras dan berangin. Akhirnya
kami menunggu hujan reda sambil makan malam.
Saat makan, saya dikerjain oleh mas Imam. Saya memesan mie goreng,
tapi mas Imam malah menyodorkan bihun crispy. Katanya,
“Ini mie goreng. Mie nya di goreng. Kalau yang dimakan suamimu
itu namanya mie godog. Soalnya masaknya digodog dulu.”
Ya iyalah, Bambaaaang! Yang namanya mie goreng kan tetep di godog
dulu -_- tak mau kalah, saya bilang,
“Yaudah, aku pesennya mie kecap! Mau digodog mau digoreng pokoknya
pake kecap!”
Mas Imam pun membalas dengan tawa menyebalkan.
Pukul setengah satu malam, hujan mulai reda. Kami melanjutkan
perjalanan tanpa kendala apapun. Robby sempat berhenti di pom bensin Beji, Pasuruan,
untuk isi bensin. Rencananya, kami akan bertemu di daerah Mojokerto dengan Rangga
dan Lek Wol.
Kami sampai di Pom Bensin di bypass Mojokerto pukul 3 subuh.
Rupanya Rangga dan Lek Wol menunggu di pom bensin yang berbeda. Setelah menunggu
agak lama, akhirnya Rangga menyusul ke tempat kami berhenti. Rangga yang awalnya
mengantuk, langsung melek ketika melihat durian yang dibawa Jali.
Bertemu Abege Mabuk
Saat kami hendak berangkat, tiba-tiba kami didatangi seorang
abege yang berjalan pincang.
“Mas, mau minta tolong. Bantu saya angkat motor saya yang jatuh
ke kali.”
Hah? Motor? Jatuh di kali?
Saya sempat suudzon melihat penampilan bocah ini. Ngomongnya
seperti melantur dengan mimik wajah seperti orang bangun tidar dan pakaian belepotan.
Apakah ini modus penipuan baru? Bisa saja, kan, saat kami mengikutinya kami malah
dirampok dan dibegal?
Namun Robby tetaplah Robby, yang nggak tegaan liat orang kesusahan.
Diajaknya Lek Wol dan Jali untuk mengikuti anak ini. Sedangkan Rangga beristirahat
di pinggir pom sambil merokok melepas kantuk.
Sekitar 15 menit kemudian, Robby, Jali dan Lek Wol kembali sambil
tertawa terbahak-bahak.
“Anak itu mabuk. Abis minum-minum mau pulang ke rumah. Katanya,
pas menggok kemiringan, jadi motornya kecemplung kali! Hahahaha!”
“Eh, tunggu, bau apa ini?”
“Loh, tangannya Jali bau eek!”
“HAHAHAHAHAHAHAHA”
Adzan subuh pun berkumandang. Kami sholat di mushola kecil, lalu
mencari rest area untuk makan durian. Sayangnya, tidak ada rest area yang layak
di sepanjang Mojokerto – Jombang. Akhirnya kami makan di pelataran teras alfamart
yang buka 24 jam di sekitar daerah Peterongan, Jombang. Jali tidak ikut makan. Mungkin
karena tangannya bau tai. Sayang sekali kan, durian seenak itu jadi bau tai. Hahahaha.
Jombang dikala subuh sungguh nyaman. Udaranya sejuk dan segar.
Mungkin karena Jombang kota beriman, jadi bawaannya adem?
Kami melanjutkan perjalanan selepas subuh. Tidak pakai berhenti-berhenti lagi. Langsung menuju Nganjuk. Pukul setengah 7 pagi, kami sudah masuk kabupaten Nganjuk. Jika dihitung lama perjalanan, maka dari Jember menuju Lumajang hanya butuh waktu 1 jam. Lumajang Probolinggo juga 1 jam. Probolinggo Pasuruan juga 1 jam. Pasuruan Mojokerto 1,5 jam. Mojokerto Jombang 1 jam. Jombang Nganjuk 1 jam.
"Total perjalanan Jember Nganjuk sekitar 6,5 jam. Yang lama itu istirahatnya."
Kuliner Pecel Tumpang Depan Stasiun Nganjuk
Sampai di Nganjuk, kami sempat berhenti di stasiun Nganjuk dan
makan pecel Tumpang. Warung pecel itu sangat ramai. Jadi tidak mungkin tidak enak.
Akhirnya kami memesan pecel tumpang dengan lauk tempe menjes dan teh hangat. Itu
pertama kalinya saya makan Tumpang, sambal dari tempe busuk yang diberi bumbu sedemikian
rupa hingga menjadi ciri khas makanan Mataram-an. Konon sambal Tumpang sudah
ada sejak 2 abad lalu di sekitar kerajaan Mataram. Enam porsi pecel tumpang, 20
biji tempe menjes dan 6 gelas teh hangat diberi harga 64 ribu rupiah saja. Sangat
murah, kan?
Minggu, 14 November 2021
Setelah makan pecel Tumpang, kami menuju rumah Hendrik, mempelai
pria, di daerah pasar sapi. Jaraknya tidak sampai 10 menit dari stasiun Nganjuk.
Disana sudah ada Tius, Warda (istrinya) dan Aslan (anak mereka yang masih berusia
1 tahun). Mereka tiba tadi malam, berangkat ke Nganjuk naik bus. Para laki-laki
langsung tidur setibanya di rumah Hendrik. Sedangkan ketika saya dan Saroh hendak
tidur, kami didatangi Mira, istri Hendrik, yang mengajak kami untuk sarapan. Karena
tidak enak menolak tuan rumah, akhirnya kami yang barus saja selesai makan harus
makan lagi dan jadi batal tidur.
Setelah makan, saya dan Saroh mengobrol ringan dengan Hendrik,
Mira, Tius dan Warda. Masing-masing menceritakan tentang awal pertemuan dan saat
lamaran. Semuanya memiliki sisi romantis masing-masing.
Anak Vespa itu Romantis - Aveiro
Tius dan Warda selisih 6 tahun. Mereka berasal dari satu desa
yang sama di Probolinggo dan rupanya masih bersaudara jauh. Tius anak laki-laki
pertama dengan latar belakang keluarga yang demokratis. Sedangkan Warda anak bungsu
perempuan satu-satunya dari keluarga yang agak kolot. Hubungan mereka sempat ditentang
kedua pihak keluarga, hingga akhirnya saat Warda sakit karena kelelahan bekerja,
Tius menemani Warda di dalam kamar kos. Saat itu tiba-tiba kamar Warda digrebek.
Kakak Warda datang dan langsung menendang wajah Tius yang tertidur di lantai, sedangkan
Warda lemas diatas kasur. Setelah kejadian naas itu, Tius sempat hampir menyerah
dan memilih untuk meninggalkan Warda. Hingga tiba-tiba kakak Warda mendatangi Tius
untuk menantang kesungguhannya. Tius datang bersama orang tuanya ke rumah Warda
untuk berkenalan. Seminggu kemudian, orang tua Tius resmi melamar Warda yang masih
baru saja kerja 6 bulan setelah lulus SMA dan akhirnya mereka menikah diusia muda.
Warda umur 19tahun dan Tius umur 23tahun. Setahun kemudian lahirlah Aslan.
Sedangkan Hendri dan Mira sendiri berkenalan di Tinder. Hendri
bekerja jadi TL di perusahaan rokok di Mojokerto yang kerjanya bareng sama SPG.
Mira sendiri asli Mojokerto dan bekerja sebagai bidan. Tapi kalau dilihat dari gayanya,
sungguh Mira lebih pantas jadi SPG, LC atau Purel. Hahaha. Mira pun mengakui bahwa
banyak sekali orang yang salah sangka mengira dirinya perempuan jalang. Tapi Hendrik
bisa menghormatinya seperti perempuan baik-baik dan berani melamarnya meski saat
itu keuangan sedang morat-marit. Mira percaya akan ada rejeki setelah menikah, asal
mereka mau bekerja dan berusaha.
Ngobrolin Malam Pertama 18++
Setelah ngobrol panjang lebar, Mira mengajak para perempuan ke
kamar belakang. Dia membicarakan sesuatu yang amat privat. Masalah Ranjang.
“Mbak, aku masih perawan sampe sekarang, meski aku sudah akad
sejak seminggu lalu.”
“loh, kamu lagi mens ta? Kok belum di unboxing?”
“aku nggak mens, mbak. Tapi Hendrik juga masih perjaka. Jadi
kita kesulitan berhubunhan seks. Rasanya sakiiiit banget. Baru masuk pucuknya aja
udah sakit. Rasa sakitnya masih kuat sampe sekarang.”
"Saya tertawa keras. Bagaimana mungkin Hendri yang kerja dikelilingi SPG dan Mira yang dandanannya mirip LC ternyata masih perawan dan perjaka? Sedangkan Warda yang kelihatannya polos malah berduaan di kamar kosan sebelum nikah! Rupanya memang benar, kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari luarnya saja."
Seks memang masih merupakan hal tabu untuk dibahas. Pendidikan
seks di Indonesia masih tergolong rendah. Kebanyakan laki-laki pasti pernah menonton
bokep. Mereka kemudian berpikir bahwa seks bisa semudah dan senikmat itu. Padahal
untuk melakukan penetrasi pertama kali, haruslah dibarengi foreplay yang cukup lama
agar perempuan terangsang dan mengeluarkan lendir yang berfungsi untuk mengurangi
rasa perih dan lecet di liang vagina. Hal sesederhana itu rupanya sudah dipraktekkan.
Butuh kesabaran dan saling pengertian agar bisa terlaksana dengan lancar.
“Hendrik itu keburu masukin punyanya ke punyaku, mbak. Rasanya
sakiiit banget! Pas aku nangis kesakitan, dia batal masukin punyanya. Dia jadi marah-marah
sambil mukul-mukul kepalanya. Katanya pusing banget!” keluh Mira.
“Untuk bisa foreplay lama, kalian butuh suasana tenang dan rilex,
Mir,” ujar saya sok jadi pakar urusan ranjang. “Sekarang keadaannya mungkin masih
kurang nyaman. Sebab kalian masih di rumah mertua. Dan baru aja selesai hajatan.
Coba nanti, kalau kalian sudah pindah ke rumah kontrakan sendiri, kalian ciptakan
suasana romantis biar relaks dan lancar.”
“Gimana caranya, mbak?”
“Kamu punya lilin aromaterapi? Nyalain. Biar kamarnya harumnya
menenangkan. Kamu puter musik-musik instrumental saxophone. Kenny G kek, atau Eric
Clapton. Terus kamu pijetin suamimu pake minyak zaitun yang harum. Nanti gantian
suamimu yang pijetin kamu sambil dirangsang di titik tertentu. Nih, liat contohnya
di youtube.”
Saya mengambil hape dan membuka youtube dengan kata kunci ‘how
to make a girl squirt’. Warda ikut mengambil hapenya untuk mendengarkan lagu-lagu
romantis yang saya sebutkan tadi. Sepertinya dia mau praktek dengan gaya baru. Sedangkan
Saroh sudah tertidur. Akhirnya, karena tidak kuat menahan ngantuk, saya menyusul
Saroh ke alam mimpi.
Nungguin orang belah duren
Saya terbangun pukul 1 siang. Para lelaki sudah asyik ngobrol
di teras. Sedangkan Saroh dan Jali tidak terlihat. Mereka pergi sebentar ke rumah
saudara Saroh di dekat situ.
Saroh dan Jali datang selepas ashar. Rencananya kami memang mau
menginap di Nganjuk dan melanjutkan perjalanan besok pagi ke nikahan Mul di Kediri.
Tapi rupanya jatah cuti Hendrik sudah habis dan dia harus kembali kerja hari senin
besok sehingga dia berangkat ke Mojokerto malam ini. Sebagai tuan rumah yang baik,
ia lalu menawarkan kami penginapan di Kediri. Karena Tius dan Warda naik bus, akhirnya
Hendrik berinisiatif mengantar mereka naik mobil hingga ke Kediri, meski artinya
ia harus muter jauh untuk ke Mojokerto.
Sempat Hendrik berkata, “aku agak gelo karena teman-teman yang
kuundang banyak yang tidak datang. Kalau teman kuliah sih, aku maklum, karena rumah
mereka jauh. Tapi ini teman SMA, teman kerja dan teman vespa Nganjuk juga tidak
ada yang datang, padahal dekat. Kan keterlaluan. Sedangkan kalian semua mau jauh-jauh
datang kesini dari Jember. Ya masa’ aku nggak mau nganter kalian. Kalo Cuma Nganjuk
– Kediri – Mojokerto sih deket, dibanding Probolinggo, Lumajang, apalagi Jember.”
Lagi-lagi aku bersyukur Robby memaksakan diri datang ke Nganjuk
hanya untuk menyaksikan momen bahagia Hendrik. Rupanya kedatangan kami ia hargai
melebihi uang buwuh yang dititipkan.
Usai mengobrol, sekitar pukul 4 sore kami berkemas. Kami semua
sudah siap, tapi Hendrik dan Mira masih belum juga keluar menemui kami. Hingga akhirnya
selepas adzan Maghrib, Mira menemui kami di kamar dalam rambut basah.
“Mbak,” bisiknya, “Aku udah berhasil ML!!!”
Laaah, jadi selama 2 jam tadi kami nungguin orang Belah Duren ?!!!
Ki-ka : hendrik, mira, saya, saroh, warda, tius, lek wol, rangga. Bawah : robby n jali
Berangkat ke Kediri
Setelah sholat Maghrib, kami berangkat ke Kediri dalam keadaan
hujan gerimis. Hendrik memesan 2 kamar lewat OYO. Rupanya Mul juga menambahi uang
ke Hendrik untuk memesankan 2 kamar lagi untuk kami ber 8.
Lokasi tempat menginap kami di Dhoho Kost, jalan Urip Sumoharjo,
depan alfamart. Kamarnya seperti kamar kos biasa dengan 1 bed besar, TV, AC, meja
dan kamar mandi dalam. Kamarnya nyaman, meski kecil. Sayangnya hanya tersisa 2 kamar.
Saya, Saroh, Warda dan Aslan tidur di satu kamar. Sedangkan kamar satunya untuk
5 orang cowok. Jali dan Rangga ukuran badannya seperti raksasa. Jelas kamar para
cowok sangat tidak cukup.
| Foto by google |
Hendrik sempat terlihat bingung. Ia bahkan tidak jadi pulang
sebelum kami mendapat kamar tambahan. Untungnya ada 1 orang yang membatalkan pesanan
dan kamarnya langsung dibooking Hendrik. Akhirnya, kami berpisah sampai disitu.
Niat hati, kami ingin berjalan-jalan mengelilingi pusat kota
kediri. Tapi karena diluar hujan dan Tius tidak bawa kendaraan, akhirnya kami hanya
puas dengan makan nasi goreng di depan penginapan dan langsung pergi tidur. Harga untuk 7 porsi nasi goreng, 7 bungkus kerupuk dan 5 gelas teh hangat sekitar 92 ribu rupiah.
Senin, 15 November 2021
Saya bangun pukul 7 pagi. Akad Mul dan Tiyak dilaksanakan pukul
9 pagi. Go car dari penginapan ke tempat akad cukup menguras kantong. 46 ribu rupiah.
Robby sempat mengusulkan agar para laki-laki mengantarkan perempuan terlebih dahulu,
kemudian kembali lagi untuk menjemput Tius dan Warda. Idenya langsung ditolak Rangga.
Akhirnya Robby menelfon Mul dan meminta bantuan agar Tius dan Warda dijemput oleh
temannya Mul.
Salah orang, salah jemputan
Jam 8 lebih sedikit, saya, Saroh, Warda, Tius dan Lek Wol memutuskan
berjalan kaki menuju alun-alun sambil menunggu kawan Mul datang menjemput. Tiba-tiba
Tius disapa seorang lelaki gendut bernama Mas Koko. Dia menawarkan tumpangan untuk
Tius dan Warda. Kami pikir, mas Koko adalah kawan Mul yang bertugas menjemput kami.
Tapi kenapa hanya bawa 1 motor? Akhirnya, Tius dibonceng Mas Koko ke tempatnya untuk
mengambil motor. Sambil menunggu Tius, kami makan Tahu Sumedang dengan sambal rujak
yang nikmat di dekat Indomart untuk mengisi perut yang belum sarapan.
Tak lama kemudian, mas Koko menyusul dan mengarahkan kami ke
rumahnya. Jujur, kami kebingungan karena ini berbeda dari rencana awal dimana Mul
akan mengirim 2 motor tapi yang datang hanya mas Koko dengan 1 motor. Kami nurut
saja. Hingga tiba-tiba di tengah jalan menuju warung mas Koko di alun-alun, sebuah
nomor asing menelfon Robby. Rupanya itu kawan yang dikirim Mul. Dia sudah tiba di
depan penginapan. Eee lhadalah, terus mas Koko ini siapa???
Terjadi missed komunikasi membuat perjalanan agak terlambat.
Waktu sudah makin mepet mendekati jam 9 pagi. Tius tiba-tiba harus meeting online.
Akhirnya setelah tiba di alun-alun, mas Koko menyerahkan motornya dan mengambil
motor lain untuk mengantar kami lewat jalur belakang sebab Tius dan Warda tidak
membawa helm. Karena Tius sedang meeting online, jadi dia dibonceng Robby dan saya
membonceng Warda.
Kami mengikuti Mas Koko mblusuk ke gang kecil hingga akhirnya
melewati Gudang Garam yang katanya luasnya separuh kota kediri. Dalam perjalanan,
Warda sempat berkata,
“Mbak, dulu kita juga boncengan gini sambil aku gendong anakmu.
Sekarang, aku gendong anakku sendiri”
Entah kenapa kata-kata Warda bikin saya mbrabak pengen nangis.
Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Tau-tau saja anak cantik manja ini juga sudah
jadi ibu.
Sampai akad tepat waktu
Untungnya kami datang tepat waktu. Pengantin pria baru saja datang.
Kami masih sempat menyaksikan akad. Disaat yang sama, saya menelfon Ave. Ibu mertua
bilang bahwa Ave masih demam dan muntah. Sudah dibawa ke dokter dan diberi obat.
Sebagai orang tua, tentu saja saya khawatir. Akhirnya Robby mengajak kami pulang
duluan meski acara pernikahan belum selesai. Kami sempat berfoto dengan pengantin
pria, namun tidak ada foto Tiyak sebab dia masih ganti baju.
Berangkat ke Blitar
Jam setengah 11 siang, kami berpamitan. Rangga dan Lek Wol pulang
ke Sidoarjo lewat Jombang. Sedangkan sisanya kami berempat lewat Wates menuju rumah
Gibran, saudara sepupu Robby, di Blitar. Selama perjalanan pulang tidak ada trouble
lagi. Kami sempat berhenti di Simpang Lima Gumul untuk berfoto. Sayangnya, dari
Simpang Lima Gumul menuju Blitar sama sekali tidak ditemukan toko oleh-oleh. Padahal
saya berniat membawa tahu kuning untuk ibunya Gibran.
Kami tiba di sebuah tempat antah berantah akibat arahan google
maps. Jali mengambil uang di atm BRI. Tiba-tiba seorang bapak-bapak sekitar umur
40an menyapa Robby dan menanyakan hendak kemana. Mungkin beliau anak vespa juga,
meski sedang tidak membawa vespa.
Rupanya kami salah jalan. Untuk menuju Blitar, beliau menyuruh
kami putar balik menuju candi Penataran. Pesan dari beliau,
“Jangan percaya google maps. Lebih akurat pakai GPS. Gunakan Penduduk Sekitar.”
Nyatanya, google maps memang hanya akurat untuk kota besar, namun
tidak berlaku di kota kecil. Yang ada, kami malah nyasar!
Eksotisme Candi Penataran
Kami melewati Candi Penataran. Namun masih ditutup karena pandemi. Akhirnya kami berhenti agak lama untuk berfoto dan juga ngopi. Disana ada 2 patung raksasa berukuran besar yang mirip seperti Jali dan Rangga versi durhaka dikutuk jadi batu.
| Rangga n Jali versi Durhaka |
Lepas dari candi,
kami diguyur hujan rintik-rintik. Kami baru tiba di rumah Gibran sekitar pukul setengah
satu siang.
Kami istirahat cukup lama di rumah Gibran di daerah Wlingi. Ibu
Gibran menyuguhi kami sate jamur yang nikmat. Beliau juga membawakan kami oleh-oleh
sambal pecel khas blitar sebanyak 4kg!
Pukul 4 sore, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Mas Dani,
anak vespa Jember yang pindah ke Blitar, di daerah Klemunan. Beliau menyuguhi kami
nasi dengan tahu bumbu yang nikmat. Sayang kenikmatannya tidak dapat kami rasakan
karena perut kami sudah penuh dengan sate Jamur.
Hujan semakin deras saat kami berpamitan pulang pukul setengah
7 malam. Rencana awal memang kami akan menginap di Blitar. Tapi karena khawatir
dengan kondisi Ave, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang langsung
ke Jember.
Jam 7 malam kami berangkat menuju Kepanjen, Kab. Malang. Kami melewati daerah Lahor. Disana
ada waduk karang kates yang sangat indah di pagi hari. Sayang kami datang pukul
8 malam dan dalam kondisi hujan.
Tragedi Kabel Listrik Putus di Waduk Karang Kates
Baru saja melewati waduk karang kates, tiba-tiba vespa kami terjerat
kabel listrik yang jatuh dan membuat vespa yang saya tumpangi langsung ceket tidak
bisa jalan diiringi suara BRAAAKKK keras. Kami terjatuh. Saya pikir Jali tertimpa
pohon rubuh. Robby berteriak keras, “AWAS KESETRUM!” yang membuat saya langsung
loncat dan lari hingga sandal saya terlepas. Kaki saya gemetar ketika menyadari
saya bertelanjang kaki yang mengakibatkan resiko kesetrum makin besar. Mobil di
belakang kami masih saja hendak menyalip. Robby dan Jali langsung menghentikan mobil,
karena kabel masih jatuh melintasi 2 jalur. Takut ada korban lagi seperti kami.
Sedangkan suara BRAKKK keras tadi rupanya pagar seng yang jatuh karena kabel yang
melintasi pagar itu terseret vespa dan menyebabkan pagar ikut roboh.
Tidak ada SATUPUN orang yang datang menolong kami. Mobil di sebrang
kami yang juga kejatuhan kabel hanya membuka kaca jendela dan berkata, “MINGGIR,
MAS, BIAR NGGAK MACET!”
HEH ! MAU MINGGIR GIMANA KALO VESPANYA CEKET GAK BISA DIGERAKIN!
UDAH NGGAK BANTUIN, MALAH NGOMEL!!!
Jali dan Robby mengurai kabel yang ceket terjerat ban dan knalpot
vespa. Setelah kabel terurai, mereka mengamankan kabel putus itu ke trotoar sebrang
jalan agar tidak melintasi jalur. Petugas datang terlambat dan diam saja tidak membantu
sama sekali. Robby yang masih shock dan gemetar, mengajak kami berhenti di rest
area. Alhamdulillah, kami masih selamat dari maut. Hanya saja yang saya sesalkan,
mengapa orang-orang tidak ada satupun yang membantu kami? Padahal kami tidak pernah
menolak membantu orang. Abege mabuk yang motornya kecemplung di kali aja kami tolong
sampe ikut nyemplung kali!
Dari sini saya menyadari bahwa saya terlalu pamrih dalam menolong
orang. Mungkin Allah sedang menegur saya dengan memberi kenyataan pahit bahwa tidak
semua manusia memiliki sisi kemanusiaan dengan menolong orang asing yang gembel
seperti kami.
Tertusuk Perkataan Adik
Setelah beristirahat kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan
perjalanan ke Kepanjen. Menemui adik saya, Lila. Ketika saya menceritakan kejadian
tadi, adik saya hanya mengelus dada.
“Lagian mbak tuh kenapa sih kok sukanya naik vespa? Ya gimana
mama nggak ngomel kalo tau mbak kayak gini? Kebiasaan mbak sama mas Robby tuh beda
sama keluarga kita!”
Kata-kata adik saya cukup menusuk hati. Saya tau adik saya tidak
bermaksud menghina. Hanya saja , muncul rasa sakit dalam hati saya.
Selama ini saya selalu merasa jadi anak yang gagal. Tidak bisa
menjadi apa yang bapak dan ibu saya harapkan. Saya tidak menjadi wanita karir. Hanya
ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan. Saya tidak punya rumah di perumahan.
Rumah saya hanya di gang kecil kumuh dekat pasar induk. Juga tidak punya mobil.
Jauh berbeda dengan teman-teman sepermainan saya di rumah yang saat ini sudah sukses.
Sedangkan kawan-kawan saya saat ini malah anak vespa yang terkesan gembel. Tapi
saya bahagia. Mereka adalah orang tulus yang selalu ada saat kami membutuhkan bantuan.
Apakah saya egois karena merasa cukup?
Pukul 9 malam, Robby mengajak saya melanjutkan perjalanan. Diluar masih
hujan gerimis. Di dalam, hati saya diliputi badai yang miris. Saya menahan diri
untuk tidak menangis. Hingga di daerah Dampit ketika suami saya menegur karena saya
mermas perutnya kencang saat ia hampir saja menabrak mobil di tikungan, akhirnya
tangis saya pecah dalam diam.
Badai dalam Hati
Saya menangis. Menyesali kenapa saya lahir. Kenapa saya tidak
bisa jadi kebanggaan orang tua. Kenapa saya egois memilih jadi anak vespa yang terkesan
gembel. Kenapa saya tidak pernah bisa memenuhi harapan orang tua. Kenapa saya membuat
suami saya marah. Dan kenapa-kenapa lainnya.
Dalam badai kesedihan itu, ditengah malam, di jalur yang dingin
dan berliku, saya berusaha bicara dengan Allah. Meminta maaf atas semua kekecewaan
yang saya beri untuk orang tua saya. Untuk suami saya. Untuk anak-anak saya yang
sedang sakit ketika saya pergi. Saya adalah seburuk-buruknya hamba yang sombong
karena merasa baik ketika menolong orang. Padahal masih terselip ghibah di setiap
ucapan. Sungguh Allah maha pembolak balik hati. Semoga saya diberi kesempatan untuk
membahagiakan keluarga sebelum tiada. Dan semoga kami selalu dilindungi, diberi
kecukupan, kemudahan dan keberkahan hingga meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah.
Tangis saya mereda. Pantat terasa panas. Kami berhenti di pom
bensin pronojiwo. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami beristirahat sambil
memesan kopi susu hangat. Saya butuh mengisi tenaga setelah lama menangis, sepanjang
Dampit hingga Ampelgading.
Pukul 12 malam, kami melanjutkan perjalanan menuju piket nol.
Ada bekas longsor disebelah kiri jalan. Mengingat kejadian kabel listrik di waduk
Karang Kates dan tangisan saya sepanjang Dampit hingga Ampel Gading, saya jadi merasa
ketakutan melewati longsoran di piket nol. Takut kena longsor. Takut kejatuhan pohon
tumbang. Takut meninggal sebelum sempat membahagiakan orang tua dan bertemu anak-anak.
| Gambar dr google. Piket nol siang hari. Bisa bayangin gimana kalo pas malem n hujan? |
Alhamdulillah, perjalanan lancar hingga tiba di Candipuro. Roby
sudah tidak kuat. Dia meminta kami untuk menginap di rumah Saroh di daerah Pasru
Jambe. Dari Candipuro ke PasruJambe, kami akan melewati hutan pinus yang cukup panjang.
Seolah piket nol belum cukup menyeramkan, kami masih saja harus melewati hutan.
Saya pasrah.
Jali tiba-tiba berhenti dan berbalik sekitar 5 menit setelah masuk hutan. Saya pikir ia melihat hantu. Rupanya vespanya brebet. Bensinnya habis.
"Alamak, bensin habis di tengah hutan rupanya lebih menyeramkan dari Jin!"
Karena tidak ada pom bensin dan warung yang buka, akhirnya Roby
merelakan separuh tangki bensinnya untuk disedot ke vespa Jali. Perjalanan lancar
jaya. Detik-detik itu, untuk pertama kalinya saya melihat lahar panas Mahameru yang
berpijar kemerahan ditengah langit yang gelap. Subhanallah, sungguh indah. Hal-hal
macam inilah yang membuat saya selalu bersyukur dalam perjalanan menggunakan vespa.
| Foto by google |
Kami tiba di Pasru Jambe pukul setengah 2 malam. Saroh memasak
air panas untuk mandi, makan mie, lalu tidur dengan pulas. Tangan Saroh sempat ketumpahan
air mendidih. Dengan cekatan, Saroh menaburkan bubuk kopi di tangannya lalu membalurkan
lethek kopi seperti luluran.
Keesokan paginya ketika bangun tidur, tangan Saroh yang tersiram
air panas tidak melepuh sama sekali. Sungguh Kopi memiliki manfaat setara Bio Placenton!
Selasa, 16 November 2021
Saya bangun pukul 9 siang. Tidak sholat subuh karena ternyata saya mens. Mungkin badai di hati saya semalam akibat dari perubahan hormon.
Pukul setengah 11 siang, saya dan suami berpamitan pulang setelah
sebelumnya mandi dan sarapan. Saya memberi ibu Saroh sebungkus bumbu pecel yang
kemudian dibalas dengan memberi saya 2 buah durian dan 5 biji jagung manis hasil
panen di kebun. Alhamdulillah, sekali lagi saya ucapkan karena masih diberi kenikmatan
berupa kawan yang baik dan makanan nikmat.
Menikmati pastel Jatiroto di rest area pom bensin Sumber baru
Jam 12 siang, kami sampai di Jatiroto. Akhirnya saya berkesempatan
lewat sana siang hari untuk menikmati pastel Jatiroto yang terkenal nikmat. Harga
per bijinya 8500 rupiah. Biasanya pukul 4 sore, pastel sudah habis dan tutup.
Baru saja usai menikmati pastel di pom bensin Sumber Baru, hujan
langsung datang mengguyur. Kami melanjutkan perjalanan dengan jas hujan. Lucunya,
hujan berhenti ketika kami tiba di Bangsal. Dan kembali turun tepat di gang depan
rumah wetan pasar.
Tiba di rumah
Akhirnya, kami tiba di rumah dengan selamat sekitar pukul setengah 2 siang. Hujan kami nikmati
bersama anak-anak dan ayah ibu mertua sambil makan duren dan Jasuke hangat. Ave,
ajaibnya, langsung sembuh ketika kami tiba. Badannya sudah tidak panas dan juga
tidak muntah-muntah.
Mungkinkah Ave hanya terserang penyakit rindu? Sebab saya juga
merindukannya dengan sangat!