Peribahasa ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang ketika susah dia ada bersama kita namun ketika dia senang malah bersama orang lain. Seolah orang itu melupakan teman yang menemaninya disaat susah. Tapi apa benar seperti itu? Atau malah "teman disaat susah" nya itulah yang tidak bisa diajak "senang" ?
Sejatinya kita hidup adalah untuk menunggu mati. Sambil menunggu datangnya kematian, tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan sebaik baiknya. Salah satu diantara menjalani hidup dengan sebaik baiknya itu adalah dengan menjalani berbagai macam kegiatan sehingga pengalaman kita akan semakin banyak. Dari berbagai pengalaman itulah proses pendewasaan diri terjadi. Selain itu juga akan semakin menambah relasi dan pertemanan. Jadi jangan heran jika kita lupa sama temen SD karna kita sibuk berproses bersama teman SMP. Lupa teman SMP karna sibuk dengan teman SMA. Lupa teman SMA karna sibuk dengan teman kuliah. Lupa teman kuliah karna sibuk dengan rekan kerja. Lupa rekan kerja karna sudah resign dan sibuk dengan anak. Hal yang sama akan terus berlaku hingga kita tua dan mati. Dari sini pula kita bisa menghitung seberapa banyak teman yang kita kumpulkan dari jaman sekolah hingga saat ini. Apakah kita masih bisa menjalin silaturahmi dengan kawan2 kita, baik yang lama ataupun yang baru.
Ada tipe teman yang bisa diajak maju dan ada juga yang tidak. Misalnya saja, ketika jaman kuliah dan kamu masih bergantung pada kiriman bulanan orang tua. Mau gak mau kamu harus berhemat. Gak jarang, kamu dan teman2 kos mu akhirnya sepakat untuk urunan di akhir bulan. Masak2an supaya bisa lebih irit. Lalu ketika kamu akhirnya lulus dan bekerja, kamu punya penghasilan sendiri yang mencukupi untuk makan di restoran tanpa perlu berhemat di akhir bulan, dan kamu menikmati hasil jerih payahmu dengan makan bersama rekan kerjamu, apakah berarti kamu melupakan teman kos mu yang dulu bersusah susah di akhir bulan? Tidak begitu cara kerjanya, ferguso.
Hidup terus berjalan, kebutuhan seseorang juga berubah mengikuti uang yang ia dapatkan. Jika pada akhirnya kamu mampu untuk sedikit bersenang senang, bukan berarti kamu melupakan teman lamamu hanya karna kamu menikmati dengan teman lainnya. Tapi karna prosesnya memang berjalan seperti itu. Apalagi jika ternyata teman kosmu, eh teman lamamu maksudnya, masih saja belum bekerja dan hanya ingin ditraktir. Sekali dua kali boleh lah berbagi rejeki, tapi ya ngga setiap saat juga kan? kamu tidak perlu bertanggung jawab atas urusan perut temanmu. Kamu bukan dinas sosial. Apalagi kalo teman (lama) mu itu ngakunya kesulitan beli makan tapi bisa beli baju baru, sepatu baru, tas baru, dan itu branded semua. Uangmu ga akan cukup untuk mengenyangkan gaya hidupnya. Lebih baik bahagiakan dirimu sendiri. Toh kamu tidak menyakiti orang lain.
Jika akhirnya kamu dicap kacang lupa kulitnya dengan kasus seperti diatas, chillax dude ! Chill and relax. Memang ada tipe manusia kacang lupa kulit. Tapi juga ada tipe manusia tak tau diri yang sukanya playing victim. Merasa ditinggalkan, padahal dia sendiri yang memang tidak mau diajak bergerak. Maunya digendong kemana kemana. Lah dipikir mbah surip kali yak? Lagian mbah surip juga udah almarhum, siapa lagi yang mau gendong?
"Jangan lihat umur seseorang dari angka, tapi dari berapa teman yang ia miliki"
Simpelnya begini, ketika kamu sukses, maka akan banyak sekali orang2 yang mengaku sebagai teman. Jadi ketika kamu bertambah tua, seharusnya kamu semakin banyak memakan asam garam kehidupan yang membuatmu bertambah sukses, dan (yang mengaku sebagai) temanmu pastinya juga lebih banyak. Begitulah siklus kehidupan. Semut saja suka mengerubungi gula yang manis, apalagi manusia.
Maka dari itu, inilah pentingnya memiliki teman dari berbagai kasta. Supaya kamu tau mana teman yang bisa diajak susah dan mana teman yang cuma bisa bikin susah. Mana teman yang bisa diajak senang dan mana teman yang maunya cuma waktu senang. Semakin banyak manusia yang kamu temui, kamu akan makin banyak belajar soal karakter manusia. Hingga pada akhirnya kamu bisa lebih selektif untuk membedakan mana yang bisa dipanggil teman dan mana yang bisa dianggap sahabat.
Karna satu sahabat jauh lebih berarti daripada seratus teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar