Minggu, 28 April 2024

Farewell My Brother

Mas Piton sudah meninggal. 


Hal ini cukup menggoncang hati saya ketika berusaha terhubung kembali dengannya. Sepele. Karena drama korea Marry My Husband. Pemeran Jo Ji Hyuk tinggi sekali. Mengingatkan saya pada mas Piton. Saat itulah saya kembali membuka profil facebooknya dan melihat postingan terakhirnya berhenti di bulan November tahun 2020. Tentang ganja. 


Berusaha menghubunginya kembali, saya membuka inbox. Membaca chat lama dengannya. Membuat saya malu sendiri. Setiap kata-kata dari mas Piton selalu mengandung kebaikan. Tapi di tahun-tahun itu, saya hanyalah seorang gadis alay dan labil. Tidak bisa mencerna petuah-petuahnya. 


Pesan yang paling sering ia sampaikan adalah, fokuslah menyelesaikan kuliah. Jangan sampai urusan kuliah hancur hanya karena mengejar cinta. Bahkan meski orang yang kamu cinta tidak menghargaimu, masih ada orang lain yang peduli padamu dan menganggap kamu berharga. 


Tahun-tahun berganti. Saya melanjutkan hidup, menemukan cinta baru, menyelesaikan study, bekerja, menikah, menjadi ibu, dan menjadi fulltime housewife hingga detik saya menuliskan blog ini. Di chat saya dan mas piton pun masih terekam jejak digitalnya. Ia terus menanyakan kabar, yang seringnya tidak saya balas. Sudah jadi orang sibuk, katanya. Lalu kemudian percakapan berakhir di tahun 2015. Saya tidak membalas pesannya karena sibuk bekerja dan dia tidak mengirimkan pesan lagi karena tidak mau mengganggu kehidupan saya. 


Membaca chat lama, membuat saya mengingat kembali tentang mas Piton. Kami pertama bertemu di stasiun wonokoromo dalam perjalanan menuju Pantai Pangi, Blitar Selatan sekitar tahun 2006 atau 2007. Tiga jam lamanya saya terjebak berdiri di bordes belakang bersama pria setinggi 190cm. Dia berjaga dibelakang saya. Memastikan saya tidak terjungkal diantara penumpang yang penuh sesak. 


Usai kereta agak lengang, ia mencari tempat untuk saya duduk. Saya kelaparan. Dia membelikan saya keripik yang dijual pedagang asongan di kereta untuk mengganjal perut. Tidak hanya untuk saya. Semuanya ia bagi. Hingga kereta kami tiba dan sampailah kami di pantai Pangi. 


Mas piton tidak ikut tidur di dalam tenda. Berbekal sleeping bag yang menutup hingga bawah hidung, ia tidur di luar. Beralas matras, beratap langit malam penuh bintang. Katanya, ia ngorok, makanya takut mengganggu tidur orang lain. 


Ia tidak mau ikut saat kami susur gua. Baginya, lebih baik mati jatuh dari tebing tapi bisa melihat matahari, daripada mati di dalam gua yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun. Ternyata memang caving itu sulit. Beberapa medan harus ditempuh dengan jalan jongkok. Pasti sulit untuk pria dengan kaki panjang sepertinya. 


Di malam harinya, mas piton sempat membuatkan secangkir milo hangat khusus buatku. Ombak pantai di hadapanku. Langit malam penuh bintang diatasku. Pasir putih lembut dibawahku. Api unggun disampingku. Dan mas Piton memainkan gitar sambil menyanyikan lagu terlalu manis dari Slank di belakangku. Itu lagu slank pertama yang aku tau. 


Sepulang dari Pangi, kami masih beberapa kali berkomunikasi via sms. Aku yang saat itu masih SMA, sering terbangun tengah malam akibat mimpi buruk. Takut di kamar sendirian. Menelfon mas piton adalah solusi. sebab ia nocturnal, terjaga di malam hari dan tidur di siang hari. Ia selalu ada untuk meredakan rasa takut. 


Tapi kemudian mas piton menghilang. Dan hidup terus berlanjut. Tanpa terasa aku lulus SMA dan lanjut jadi mahasiswa di kota rantau. Jatuh cinta pada pria yang salah dan berkali kali patah hati. 


Seperti jailangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar, mas piton tiba-tiba muncul lewat facebook. Kami bertukar kabar via chat. Disitu pula aku menumpahkan segala curhat kegalauanku. Dia, seperti biasa, selalu tenang menghadapiku yang meledak karena rasa takut. Jika waktu SMA aku takut tidur sendiri, maka ketakutanku kali ini adalah aku takut ditinggal sendiri. 


Hingga di pertengahan 2011, kami berjodoh untuk bertemu kembali. Aku sempat menuliskan kemarahanku di sosial media. sebab ibu tidak mengizinkanku camping ke dlundung bersama adik sepupuku. Dan begitulah, mas piton mengajakku bertemu di SMA ku dulu lalu berlanjut ke sebuah tempat bernama Lembah Madu. 


Jika di chat facebook aku lebih banyak bercerita, maka saat kembali bertemu dengan mas piton, aku lebih banyak mendengar ia bercerita. Tentang pernikahannya yang gagal. Tentang perjalanan hidupnya yang kini merantau ke ibukota. Tentang kesukaannya pada komputer dan rencana usaha servis laptop yang dirintisnya bersama teman-temannya. 


Ada beberapa kalimat yang sepertinya menjadi jargon hidupnya. Enjoy The Moment. Monolog Kopi Hitam. Dan yang paling konyol, Mending Loro Ati Timbang Loro Silit. Alias lebih baik menjomblo daripada jadi homo. Haha. 


Dalam perjalanan menuju lembah madu. Ia bilang ini adalah tempat rahasianya. Tak banyak orang yang tau. Lokasinya berada tepat diatas air terjun kakek bodo. Dari titik itu, kita bahkan bisa melihat para wisatawan yang sedang bermain air dibawah kita. Air yang melintasi cerukan bening sedalam 2 meter. Cerukan yang sangat indah. Merayu untuk diselami, namun berbahaya karena jika terseret arusnya maka kita akan terjatuh dari atas air terjun. 


Keindahan memang menghipnotis dan tanpa sadar bisa menyeret kita dalam bahaya. 


Aku sempat kehilangan kontak motor. Namun ajaibnya, seorang pria datang membantu kami menyalakan motor tanpa kunci dan tidak meminta bayaran sepeserpun. Pria itu bilang, ini karena mas piton orang baik. Entah kebaikan apa yang sudah dilakukan mas piton hingga tuhan mengirim malaikatnya untuk membantu kami. Gratis. 


Itu terakhir kalinya kami bertemu. Setelah itu kami hanya bertukar kabar lewat chat facebook dan lama-lama kembali menghilang. Terutama karena aku yang sok sibuk. 


Pada bulan februari 2024, ketika aku berusaha menghubunginya lagi, instingku bergerak untuk mencari tau keadaannya sebab postingannya berhenti di bulan november 2020. Kupikir pada akhirnya dia menikah, punya anak, dan fokus pada keluarga hingga meninggalkan sosial medianya. Tapi sebuah postingan yang bahkan tidak muncul di wall facebooknya membuatku shock. 


Mas piton sudah meninggal. 26 november 2020. 5 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 35. Dalam keadaan syahid akibat virus covid yang mewabah. 


Aku tidak bisa merasakan hal lain selain sesak. Saking sesaknya, air mataku bahkan tidak menemukan jalan untuk keluar. Ia terbendung dalam hati. semakin lama semakin sesak. Dan aku tidak tau harus berbagi rasa sakit ini dengan siapa. Aku harus bercerita dengan siapa. 


Kucoba menghubungi beberapa kawan pecinta alam dari SMA ku. Mereka sudah lupa dengan mas piton. Karena kenangan mereka hanya sebatas pergi ke pantai dengan teman senior yang tingginya 190cm. Kucoba menghubungi seniorku, dan dia bilang kabar itu sudah cukup lama. Sudah lewat 1000 harinya. Seolah kematian mas piton sudah menjadi hal biasa untuknya. Bukan salah seniorku, tentu saja. Ia sudah melanjutkan hidup. Hanya aku saja yang bodoh karena baru tau. 


Rasa sesak penuh sesal itu kubuat untuk mencari tau informasi dari kerabatnya yang bisa ku akses. Tersambung. Kerabatnya memberi informasi tentang tempat dimana mas piton dimakamkan. Rupanya TPU dekat rumahnya. 


Februari menuju april. Hampir dua bulan aku menahan rasa sesak. Untunglah semesta masih mempertemukan kami. Ditemani suamiku, aku mencari nisannya diantara ribuan nisan lain. Kubersihkan kuburnya. Kutaburkan bunga. Kukirim alfatihah tiap hari sebanyak 7x. Entah akan sampai atau tidak, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuknya. Untuk menebus rasa bersalah atas waktu yang hilang. 


Mas piton masih belum menikah. Ia sempat gagal lagi untuk yang kesekian kali. Tapi toh ia tetap menjalani hidup seperti apa adanya. Tetap menebar kebaikan dalam tiap kata-katanya. Tetap menyesap rokok dan kopi hitam. Tetap enjoy the moment. Hingga waktunya tiba. 


Farewell, mas piton. Kini kau telah berkelana hingga ke puncak keabadian. Semoga menemukan bidadarimu disana. We'll be missing you. Always. 


Al fatihah... 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar