Selasa, 26 Februari 2019

Mandiri atau malah Memforsir diri sendiri ?

Aku dibesarkan oleh ibu yg seorang wanita karir, sehingga masa kecilku lebih banyak kenangan dengan eyang dan mbak dar daripada orang tuaku sendiri. Tapi bukan berarti aku tidak punya kenangan bersama mereka, ya.

Aku masih ingat, perjuangan ibuku yang berkutat mencari uang dari pagi sampai petang dan masih harus mengurusku sepulang kerja. Itu pasti berat, aku bisa merasakannya. Di setiap istirahat siang, ibu selalu menyempatkan diri untuk pulang menemuiku. Lalu tiap ibu akan kembali bekerja, aku selalu menyembunyikan sepatunya, supaya ibu gak bisa kerja dan dirumah saja menemaniku bermain.

Aku juga ingat ketika masuk SD, ada beberapa teman yang ditunggui oleh ibunya dari awal hingga pulang sekolah. Ibuku? Jelas tidak ada. Tapi ketika aku merengek, ibu menyempatkan untuk menungguiku di suatu sabtu. Aku senang. Tapi ibu tidak. Ibu bosan dan merasa bahwa menunggu adalah hal yg sia2. Karna anak ibu bukan cuma aku saja. Ada adikku yg masih bayi merah, yg lebih penting untuk dijaga. Jadi sabtu itu menjadi sabtu pertama dan terakhir ibu menungguku full time.

Juga ketika ibu pindah kerja yang mengharuskannya pulang lebih malam. Bahkan ibu harus lembur di hari sabtu. Hari dimana seharunya ibu bisa bermain dengan anak anaknya dirumah. Apalagi bapak pindah kerja ke juanda, sehingga domisili kami pun berpindah. Ibu harus rela tiap hari PP sidoarjo-surabaya. Sedangkan aku dititipkan di rumah eyang. Adek lebih kasian lagi, karna masa kecilnya habis dengan pembantu, tanpa pengawasan eyang.

Pernah di suatu sabtu yg terik, ibu menjemputku pulang sekolah. Khusus hari sabtu dan minggu, aku akan pulang ke sidoarjo, berkumpul dg adik setelah senin sampai jumat kuhabiskan menjadi anak eyang. Siang di hari sabtu itu, ban motor ibu bocor. Aku diminta turun dan menuntun. Sedangkan adikku yang masih TK dibiarkan bernyanyi diatas motor. Aku iri, karna adik tidak merasakan lelahnya berjalan. Lalu minggu depannya, ketika ibu menjemputku dengan adik, badanku demam. Ban motor ibu bocor lagi. Kali ini, karna aku sedang demam, aku tidak ikut turun dari motor. Ibuku seorang diri menuntun motor dengan aku dan adik diatasnya. Disitu aku merasa bersalah karna pernah iri dengan adikku. Ibuku pasti lelah. Dan aku sebagai si sulunglah yang harus meringankan bebannya. Karna si bungsu terlalu kecil untuk harus ikut berjalan. Itu bukti cinta ibu untuk kami.

Meski begitu, harusnya ibuku jangan terlalu pelit untuk mengganti ban motornya. Supaya tidak bocor tiap sabtu. Mandiri sih mandiri, tapi yaa jangan menyiksa diri sendiri juga.

Inilah yang akhirnya mendasariku untuk menulis blog ini. Tentang kemandirian yang akhirnya malah jadi memforsir diri sendiri. Adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita bisa melakukan segala sesuatu sendiri, kita boleh mencap itu sebagai mandiri. Tapi jika lalu semua hal mau kita lakukan sendiri dan menolak bantuan orang lain, bisa dibilang itu memforsir diri sendiri.

Ibuku adl seorang perempuan mandiri. Aku yakin ibu akan tetap survive jika harus menjadi single mother. Tapi lama kelamaan aku merasa ibu terlalu keras dalam menekan dirinya. Segala sesuatu dilakoninya hingga titik jenuh. Lalu ketika ibu lelah, beliau akan meledak dan semua kena imbasnya. Terutama aku, si sulung yg harusnya bisa meringankan pekerjaan ibu

Hal ini terlebih kurasakan setelah aku menikah dan punya anak. Ibu memiliki standar menjadi seorang istri dan ibu. Dan standar itu dipaksakan ke aku, yang sebenarnya juga memiliki standar sendiri. Bagi ibu, aku terlalu pemalas. Bagiku sendiri, kenapa harus ngoyo jika bisa dilakukan dengan santai? Toh tujuan sama sama tercapai?

Misalnya saja, untuk acara pupak pusar anak kami. Aku memutuskan untuk pesan makanan saja. Memang lebih mahal, tapi kan tidak perlu repot memasak. Apalagi aku masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Dan lagi, memiliki bayi itu butuh tenaga ekstra. Gak mungkin kita bisa masak besar sambil mengurus bayi sekaligus. Lebih baik pesan saja, toh selisihnya ngga banyak.

Tapi yang menurutku tidak banyak, bagi ibuku itu banyak. Ibu memaksakan diri untuk memasak. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika lelah, ibu meledak. Karna bagi ibu aku tidak mau membantu. Padahal aku sendiri pun sedang masa pemulihan. Hal hal macam ini yg seringkali menjadi perdebatan kami. Mengenai ibu yang memaksaku mandiri dan aku yang merasa ibu sedang memforsir diri sendiri.

Hal ini berlanjut, bahkan semakin parah, ketika aku memiliki anak kedua. Si sulung berumur 2 tahun ketika adiknya lahir. Dia sedang aktif2nya. Aku dibantu mertua untuk menghandle si sulung, sedangkan aku sibuk mengurus adiknya. Lalu ibu datang dan membantuku mengurus segalanya. Segalanya, termasuk si sulung. Ibu inginnya si sulunh di handel oleh ibu. Selain itu ibu juga akan brbelanja, memasak dan mengurus rumahku. Akhirnya ibu lelah. Dan ketika ibu lelah, ibu mengharap aku lebih mandiri dalam mengurus dan bertanggung jawab atas si sulung disaat tanganku sibuk mendekap si kecil.

"Sudahlah, bu. Si sulung titipkan saja ke mertua", kataku waktu itu. Tapi ibu menolak keras.

"Jangan, kasian mertuamu capek!"

Aku memutar bola mataku. Bermain dengan sulung adl hiburan untuk mertuaku. Dan beliau tidak keberatan dengan hal itu. Kenapa ibu selalu berusaha menghandle segalanya sendiri saat orang lain menawarkan bantuan?

"Sudahlah bu, jangan memforsiri diri sendiri. Ibu kasian dengan mertua, tapi ibu tidak kasian dengan diri ibu sendiri"

Ketika kubilang, ibuku lalu marah.

"Ibu masih kuat!" Kata beliau. "Nantilah mertuamu yang urus kalo ibu sudah tidak kuat"

"Nanti itu kapan? Nanti ketika petang? Ketika mertua tidak bisa diganggu karna khusyuk sembahyang? Akhirnya nanti ibu lagi yang akan kelelahan dan menghandle semua sendiri. Lalu ujung2nya, aku lagi yang bakal ngurusin. Bu, jangan lupa, anak ini masih punya ayah. Ayahnya juga harus mengurusnya"

"Kasian suamimu capek kerja"

"Pemikiran macam ini yang menjadikan lelaki itu oemalas dan perempuan jadi budak !" Maki ku dalam hati. Tak berani mengeluarkan uneg uneg ini karna takut dikutuk jadi tai.

Akhirnya ingatanku terbuka lagi. Selama ini kurasa yang berjuang hanya ibuku saja. Ketika ibu menuntun motor dengan ban bocor, dimana ayahku? Aku menemukannya asik bercengkrama di warung kopi. Dan hal yang sama terjadi padaku kini. Ketika aku sibuk mengganti popok anak anakku, ku temukan suamiku di warung kopi. Lalu pulang dengan keluh kesah lelah. Lelah, tapi bisa ngopi. Hebat.

Sempat aku protes, kenapa lelaki begitu tidak peka. Kenapa harus perempuan yang terus dituntut menjadi multi tasking. Lalu aku ingat lagi. Bapakku, yang kutemukan bercengkrama di warung kopi saat ibuku menuntun motor dengan ban bocor, sebenarnya sudah memenuhi tanggung jawabnya untuk mengganti ban lama dengan yang baru. Tapi ibu menolak. Karna ban lama masih bisa ditambal. Uangnya lebih baik untuk tambahan tabunganku dan adik saja.
Sama, ketika kutemukan suamiku asik di warung kopi saat aku sibuk mengganti popok yang bocor berkali kali, sebenarnya dia sudah melakukan tanggung jawabnya untuk membelikanku diapers. Hanya aku saja yang menolaknya dengan alasan, uang diapers lebih baik ditabung untuk anak2 saja. aku masih kuat mencuci.

Tanpa sadar, aku pun menjadi orang yang memforsir diri sendiri. Parahnya, aku kecewa karna terlalu berharap orang lain akan melakukan hal yg sama denganku, disaat sebenarnya mereka sudah menawarkan bantuan tapi justru ku tolak.

Aku tidak ingin menjadi seperti ibuku yang selalu terlihat kelelahan. Aku ingin menjalaninya dengan lebih santai, yang penting segala sesuatunya tercapai.

Karna manusia adl makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, maka Aku hanya ingin menjadi mandiri. Tanpa memforsir diri sendiri.

1 komentar: